
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
Sama Indahnya
_Raisa - Kali Kedua_
_________________________________
"Kalian berdua harus hidup bersama dan berbahagia..." Roni mengakhiri ucapan sekaligus doanya untuk kebahagiaan Ella dan Ardi.
"Makasih...Makasih banyak ya Ron, semoga kamu juga lekas menemukan kebahagiaan untuk dirimu." Ella benar-benar terharu dengan apa yang barusan dilakukan Roni untuknya. Kedua mata Ella kembali berkaca-kaca dibuatnya. Tak menyangkan Roni bisa melakukan hal-hal yang hanya ada di novel dan drama-drama koreya.
"Thanx ya...and sorry for every stupid things that I've done to you." Ardi juga mengucapkan terima kasih dan permintaan maafnya pada Roni.
(*Makasih ya...dan maaf untuk segala hal bodoh yang yang pernah kulakukan padamu.)
Ardi juga tak mengira Roni yang beberapa bulan lalu begitu emosional sekarang bisa se-gentle ini memperlakukan Ella. Pria itu telah mengakhiri hubungan mereka dengan sangat indah sehingga tidak akan menjadikan suatu penyesalan di hati mereka pada kemudian hari.
"Same goes for you. Sorry for all my selfish stupid things that I've done to both of you...Wish you can live hapily ever after." Roni menjawab ucapan Ardi.
(*Sama saja. Maaf untuk segala keegoisanku dan kebodohan yang sudah kulakukan pada kalian berdua...Semoga kalian hidup berbahagia bersama selamanya).
Ardi dan Ella mengangguk mantap bersamaan sebagai jawaban kepada Roni. Mereka berjanji dalam hati akan menjalani hidup bahagia, saling membahagiakan satu sama lainnya. Untuk mereka sendiri dan untuk Roni juga.
Selanjutnya Roni berlalu, pamit meninggalkan mereka berdua. Melajukan mobilnya pergi meninggalkan halaman rumah Ella.
Meniggalkan Ella dan Ardi yang masih berdiri berdua dengan berpegangan tangan. Keduanya saling bertukar pandangan dan senyuman, lega sekali rasanya.
Akhirnya setelah sekian purnama mereka dapat bersatu kembali. Tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi, tanpa dihantui perasaan bersalah karena hubungan yang tidak semestinya.
You can go wherever you want
In the end you'll always come back
To those who are really meant for you
(*Kamu dapat pergi kemanapun kau mau
Tapi pada akhirnya kamu akan selalu kembali
Kepada seseorang yang telah ditakdirkan untukmu)
"El, udah malem ni. Kamu masuk rumah aja deh nanti dikirain aku bawa kamu pulang kemalaman lagi." Ardi mengingatkan Ella. Masih sedikit trauma dua kali ketahuan anterin Ella pulang malam-malam. Dan langsung kepergok Pak Bowo lagi, apes bener.
"Mas Ardi pulang duluan saja. Kayaknya capek kan belum pulang dari kerja sejak tadi pagi. Aku masih ingin jalan-jalan." Ella tahu benar kebiasaan pulang kantor Ardi yang sering molor dan kemalaman.
"Emangnya gak pa-pa kamu belum pulang jam segini?" Ardi bertanya khawatir.
"Gak pa-pa kok, hari ini aman. Aku udah ijin pulang malam untuk hari ini. Aku juga nyuruh papa dan mama tidur duluan, gak usah nungguin aku pulang."
"Lho kok gitu? Emangnya ada acara apa malam ini?"
"Ya gak ada apa-apa si cuma mau menenangkan diri saja setelah kejadian tadi. Jalan-jalan gak tentu arah, cari udara segar. Mendinginkan kepala agar bisa kembali berpikir jernih besok." Ella berniat jalan-jalan santai keliling kompleks perumahannya untuk sekedar cari angin, cari kesegaran.
"Aku temenin deh kalau gitu. Bahaya cewek-cewek keluyuran malam begini." Ardi tidak suka dengan ide Ella. Ngapain coba keluyuran gak jelas gitu?
Dan benar saja Ella ternyata melalukan jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas. Ardi pun mau tak mau jadi ikutan berjalan mengimbangi langkah gadis itu. Berjalan beriringan dengannya. Mereka pun mulai ngobrol ringan sambil terus berjalan perlahan bersama-sama.
"Kamu sering keluyuran tengah malam begini?" Ardi bertanya tidak senang dengan kebiasaan Ella ini.
"Nggak juga. Kalau pas pikiran lagi butek aja."
"Kan bisa dipikirin di rumah saja, lebih aman."
"Kalau di rumah, bisa bikin cemas mama dan papa. Kalau masuk kamar juga pasti bakalan melow dan nangis-nangis. Bikin pikiran makin butek saja."
"Emang kamu mikirin apa lagi si? Bukannya semua masalah udah clear ya?" Ardi semakin tak habis pikir dengan jalan pikiran Ella.
Apa semua cewek kayak gini ya? Pikirannya selalu bercabang kemana-mana. Bahkan sesuatu yang gak penting kadang juga dipikirin. Terus tau-tau stress sendiri? Gimana cowok bisa ngertiin coba?
"Roni...kasian sekali dia..." ujar Ella sedih.
Nah kan ternyata beneran mikirin Roni. Gak penting banget kan? Mikirin cowok lain saat lagi jalan bersamanya, membuat Ardi semakin kesal saja. Udah putus ya putus aja. Bukannya tadi sudah diakhiri dengan indah? Ngapain dipikirin lagi?
"Ya aku tahu," Ardi menjawab singkat.
"Aku jahat banget sama dia..."
Ardi diam kali ini, bingung mau jawab apa. Yah emang jahat si kalau dilihat dari sisi Roni. Tapi kalau dilihat dari sisi dirinya atau Ella hal ini sudah sewajarnya terjadi. Karena bisa dianggap Roni lah yang menjadi orang ketiga diantara hubungan Ardi dan Ella yang saling mencintai.
"Dia sudah berjuang terlalu lama untukku. Tapi apa yang dia dapatkan? Patah hati untuk kali kedua."
"Emang mas Ardi udah melakukan apa?"
"Aku juga berjuang bikin bisnis park itu. Buat apa coba? Buat kamu, buat deketin kamu."
"Berjuang apanya, yang mas Ardi lakukan kan cuma untuk nambahin kekayaan dan kejayaan keluarga kalian saja. Nambahin aset dan harta Pradana Group tepatnya. Deketin aku kesini cuma jadi alasan sampingan kan?" Entah mengapa Ella malah mengungkit masalah harta Ardi kali ini.
Padahal biasanya Ella sama sekali tidak perduli dengan segala harta kekayaan yang dimiliki oleh Ardi. Tapi jujur saja beberapa waktu ini Ella juga mulai penasaran dengan segala aset dari Pradana Group. Bagaimana pun juga jika nantinya Ella menjadi pasangan Ardi, dirinya harus tahu tentang semua itu kan?
Akhirnya Ella mencari-cari informasi. Dan semakin banyak informasi yang didapatnya semakin mengerikan saja rasanya melihat jumlah aset dan kekayaan keluarga Pradana ini.
"Kok kamu ngomong kayak gitu?" Ardi merasa tidak senang dengan perkataan Ella. Seolah gadis itu meragukan ketulusannya untuk kembali ke sisinya.
"Logikaku kayak gini, mas Ardi itu udah jadi bos di perusahaan-perusahaan Pradana di Banyu Harum. Terus ini nambahin bikin baru di Surabaya. Intinya nambahin kekayaan mas Ardi kan?"
"Kamu ingin tahu tentang perusahaanku?" Ardi heran kok tiba-tiba Ella tertarik dengan masalah hartanya. Padahal biasanya gadis ini sama sekali tidak perduli dengan status kesultanannya.
"Ya kalau boleh si." Ella menjawab ragu-ragu. Jangan-jangan Ardi salah mengira dirinya ingin menyelidiki hartanya untuk kepentingan pribadi? Ingin kembali kepada Ardi karena kekayaan pria itu? Apa Ardi menganggap dirinya cewek matre?
"Sini dulu deh," Ardi menarik tangan Ella untuk ikut berjalan ke arah mini market yang ada di seberang jalan. Mendudukkan Ella di salah satu kursi di depan mini market itu. Kemudian Ardi masuk ke dalam toko. Meninggalkan Ella yang kebingungan dengan sikap dari Pria itu.
Tak lama kemudian Ardi kembali dengan kantong plastik belanjaannya. Diambilnya dari dalam kantong sekotak besar coklat bites dan diletakkan di meja di hadapan Ella. Diambilnya lagi sebuah minuman copi kalengan untuk diletakkan disisinya dan terakhir sebuah es krim magn*m.
"Ni buat kamu biar adem." Ardi menyodorkan es krim itu pada Ella. "Mau ngademin kepala kok susah amat pake jalan-jalan gak jelas gitu. Makan es krim aja bisa adem kan?" Ardi mengerutu.
Ella menerima es krim itu sambil tersenyum geli. Bisa-bisanya mas Ardi mikirin cara buat ngademin kepala pakai Es krim? Teori dari mana coba?
"Hmm...enak, adem banget. Makasih ya," Ella membuka es krimnya dan menjilatinya, menikmati rasa manisnya. Sengaja berterima kasih dengan sedikit lebai untuk menyenangkan hati Ardi.
"Tu masih banyak di kantong kalau mau lagi." Ardi menunjuk kantong Plastiknya.
"Emang beli es krim berapa?" Ella keheranan melihat belanjaan Ardi yang terlihat banyak. Jangan-jangan es krim semua isinya?
"Bingung milihnya. Semua bentuk dan rasa aku ambil aja. Biar kamu makin adem kan?" Ardi menjawab dengan nada santainya.
Nah ini kumat sultan mode diaktifkan. Bisa-bisanya dia beli es krim sebanyak itu? Memang murah si dan gak bakal bikin si sultan bangkrut. Tapi siapa yang makan coba? Kan bisa lumer kalau kelamaan didiemin tanpa dimakan? Mubazir banget kan.
"Terus siapa yang makan sebanyak itu?" Tanya Ella menahan tawanya.
"Ya kamu lah. Aku kan gak doyan yang terlalu manis-manis." Ardi membuka kaleng kopinya dan menyesapnya beberapa teguk.
"Hahahaha makasih lho ya..." Ella tertawa garing memikirkan nasib es krim lumer yang nanti akan menjadi jatahnya.
"Terus tadi kamu mau nanya apa soal perusahaanku?" Ardi menanyai Ella. Penasaran dengan apa yang ingin diketahui Ella.
"Ya kalau boleh si..." Ella menjawab ragu-ragu.
"Boleh? Apa yang gak boleh buat calon nyonya Ardi Pradana? Kalau kamu jadi istriku, anggap saja semua milikku adalah milikmu juga." Lagi-lagi Ardi menjawab dengan tanpa beban.
Sementara Ella dibilang calon nyonya Ardi saja sudah mampu memerahkan wajahnya. "Ya gak bisa begitu juga kan mas?" Ella negri juga membayangkan aset seharga milyaran rupiah akan menjadi miliknya.
"Lho katanya uang suami adalah uang istri? Sementara uang istri adalah uangnya sendiri. Jadi uangku ya uangmu nanti."
"Duh mikirnya kok udah kesana-sana sih...Kejauhan mikirnya." Ella sudah sangat malu meneruskan pembicaraan suami istri ini.
"Aku serius sama kamu, El. Bahkan lebih serius daripada yang dahulu. Aku gak mau kehilangan kamu lagi. Aku ingin menjalin cinta lagi denganmu untuk kali kedua." Kali ini Ardi berkata dengan sangat serius. "Kamu mau kan jadi kekasihku lagi?"
"Aku baru saja putus sama Roni, mas. Masa langsung jadian sama mas Ardi? Kasih waktu sedikit donk buat menata hatiku." Ella meminta waktu.
"Ok, besok aku tembak lagi ya..."
"Ya nggak besok juga kali!" Ella memprotes.
"Terus kapan donk? Aku kan sudah kangen manggil kamu honey lagi." Ardi gak mau kalah.
"Hahaha dasar..." Ella benar-benar kalah berdebat. "Aku mau nanya tujuanmu membuat bisnis park itu." Ella mengalihkan pembicaraan mereka.
"Waktu putus sama kamu, aku menjadi setengah gila. Aku bahkan berpikir untuk meninggalkan keluargaku. Aku ingin melepaskan segala kepemilikanku atas semua aset. Kupikir dengan begitu mama tak akan bisa memaksakan urusan asmaraku lagi. Tapi aku gak bisa melakukannya. Kenapa?"
"Karena keadaan perusahan sedang kacau saat itu. Papa sedang sakit, Laras perempuan, dan Linggar masih terlalu muda. Mau tak mau harus aku yang memegang semuanya sekaligus. Kemudian setelah semuanya stabil, aku berniat membuat bisnis park di Surabaya. Perusahaanku sendiri."
"Untuk melebarkan kekuasaan kan?" tanya Ella.
"Bukan begitu. Aku bikin perusahaan baru di Surabaya murni agar aku bisa dekat sama kamu. Asal kamu tahu saja, seluruh perusahaan di Banyu Harum rencananya mau aku lepas semua jika mama tetap tak mau merestui hubungan kita. Aku cuma akan ngurusin yang di Surabaya saja."
"Mas Ardi mau melepas semuanya?" Ella kaget juga mendengar Ardi rela melepas hartanya demi dirinya.
"Kenapa? Nyesel karena aku ternyata miskin?" Ardi tersenyum menggoda Ella.
"Miskin banget ya hahaha." Ella tertawa garing.
"Tenang aja, El. Mama sudah gak menentang hubungan kita lagi. Jadi aku masih agak kaya dikit." Ardi ikutan tertawa menggoda Ella.
"Masih cukup kok buat modal nikah. Buat bayar KUA, beliin kamu gaun, buat booking MUA, buat sewa gedung, buat bayar katering masih sanggup kok."
"Iiiihhhh apaan si mas Ardi." Ella semakin malu dan salah tingkah menanggapi godaan nakal Ardi. Dan Ardi langsung ngakak melihat reaksi Ella.
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼