
Lima hari berlalu sejak Ella dan Ardi menghabiskan week end di Surabaya. Ella seperti biasa siap siaga di IGD puskesmas Sobo dari pagi. Berjaga-jaga kalau ada pasien gawat darurat yang sekiranya membutuhkan bantuannya. Dan hari ini seperti hari-hari sebelumnya aman. Cuma ada satu pasien dengan luka ringan yang langsung bisa dikerjakan sendiri oleh Mirza, perawat yang jaga hari ini. Bahkan tanpa bantuan dari Ella. Cuma advice tindakan, ngasih resep sama nulis medical record doank kerjaan Ella.
"El, herdermu kok udah lima harian gak kliatan batang idungnya?" Roni tiba-tiba udah nongkrong di kursi konsultasi pasien di depan Ella. Emang kebiasaan deh cowok ini kalau jam istirahat selalu nongkrong di IGD.
"Kenapa? Kamu kangen ya?"
"Enggak si. Kali aja udah bosen jadi herdermu, aku siap gantiin hehe" Jawab Roni santai.
"Enak aja!" Ella bersungut menjawabnya. Sedikit heran juga mendengar Roni berani terang-terangan menggodanya. Tumben banget dia kayak gitu? Apa karena Roni mengira Ella udah putus dengan Ardi?
"Gak ada Ardi juga gak enak sih. Gak ada yang beliin makan siang gratis hehe." Roni menyeletuk. "Eh mas Mirza, gak pengen beli makan siang? aku nitip donk." Lanjutnya bertanya pada Mirza samg perawat.
"Lagi kere dok. Jaspel (Jasa Pelayanan) belum cair ni." Jawab Mirza memelas.
"Duh kasian amat si mas, ni aku traktir. Beliin nasi bungkus ya buat kita bertiga. Sama es teh." Roni menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada Mirza. Dan mirza langsung kesenangan pergi ngacir mencari makan siang untuk mereka.
"Aku kadang heran lo, kenapa kesejahteraan tenaga medis itu rendah sekali ya." Ella berkata setelah Mirza pergi. Memang tak jarang dirinya mendapati para perawat dan bidan yang memiliki gaji jauh dibawah Upah Minimum Regional (UMR).
"Iya padahal beban kerja dan resiko kita sebagai tenaga medis sangat besar. Penghargaan yang diberikan kepada kita kabanyakan tidak sebanding dengan apa yang telah kita lakukan. Entah yang salah siapa kalau kayak gini." Roni ikut menyetujui ucapan Ella.
"Di negara lain tenaga medis jauh lebih dihargai dan dijunjung tinggi. Disini kita kerja bagaikan kuli. Dengan gaji yang tidak pantas. Kadang sampai ada yang nyeletuk gak papa deh gak dapat gaji di dunia nanti dapat balasan di akhirat aja. Miris dengernya" Ujar Ella sedih memikirkan nasib teman-teman sejawatnya sesama pejuang kemanusiaan.
"Kalau kata emak-emak si cari barokahnya aja. Dapat seberapa pun disyukuri. Sukurin dah sukurin trus, auto miskin tuh seumur hidup hahahah." Roni ikut tertawa miris.
Pembicaraan mereka berhenti saat sebuah mobil merah berhenti tepat di depan pintu masuk IGD. Mobil yang sudah tidak asing lagi, mobil merah Ardi. Kok tumben-tumbennya mas Ardi mampir tanpa kasih kabar dulu? batin Ella keheranan. Sejak pulang dari Surabaya memang mereka sama sekali belum pernah ketemu.
Sesuai prediksi Ardi, dirinya menjadi sangat sibuk untuk menggantikan tiga hari ketidak hadirannya pada saat week end kemarin. Alhasil selama lima hari ini mereka berdua benar-benar sukses menerapkan program jaga jarak yang dicanangkan oleh papa Ella. Hanya berhubungan lewat ponsel saja setiap harinya untuk melepas rindu.
"Waduh si herder galak datang ternyata." Roni menyeletuk saat melihat mobil merah itu.
Ella hanya tersenyum mendengar ucapan Roni. Lalu beranjak mengemasi barang dan tas nya. Berjalan ke parkiran untuk menghampiri mobil merah itu.
Betapa kagetnya Ella saat membuka pintu mobil yang didapatinya duduk di kursi kemudi bukanlah Ardi. Melainkan Cindy.
"Cindy?" tanya Ella keheranan. Kan jadi bingung harus masuk apa nggak ke dalam mobil kalau kayak gini.
"Masuk nona Ella." Cindy menyapa Ella dan menyuruhnya memasiki mobil.
"Panggilnya gak usah nona donk. Ella aja, atau mbak juga gak apa-apa." Ella memprotes sambil mengambil duduk di kursi sebelah driver. Cindy langsung melajukan mobil tanpa mengomentari perkataan Ella.
"Kita mau kemana?" Ella bertanya penasaran. Apa Ardi yang menyuruh Cindy untuk menjemputnya? Kenapa bukan menyuruh supir saja? kan jadi canggung kalau Cindy yang menjemputnya.
"Pak Ardi sakit, El." jawab Cindy singkat. Rupanya masih terlalu canggung untuk berbicara berduaan dengan Ella.
"Sakit? Sakit apa?" Mau tidak mau Ella menjadi khawatir mendengar kabar Ardi sakit.
"Gak tahu. Tadi pagi ngasih tahu kalau dia gak enak badan. Gak masuk kerja. Kalau ada yang perlu ditanda tangani suruh bawa ke rumahnya." Cindy menjelaskan, detail kali ini.
"Pasti kebanyakan lembur itu orang." Ella menerka-merka penyakit Ardi kira-kira apa.
"Iya mau bagaimana lagi. Kita dikejar date line soalnya. Sebelum bulan depan beberapa perusahaan sudah harus atas nama Pak Ardi."
"Kok kayaknya buru-buru gitu sih?" Ella bertanya sedikit menyelidik.
"Sebenernya ada sedikit masalah di perusahaan utama. Agak ribet jelasinnya. Intinya saya jemput kamu buat ngerawat pak Ardi biar cepet sembuh dan bisa kerja lagi."
"Mungkin dia cuma butuh istirahat." Ella mau tak mahu jadi sedikit kasihan dengan Ardi. Sakit-sakit gitu masih harus ngurusin kerjaan juga? Apaan coba ngerawat biar cepet sembuh dan cepet kerja lagi? Emangnya tubuh Ardi terbuat dari robot? Ini Cindy juga kejem bener dah sama bosnya.
Begitu sampai di rumah Ardi seorang pelayan paruh baya membukakan pintu untuk mereka. Mempersilahkan masuk. Sejak kapan Ardi membiarkan pelayannya stay di rumahnya?
"Pak Ardi gimana bi?" tanya Cindy pada pelayan itu. "Tolong siapkan makan siang buat non Ella dan bubur buat Pak Ardi juga."
"Pak Ardi, ada di kamarnya. Non Cindy dipersilahkan langsung naik aja katanya...Baik non akan saya siapkan." Sang bibi beranjak kembali ke dapur.
"Sejak kesibukan Pak Ardi mulai padat, bu Kartika memaksakan Bi Ijah untuk kerja dan stay di rumah ini buat ngurusin segala keperluan Pak Ardi." Cindy menjelaskan seakan menjawab pertanyaan Ella dalam hati. Mereka berdua menaiki tangga ke lantai dua dan Cindy mengetuk pintu kamar yang diketahui Ella sebagai kamar Ardi.
"Masuk..." jawab Ardi dari dalam kamar.
Cindy dan Ella langsung memasuki ruangan kamar. Ardi duduk di sofanya dengan masih mengenakan piyama berwarna merah maroon. Dia bersandar di sofa, kelihatan sedikit lemah dan pucat sambil memejamkan matanya. Hati Ella langsung meronta, kasihan dan tak tega melihat Ardi.
Ardi terlihat sedikit heran dengan kehadiran Ella, tapi tidak memprotes. Terlalu lemah untuk sekedar memprotes tindakan Cindy yang diluar perintahnya ini.
"Pak Ardi sakit apa?" tanya Cindy.
"Demam, dan pusing banget tadi pagi."
"Sudah minum obat?" sekretaris yang baik siap sedia menanyakan keadaan atasanya.
Cindy mengeluarkan map yang daritadi dibawanya. menyodorkan beberapa lembar dokumen ke hadapan Ardi.
"Ada yang perlu ditanda tangani?" Ardi bertanya sambil menekan pelipisnya. Udah pusing makin pusing kayaknya liat dokumen.
"Saya bawakan yang mendesak saja. Beberapa kontrak kerja dan fraktur pembelian serta pencairan gaji karyawan harian." Cindy dengan cekatan mendekati Ardi. Menyodorkan dokumen-dokumen tadi di pangkuan Ardi dengan beralaskan mapnya. Memberi sebuah bolpoint ke tangan Ardi dan menunjukkan bagian mana saja yang perlu ditanda tangani.
"Udah?" Ardi terlihat lega setelah lembaran-lembaran yang harus di tanda tanganinya habis.
"Sudah pak. Untuk meeting dan kegiatan bapak saya kosongi dulu sampai hari senin. Untungnya sekarang hari jumat jadi bapak bisa dapat long wek end untuk istirahat." Cindy memberikan kabar baik kali ini.
"Ok, u may go now. Thanx"
(*Ok. Kamu boleh pergi sekarang. Makasih)
"Baik pak saya kembali ke kantor dulu." Pamit Cindy mengemasi dokumennya dan meninggalkan kamar Ardi.
Tinggallah sekarang Ella dan Ardi berduaan saja di dalam kamar itu. Belum sempat Ella menyapa tiba-tiba saja Ardi sudah berdiri dari sofanya, lari terburu-butu ke kamar mandi. Dan Ella dapat mendengat dari tempatnya berdiri suara pria itu muntah-muntah disana. Aduh kasian banget, kanyaknya mas Ardi masuk angin, atau gangguan pencernaan ya kok sampai muntah gitu? Ella merasa sedih dan prihatin.
Tak lama kemudian Ardi kembali dari kamar mandinya, makin lemes kelihatannya. Pria itu berjalan dengan sedikit gontai kembali ke duduk sofanya tadi. Menyandarkan punggung dan kepalanya ke sandaran sofa, mengatur napasnya yang tidak teratur.
"Bisa tolong ambilin air minum El?" Pinta Ardi pada Ella.
Ella seakan tersadar dari lamunannya. Dari tadi cuma cuma bisa bengong aja ngeliatin Ardi dari jauh. Kasihan dan rasanya tak tega melihatnya seperti itu. Ardi yang biasanya selalu aktif, ceria dan hobi menggodanya.
Ella mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan. Mencari-cari dimana letak air minum. Langsung saja dihampirinya pitcher set berisi air putih di atas coffe table di disebelah ranjang. Dituang dan diambilnya segelas air dan diberikan kepada Ardi. Ardi meminum segelas air itu pelan-pelan, cuma dihabiskan setengahnya saja. Ella segera mengambil gelas dari tangan Ardi, mengamankan dan meletakkannya di meja yang ada di sebelah sofa.
"Sini..." Ardi menepuk sofa tepat disebelahnya duduk, memerintahkan Ella duduk disana.
Tanpa menjawab Ella menurut saja duduk disana, disamping Ardi. "Boleh aku periksa?" tanyanya sedikit canggung.
"Silahkan..." Ardi nurut saja, terlalu lemes untuk menolak. Duh pasrah banget ini mas Ardi. Gimana kalau aku keterusan pegang-pengang dan toel-toel coba? Ella sedikit gugup dan panik mendapati Ardi sepenurut itu, manis banget.
Dengan cekatan Ella memeriksa dari Ardi, panas banget. Paling 38 derajat celcius lebih ni. Mata dan bibir terlihat pucat dan terasa dingin di bagian ekstrimitas luar seperti telapak tangan dan kaki. Pemeriksaan berlanjut ke arteri radialis di pergelangan tangan Ardi, dirabanya disana.
Denyut nadi Ardi terasa sedikit lambat, tidak stabil dan tekanan darahnya pasti rendah sekarang. Ella memang tidak dapat menentukan dengan pasti berapa tepatnya, tapi sesuai perkiraan Ella paling gak sampai 90/60 mmHg. Pantesan lemes dan mual gitu. Pasti hypotensi ini, penyakit yang sering diderita oleh orang dengan pola hidup tidak sehat. Kurang tidur dan kurang istirahat tentu menjadi pemicu utamanya.
"Bukannya aku udah bilang mas Ardi jangan kebanyakan lembur. Jaga diri, jaga kesehatan baik-baik. Kok malah jadi kayak gini?" Tanpa disadarinya Ella mulai ngomel-ngomel seperti memarahi pasien yang bandel.
"Cuma kecapekan. Biasanya dipake istirahat sebentar juga sembuh"
"Harus bed rest total pokoknya hari ini dan besok. Gak ada yang namanya kerjaan lagi."
"Ok honey. Makasih ya udah datang. Satu penyakit sembuh deh."
"Hah? penyakit apa?
"Meriang. Merindukan kasih sayang"
"Doh ini orang sakit-sakit masih bisa genit aja." Ella gemas menghadapi kejahilan Ardi yang ternyata masih ada aja. Dicubitnya pelan lengan pria itu saking gemasnya.
"Aduh, aku pasien El. Ingat, pasien yang perlu dirawat oleh dokter Ella tercinta."
"Iiiiih apaan si?" Ella makin gemas mencubiti lengan Ardi.
"Aku kangen El. Lima hari gak ketemu aja udah sekangen ini ama kamu"
Ella hanya diam tak sanggup menjawab, hanya bisa memandang wajah Ardi yang bersandar di kursinya. Yah memang mereka berdua sedikit menjaga jarak sejak kejadian di Surabaya kemarin. Ardi seakan ingin memenuhi janjinya pada papa Ella untuk menjaga anak gadisnya itu.
Menjaga hubungan mereka tetap sehat tanpa banyak interaksi fisik yang tidak perlu. Dan rasa tidak nyaman dan kehilangan ini sebenarnya juga dirasakan oleh Ella. Mereka yang biasanya setiap hari bertemu meski hanya untuk makan siang bersama. Sekarang harus menahan dan berpikir ulang sebelum memutuskan untuk bertemu satu sama lain. Sungguh tidak nyaman dan menyiksa rasanya.
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
* Suhu tubuh manusia yang normal bisa berada di antara 36,5-37,2 derajat Celcius.
- Suhu tubuh yang terlalu rendah dapat mengancam jiwa karena memperlambat sistem kerja saraf dan berujung pada kegagalan fungsi organ jantung dan pernapasan, serta kematian.
- Suhu tubuh yang terlalu tinggi juga dapat berbahaya. Orang dewasa dengan suhu tubuh 39,4 derajat Celcius atau lebih dan anak-anak dengan suhu tubuh 38 derajat Celcius atau lebih disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter.
*Hypotensi adalah Tekanan darah rendah, yang dapat menyebabkan pingsan atau pusing karena otak tidak menerima darah dalam jumlah cukup.
Secara umum, orang dewasa dikatakan memiliki tekanan darah normal jika angkanya berada di atas 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg.
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼