Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
71. Bromo Mountain


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Ardi sudah hadir di kontrakan Ella. Dia mampir kesana sebelum berangkat ke kantornya. Ella menyambutnya dengan sedikit bingung, ngapain ini orang pagi-pagi datang? Malah aku belum mandi lagi, masih bau apek gini.


"Mas Ardi ngapain pagi banget?" tanya Ella.


"Kayaknya harus sering-sering kesini pagi-pagi ni." Ardi cengingisan melihat Ella dengan penampilan bangun tidurnya. Dasar anak ini, bahkan gak repot-repot dandan dan touch up dulu sebelum bukain pintu buat tamu.


"Hah? Ngapain pagi-pagi kesini?" Ella bingung.


"Biar bisa lihat kamu dengan muka bantal gini. Lucu banget asli hehe."


"Yaudah kan udah lihat. Dah, pulang sana," usir Ella kesal, menutup daun pintu.


"Lho, lho El! Jahat banget main usir aja." Ardi menahan daun pintu itu dengan tangannya agar tidak dapat menutup.


"Katanya cuma pengen lihat muka bantal?"


"Nggak. Ada yang lainnya...Gak disuruh masuk ni?" Ardi sedikit memohon.


"Yaudah silahkan masuk." Ella akhirnya mengalah. Mempersilahkan Ardi masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Mau minum apa?"


"Black coffe, pakek susu, gulanya satu sendok teh aja."


"Detail bener? Dikira warung kopi ya?"


"Lha kan tadi ditanya request apa."


"Oke oke..." Ella pun memgalah, berlalu ke dapur dan menyeduh air, membuat kopi susu sesuai permintaan Ardi.


"Mau keluar sebentar? Sarapan pagi." Ardi menawarkan saat Ella kembali sambil membawa secangkir kopinya.


"Mas Ardi belum sarapan? Gak dimasakin bi Ijah?" Ella penasaran. Tumben-tumbennya Ardi berangkat kerja tanpa sarapan pagi.


"Bosen masakan Ijah. Pengenya si masakan kamu..."


"Beneran? Mau nasi goreng? Ala chef Ella?"


"Hah? Yakin bisa dimakan?"


"Gak jadi deh. Pasti kalah jauh dari masakan Bi Ijah." Ella mengaku kalah.


"Lho kan belum dicobain. Ayo bikinin aku sarapan. Masakan kamu Pasti enak. Kan rasa cinta. Nasi goreng rasa cinta." goda Ardi.


"Ok. Tunggu sebentar aku bikinin. Siap-siap obat diare ya abis makan ntar."


"Hahahaha tega banget kamu masak mau ngeracunin aku."


Dan Taraaaa beberapa menit kemudian jadilah tiga porsi nasi goreng putih dengan bumbu minimalis gabungan bawang putih, margarine, garem, irisan cabe dan merica bubuk. Ditambah dengan topping sosis, sawi dan telur orak arik. Bahan-bahan yang ada di kulkas anak perantauan. Sederhana, tapi lumayan lah bisa dimakan.


Ella menyiapkan tiga piring nasi goreng dan tiga gelas lemon tea hangat di atas meja sebelum memanggil Ardi ke ruang makan.


"Wah dari baunya kayaknya enak ni." Ardi sudah bersemangat duduk menghadap nasi goreng rasa cinta bikinan Ella.


"Jujur aja kalau gak enak. Aku gak bakal marah kok." Ella sadar diri level masakannya kalah jauh dari masakan bikinan Bi Ijah. Bahkan mungkin kalah sama masakan bikinan Ardi sendiri yang udah sekelas koki profesional.


Ardi menyendok nasi gorengnya dan langsung memakannya sesuap, dua suap dan keterusan. "Enak, enak kok. Rasanya simple cocok buat menu sarapan. Bener-bener sesuai sama yang bikin. Simple."


"Masa? Beneran enak? Gak usah bohong. Kalau gak enak bilang aja."


"Kalau gak enak atau gak bisa dimakan ya gak bakal aku makan. Kau tau sendiri kan?"


Ella tak menjawab, memang Ardi termasuk pemilih soal makanan. Karena dianya sendiri pinter masak, jadi suka menilai-nilai masakan kurang ini kurang itu. Tak harus mahal dan dari restoran yang bagus si. Tapi yang penting rasanya enak, kalau gak cocok sama seleranya dia gak bakal mau makan.


Ella pun ikut menyantap nasi goreng bikinannya, emang lumayan kok. Enak, sehat dan bisa dimakan tentunya.


"Lho ada tamu pagi-pagi." Intan keluar kamarnya dengan muka bangun tidur juga. Sedikit kaget melihat Ardi yang sudah duduk menyantap sarapan di meja makan.


"Halo, selamat pagi," sapa Ardi.


"Pagi..." Intan dengan cueknya mengambil jatah nasi gorengnya dan ikutan nimbrung duduk di kursi meja makan. Menjadi orang ketiga diantara mereka. Mereka bertiga melanjutkan sarapannya dalam diam.


"Udah ya, makasih sarapannya. Aku berangkat kerja dulu." Ardi pamit setelah menghabiskan menu sarapannya. Beranjak ke luar rumah kontrakan dengan Ella mengikutinya dari belakang. Ardi masuk ke mobilnya dan keluar lagi untuk menyerahkan sebuah papper bag pada Ella.


"Bayaran sarapan tadi," ujarnya pada Ella yang sedikit keheranan menerima tas itu. "Hati-hati nanti ke Bromo-nya. Disana lagi dingin-dinginya sekarang. Terus jangan lirak-lirik cowok lain lho," lanjutnya sambil menepuk ringan kepala Ella.


"Makasih..." jawab Ella masih kebingungan. Dia kemudian memasuki rumah begitu Ardi telah melaju bersama mobil hitamnya.


Segera dibukanya papper bag pemberian Ardi. Dan isinya adalah sebuah jacket bomber tebal yang nyaman, syal rajut, sarung tangan rajut dan topi yang bisa menutup sampai telinga. Waaaaaah kayaknya Ardi beneran takut Ella kedinginan selama tour ke Bromo. Dan Ella hanya bisa senyum-senyum saja menyadari tujuan utama Ardi ke kontrakannya pagi-pagi.


Diambilnya ponselnya dan segera dikirimnya pesan singkat untuk Ardi.


Ella


Ni aku kasih cium, #kirim stiker ciuman


Lazuardi


Hahahaha gak kerasa.


Besok aku tagih yang asli #emot cium.


Ella


Kabuuuurrrr #stiker kabur


~∆∆∆~


Siang harinya tepat pukul 10.30 Roni datang menjemput mereka. Ella dan Intan langsung memasukkan tas ransel bawaan mereka ke bagasi mobil.


Verdi juga ikut bersama rombongan mereka kali ini. Duduk di kursi depan menemani Roni. Sementara Ella dan Intan bisa dengan leluasa menjajah passenger seat di tengah. Mereka segera melaju ke parkiran RSUD G tempat mereka janjian berkumpul dengan kedua mobil rombongan lainnya.


Tepat pukul sebelas ketiga mobil sudah berkumpul dan berangkat bersama. Dengan mobil Sari yang mendahului sebagai penunjuk jalan. Mobil Roni mengikuti sebagai yang kedua dan mobil Dani yang terakhir. Mereka melaju beriringan menuju gunung Bromo melewati jalur Probolinggi. Sesuai dengan petunjuk dari google map perkiraan perjalanan mereka memakan waktu lima jam.


Dan benar saja mereka akhirnya memasuki kawasan wisata Bromo saat sore harinya. Sedikit lebih lama dari perkiraan google karena jalanan pegunungan yang berkelok-kelok dan hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja. Villa keluarga Hartanto baru dapat mereka lihat saat hari sudah beranjak senja. Pas banget sebelum sunset event.


Villa keluarga Hartanto ini terlihat sangat mewah dan besar dengan model bangunan bergaya eropa dan bercat putih. Taman bunga tertata apik di halamannya dan parkiran mobil yang cukup luas juga tersedia disana. Bangunan ini cukup besar dengan ruang tamu, ruang tengah, ruang makan sekaligus minibar dan dapur, serta kamarnya yang berjumlah enam ruangan.


Roni sebagai ketua panitia segera mengumumkan pembagian kamar, dua orang per kamarnya. Dan tentu saja Ella mendapatkan Intan sebagai teman sekamarnya, benar-benar tak terpisahkan. Mereka segera mengemasi barang-barang mereka mereka ke dalam kamar masing-masing.


"Gaes ayo jalan-jalan. Katanya mau liat sunset?" Terdengar teriakan Roni memangili anak buahnya yang masih di kamarnya masing-masing dari ruang tengah.


Ella dan Intan segera memakai jaketnya, sebelum keluar dari kamar mereka. Suhu udara sore di daerah ini mencapai 13°C sangat dingin bagi mereka yang terbiasa tinggal di daerah panas seperti Surabaya dan Genting. Dan nanti malam atau di puncak gunung malah bisa mencapai 3°C. Beneran bisa beku rasanya, sampai napaspun mengeluarkan asap.


"Gila dingin banget! Bisa beku ni gue." Verdi si anak metropolitan menyeletuk kedinginan.


"Ntar malem lebih dingin lagi," Sari menjelaskan. "Yuk kita jalan sebentar ke spot untuk liat sunset." Sari mengajak dan membimbing rombonganya keluar dari kawasan villa dan berjalan terus melintasi jalanan beraspal.


Mereka berhenti di area taman yang tepat menghadap ke jurang. Jauh di dasar jurang dapat mereka lihat dengan jelas pemandangan gunung bromo yang menakjubkan. Memanjakan mata dan memaksa siapapun yang melihatnya untuk berdecak kagum dan memuji keagungan Tuhan yang telah menciltakannya.


"Bentar lagi sunset-nya gaes. Kita duduk-duduk disini aja sambil ngobrol." Roni memberikan instruksi kepada rombonganya untuk masing-masing mencari posisi duduk senyaman mungkin.


"Oiya abis ini kita ada acara gathering dan barbeque party di villa. Terus acara bebas untuk istirahat dan malam keakraban. Nanti jam tiga pagi kita akan dijemput oleh jeep untuk persiapan melihat sunrise di puncak penanjakan." Dani menjelaskan rundown acara mereka hari ini.


"Jangan lupa bawa syal dan sarung tangan ya teman-teman. Dingin banget udaranya nanti malem pastinya." Sari menambahkan. Ella benar-benar bersyukur dengan perlengkapan yang disiapkan oleh Ardi untuknya. Ella yang belum pernah ke Bromo sebelumnya tak mengira bahwa suhu udara disini sedingin ini. Dan dia dengan pede-nya hanya mempersiapkan sweater dan jaket kain sebelumnya. Bisa membeku dan mati kedinginan beneran tu kalau cuma make perlengkapan seminim itu.


Tak lama kemudian saat yang dinanti-nantikan telah tiba, matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Langit mulai memerah dengan indanya mengantar kepergian sang surya ke peraduannya. Dan sekali lagi mereka yang melihat hanya bisa terpesona dan berulang kali berdecak kagum melihat pemandangan bak surgawi itu.


Setelah matahari tenggelam sepenuhnya dan suasana menjadi gelap, mereka kembali berjalan beriringan ke villa. Di halaman villa para pegawainya sudah mempersiapkan barbeque set dan griller yang sudah mengepulkan asap. Siap untuk memanggang apapun di atasnya. Sebuah api unggun kecil juga sudah menyala di tengah-tengah halaman, menghangatkan suasana malam yang semakin dingin.


Ella duduk sendirian di teras villa berkutat dengan ponselnya. Sementara teman-temannya yang lain sibuk dengan acara bakar-bakaran. Ella mendengus pasrah melihat ponselnya yang tanpa sinyal. Gak bisa kasih kabar ke mas Ardi ini, batinnya sambil memasukkan ponsel ke sakunya.


"Kamu mau makan apa, El? Sini aku bakarkan sekalian." Roni menghampiri Ella yang kebetulan sendirian. Mumpung gak ada Intan atau Sari yang selalu nempel pada Ella.


"Hmmm apa ya? Jagung, sosis, steak. Enak semua kayaknya tu?" Ella bingung memutuskan ingin memakan yang mana.


"Hahaha dasar kamu rakus. Bilang aja mau semuanya. Gini aja aku bakarin jagung dan sosis di api unggun. Tapi kamu yang bakarin steak buatku juga." Roni membagi tugas.


"Boleh-boleh. Yang enak lho ya." Ella menyetujui, dia segera beranjak ke daerah griller set. Tempat Intan dan Sari yang sedang asik membakar daging-daging steak yang terlihat menggiurkan.


Sementara Roni bergabung dengan rombongan yang membakar jagung dan sosis di api unggun. Sekalian menghangatkan tubuh juga.


"Aku mau steaknya juga donk." Ella menyapa kedua koki dadakan itu.


"Sabar ntar pasti kebagian semua kok, tunggu mateng. Atau kamu mau yang setengah mateng?" Sari menawarkan sambil membolak-balik daging steak di panggangan.


"Wah yang mateng donk. Takut masih berdarah-darah kalau kurang mateng." Ella sedikit ngeri membayangkan steak yang setengah matang.


"Ya kali aja kamu mau jadi Sumanto hehe." Intan menyeletuk sotoy.


"Sini aku bantu-bantu apaan ini? Bosen daritadi bengong bikin tambah dingin aja." Ella menawarkan bantuan.


"Bumbuhin dagingnya aja deh. Lumurin bumbu sebelum di panggang" Sari memberikan instruksi dan Ella pun resmi mendapat pekerjaan sebagai tukang bumbu.


Kedua belas dokter muda itu akhirnya disibukkan dengan proses memasak dan bakar-bakaran makanan. Menikmati segala prosesnya sambil bercanda dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Menikmati kebersamaan mereka yang tinggal sebentar lagi, sebelum akhirnya mereka berpisah dan kembali ke kotanya masing-masing. Meneruskan hidup dan perjuangannya masing-masing pula.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼