Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
125. S2 - Hartanto medika


Siang itu selepas dari menyelesaikan tugas jaga pagi di RSUD dr. Sutomi, Roni dan Ella sepakat untuk mengunjungi Rumah Sakit Hartanto Medika. Dari namanya saja sudah ketahuan kan siapa pemilik dari Rumah Sakit ini? Tentu saja milik keluarga Hartanto yang memang keluarga Sultan yang merajai sektor medis di wilayah timur ini.


Beberapa hari yang lalu Mahes menghubungi Roni, menawarkan pekerjaan untuknya. Sebagai dokter pengganti yang menggantikan dirinya bertugas di poli jantung RS. Hartanto Medika. Mahes sepertinya hendak pulang kampung dan akan menetap di Banyu Harum. Selain Roni, Mahes juga tertarik untuk merekrut Ella untuk bekerja di rumah sakitnya juga.


Mengingat rumah sakit ini masih baru tentu saja sangat wajar jika mereka sedang gencar mencari dan merekrut para dokter, dokter spesialis dan para medis serta berbagai karyawan lainnya yang akan bekerja disana.


Bagaikan pucuk dicinta ulam pun tiba memang rasanya. Disaat belum lama ini Roni dan Ella masih kebingungan karena sama-sama belum memiliki pekerjaan tetap, tiba-tiba saja datang tawaran dari Mahes. Memang kalau rejeki gak akan kemana.


Dan disinilah mereka sekarang, di lantai empat rumah sakit. Di bagian perkantoran dan administrasi rumah sakit yang memang sengaja dipisahkan di dari ruangan-ruangan pasien di lantai dibawahnya. Mereka berdua menunggu di depan ruangan direktur rumah sakit untuk dapat giliran menghadap.


"Kamu gak usah ambil full sift gak papa El. Biar aku aja yang ambil full ntar." Roni memulai pembicaraan.


"Kok gitu?" Ella memprotes.


"Ya kan yang harusnya cari duit aku sebagai laki-laki. Kamu sebagai wanita kerja santai aja gak usah ngoyo." Roni menjelaskan maksudnya.


"Kamu mau cari duit buat apa emangnya? Bukanya lebih baik fokus sekolah dulu biar cepet lulus?"


"Buat modal nikah lah. Kan gengsi kalau minta ortu mulu," sekali lagi Roni menjawab dengan gamblang.


Ella sedikit tertegun juga mendengarnya. Jadi Roni memang benar-benar serius ingin menikah dengannya? Roni bahkan berniat mencari uang untuk modal pernikahan mereka?


"Tapi sekolahmu gimana kan masih lama itu. Bisa-bisa malah terhambat lho nanti. Makin mundur deh lulusnya..."


"Sambil jalan lah, El. Pagi jaga di RSUD dr. Sutomi. Malamnya praktek di RS. Hartanto Medika kan gak bentrok jadwalnya. Bismillah aja deh."


"Tapi pasti capek banget kan?" Ella kembali memprotes. Gila aja jaga dua sift selama seminggu berturut-turut? Bisa remuk seluruh badan tu. Belum lagi otak, bisa kongslete lama-lama.


"Kamu khawatir ya? Gak pa-pa aku kuat lho, El. Kamu liat aja aku pasti akan berjuang buat..." Roni senang mendengar Ella mengkhawatirkan dirinya. Tapi Roni tak melanjutkan ucapannya, karena memang dirinya dan Ella belum sampai pada bahasan soal pernikahan mereka.


Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Baik Roni maupun Ella tahu benar kelanjutan dari ucapan Roni. Pasti tentang memperjuangkan pernikahan mereka.


"Bikin Rumah Sakit segede gini butuh duit berapa ya?" Ella tiba-tiba bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. Ella Memandang ke sekeliling lantai empat ini.


Dapat dilihatnya berbagai peralatan dan perabotan mewah dan bagus diletakkan di seluruh ruangan. Bahkan kantin rumah sakit yang juga ada di lantai ini hampir-hampir mirip restoran hotel berbintang suasana dan perabotannya. Sepertinya rumah sakit ini memang didesain nyaman dan mewah dengan target sasaran kalangan menengah keatas.


"Mungkin Milyaran El, belum lagi pemenuhan alat kesehatan, segala akomodasi lain serta berbagai obat-obatannya. Jangan dibayangin deh bikin puyeng yang pasti, gak nutut otak kita ngitung angka nol-nya hehe." Roni menjawab dengan gaya santainya.


"Dan yang bikin ngeri bisa-bisanya mas Mahes yang membangun dan memiliki Rumah Sakit segede ini. Padahal orangnya kelihatan sederhana banget gitu dalam kesehariannya." Sekali lagi Ella diingatkan akan status kesultanan Mahes.


Dirinya juga tiba-tiba teringat akan Ardi Pradana yang dilihatnya beberapa hari yang lalu di TV. Ardi yang lebih gila lagi dengan membangun sebuah bussiness park. Orang macam apa coba para sultan muda ini? Seolah-olah mereka punya pohon uang yang bisa dipanen kapan saja mereka inginkan.


"Emang kalau kita kenal sendiri si sultan kayak gak nyangka ya. Mereka kalau bergaul biasa aja, seperti orang pada umumnya. Bahkan mas Mahes sering kere gak punya uang buat bayar parkiran. Parah banget kan?" Roni ikut berkomentar.


"Iya dunia mereka seakan berbeda dari kita. Tapi aslinya mereka juga sama saja, manusia biasa." Ella ingat benar pertemuannya dengan para sultan teman Ardi. Dirinya juga secara tidak langsung memiliki hubungan juga dengan para sultan Pradana dan Hartanto. Bergaul dan berinteraksi dengan mereka dengan normal seakan tak ada perbedaan.


Tak beberapa lama kemudian beberapa orang keluar dari ruang direktur rumah sakit. Orang-orang yang sepertinya detailer obat dan alat-alat medis.


Seorang wanita yang berpakaian layaknya seorang sekretaris keluar dari ruangan direktur rumah sakit. Menyapa Roni dan Ella yang sedang menunggu dan mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam ruangan.


Ella dan Roni memasuki ruangan sang direktur Rumah sakit. Ruangan dengan desain minimalis modern yang cozy dengan living room dan working room yang terpisah di sayap kiri dan sayap kanan ruangan. Di balik meja direktur sudah menunggu mereka seorang wanita dengan senyuman lebar terkembang. Dengan wajah yang sangat tidak asing.


Sari. Ternyata Sari teman sesama interenship mereka yang menjabat sebagai direktur RS. Hartanto Medika ini. Memang tidak mengherankan si mengingat Sari adalah adik dari Mahes. Dan Sari juga pastinya telah lulus kuliahnya di jurusan Managemen Rumah Sakit.


Sari bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan kedua rekannya. Ramah dan tak ada kesan sombong sama sekali, peragainya hampir sama saja seperti Sari yang mereka kenal beberapa tahun yang lalu sebagi rekan sesama interenship.


"Selamat datang di RS.Hartanto Medika. Duh aku kangen banget sama kalian, udah berapa lama ya kita gak ketemu?" Sari menyapa dengan berjabat tangan dengan Roni. Sementara dengan Ella gadis itu memilih untuk memeluk ringan tubuh Ella dan bercupika-cupiki sebagai sapaan.


"Air mineral aja deh," Ella menjawab.


"Samain aja," Roni juga tak mau ribet soal minuman.


Sang sekretaris kemudian beranjak meninggalkan mereka untuk mengambil suguhan bagi tamunya. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa dua botol kecil air mineral dan langsung menyuguhkannya ke meja di hadapan tamunya.


"Yaampun kalian kok tegang banget si? Kayak ngadepin siapa aja? Santai lah kita ngobrol serius tapi santai saja ya," Sari membuka pembicaraan. Wah auranya sebagai ibu direktur rumah sakit mulai terlihat dari Sari meskipun usianya masih muda.


"Begini...Untuk Roni seperti yang sudah mas Mahes bilang ke kamu sebelumnya, disini kamu cuma sebagai dokter penggantinya mas Mahes." Sari mulai serius menjelaskan masalah pekerjaan.


"Untuk STR dan SIP masih pakai punya mas Mahes semua. Tapi kamu yang praktek nantinya, dengan status dokter pengganti."


"Ya aku ngerti." Roni sadar diri karena dirinya belum lulus study-nya jadi belum memiliki STR sebagai dokter spesialis.


"Tapi misalnya nanti setelah kamu lulus masih mau bekerja disini ya silahkan. Nanti kita bisa bicarain lebih lanjut soal kontrak detailnya." Sari juga memberi pilihan pada Roni jika sudah lulus nantinya.


"Kita bahas itu nanti saja. Yang sekarang aja yang kita bahas saat ini." Roni tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum pasti di masa depan.


"Ok, jadi karena kamu statusnya hanya sebagai dokter pengganti nanti hak-hak yang didapatkan agak beda lho ya daripada yang dokter tetap. Nanti masalah fee kita bahas lebih lanjut."


"Gak masalah," Roni tidak keberatan. Yah memang begitu aturannya. Masih mending ini Sari mau memperkerjakan residen yang belum lulus kuliah.


"Kalau untuk Ella, kan sebentar lagi udah lulus. Kalau bisa aku sekalian mau pinjem STR nya satu. Ya nanti ada hitungannya sendiri itu. Selain juga sebagai perlindungan hukum kalau kamu praktek disini sebagai dokter yang ber-SIP. Dengan kamu naroh STR disini otomatis kamu akan dihitung sebagai pegawai tetap." Sari beralih menjelaskan ke Ella.


"Iya boleh saja. Tapi kontrak kerjanya berapa lama?" Ella menanyakan kejelasan nasibnya. Jangan-jangan dia gak bisa resign lagi dari Rumah sakit ini.


Untuk sekarang Ella masih belum bisa menentukan kemana arah masa depannya. Bisa jadi kan misal dirinya menikah dengan Roni atau pria lain yang berasal dari kota lain. Pastinya dirinya terpaksa harus tinggal di luar Surabaya juga.


"Aduh El, gak usah takut gitu lah. Masa iya aku mau maksain kamu kerja disini kalau gak kerasan. Kamu boleh kok resign kapan saja kamu mau. Atau jika kamu merasa tidak nyaman kerja disini. Tapi untuk STR mohon maaf agak beda perkaranya. Gak bisa ditarik seenaknya."


"Hmmm, emang agak ribet ya pencabutan ijinnya?"


"Iya ruwet banget urusannya. Makanya kami pihak managemen memutuskan untuk menahan STR yang sudah terlanjur masuk dan menjadi SIP di rumah sakit ini sampai habis masa berlakunya. Yah berarti paling lama lima tahun sejak sesuai masa berlakunya STR itu." Sari menjelaskan.


"Jangan khawatir, STR yang ngendon disini juga tidak cuma-cuma. Nanti ada hitungannya sendiri free yang didapat dari STR dokter spesialis." Sari melanjutkan penjelasannya karena Ella sedikit ragu.


"Boleh deh," Ella akhirnya menyetujui. Toh dirinya masih mempunyai dua lembar STR lagi jika satu lembar STR-nya sudah ngendon di rumah sakit ini. Dua lainnya bisa dia gunakan untuk praktek pribadi di rumah atau nyabang di rumah sakit lainnya.


"Kalau masalah fee kalian mau minta berapa?" Sari kembali menanyai mereka dengan sedikit nakal.


Waduh nantang banget ini kayaknya si sultanwati. Berani bayar berapa dia buat menggaji dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis jantung?


~∆∆∆~


FYI (For Your Infomations)


* STR (Surat tanda registrasi) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh konsil masing-masing Tenaga Kesehatan kepada Tenaga Kesehatan yang telah diregistrasi.


*Surat Izin Praktik yang disingkat SIP adalah bukti tertulis yang diberikan pemerintah kepada dokter atau dokter gigi yang akan menjalankan praktik kedokteran setelah memenuhi syarat.


*SIP Dokter dan Dokter Gigi diberikan paling banyak untuk 3 (tiga) tempat praktik, baik pada fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah, swasta, maupun praktik perorangan.


*Seorang dokter wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) dan sebelum membuka tempat praktik, dokter harus memiliki Surat Izin Praktik (SIP). Dalam hal dokter atau dokter gigi berhalangan melaksanakan praktik dapat menunjuk dokter atau dokter gigi pengganti.


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOME 🤭🌼