
Langkah Via dan Wira seketika terhenti mendengar suara panggilan itu. Via menoleh pada Lyla yang masih terbaring lemah. Tampak gadis kecil itu masih memejamkan mata. Hanya jari-jari kecilnya yang bergerak-gerak lemah, dengan bibirnya yang bergumam memanggil bundanya. Dengan segera Via dan Wira mendekat, Via pun meraih jemari Lyla.
"Sayang ... Ini bunda," ucapnya menjatuhkan air mata. "Ayah juga ada di sini. Buka matanya, Nak."
Sama seperti Via, Wira pun menjatuhkan air mata menatap wajah mungil Lyla. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, gadis kecil itu berusaha membuka mata.
"Bun-da di-ma-na?" ucapnya perlahan.
Walaupun kedua bola matanya telah terbuka secara perlahan, tampaknya Lyla masih setengah sadar, sehingga Via mengecup beberapa kali wajahnya, agar ia dapat merasakan kehadiran sang bunda di sana.
"Ayah sama bunda di sini, Sayang. Di dekat Lyla." Sekali lagi Via berbisik.
Bola mata Lyla berputar mencari sosok bunda yang sangat ingin ia lihat wajah teduhnya. Gadis kecil itu berusaha menajamkan penglihatan nya yang memburam, hingga beberapa saat kemudian, ia dapat menatap wajah bundanya, walau pun masih sedikit tersamar.
"Bundaaa..." panggilnya dengan lemah.
"Iya, Sayang ... ini bunda." Tak dapat menahan perasaannya, air mata pun berurai. Suara Isak tangisnya tak tertahan. Via yang selama ini berusaha selalu kuat dan tersenyum pada Lyla, entah mengapa hari itu menunjukkan sisi lemahnya.
Tangan kecil Lyla terulur mengusap wajah bundanya itu. Ia tersenyum tipis, membuat Via begitu terpaku menatapnya. "Jangan nangish, Bunda ..."
Tersadar, Via akhirnya menghapus air matanya, ia memaksakan diri tersenyum. "Tidak, Sayang. Bunda tidak menangis. Bunda senang Lyla sudah bangun. Lyla harus kuat. Lyla kan ulang tahun sebentar lagi. Lyla mau ajak teman-teman Lyla dari panti dan buat pesta kostum princess kan?"
Sambil tersenyum, Lyla mengangguk, "Iya, Bunda. Tapi Lyla mau susu, ... Lyla haus."
"Iya, Sayang ... Bunda buat susu dulu, ya. Lyla tunggu di sini."
Via segera berjalan menuju meja dan membuatkan susu. Sembari Via membuat susu untuk Lyla, Wira segera keluar dari ruangan itu, memanggil beberapa dokter yang bertugas malam itu.
Beberapa Dokter pun datang memeriksa keadaan Lyla. Dokter Willy dan Dokter Marchel pun turut hadir di sana untuk memberikan dukungan untuk Wira dan Via.
Dan, Walau pun telah tersadar, kondisi Lyla masih sangat lemah. Namun tak sedikitpun Lyla mengeluh Bahkan ia sempat meminta alat bantu pernafasannya dilepas.
🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵
_
_
_
_
"Syudah, Bunda ..." ucap Lyla seraya mendorong gelas susu yang dipegang Via. Kemudian Wira kembali membaringkan Lyla setelah meminum susunya.
"Sekarang Lyla istirahat, ya ... Mau bunda bacakan cerita?" tanya Via.
Gadis kecil itu mengangguk, matanya yang sayu menatap sang bunda dengan penuh cinta. Seperti biasa, Lyla yang tak kenal mengeluh tetap tersenyum. Via pun membacakan sebuah kisah tentang Hasan dan Husein, dua cucu kesayangan Rasulullah. Sepanjang Via bercerita, Lyla terus menggenggam tangan dan menatap bundanya. Seakan benar-benar ingin menikmati kebersamaan dengan wanita yang merawatnya sejak kecil itu.
Hingga beberapa waktu kemudian, gadis kecil itu mulai kehilangan kesadaran. Ia pun mulai bergumam, seolah sedang mengigau. Sehingga Wira mendekatkan telinga untuk dapat mendengar ucapan Lyla Dengan jelas.
"Lyla mau apa, Nak? Ayo bilang sama ayah," ucap Wira sambil mengusap rambut anaknya itu.
"Lyla mau ketemu Bunda Syela sama ayah, mau ketemu sama opa, oma, sama Dede Gael juga. Panggilin ya, Ayah ... Lyla mau ketemu." Walaupun pengucapan Lyla kurang begitu jelas, namun Wira dapat memahami dengan baik keinginannya.
Lyla kembali menggeleng, "Sekalang, Ayah. Lyla mau ketemu. Lyla juga mau pakai baju plinsyes yang sama kayak boneka Lyla. Boleh, ya Ayah ..."
Via yang saat ini duduk di sisinya mencoba mencerna ucapan gadis kecil itu. Setiap kata yang diucapkan Lyla bagai sebuah kalimat perpisahan. Ia meminta untuk memanggil semua orang yang disayanginya dan juga meminta memakai sebuah gaun yang pernah dibuat Via untuknya.
Via menatap Wira sambil menganggukkan kepala, pertanda bahwa ia ingin agar Wira memenuhi keinginan gadis kecil itu.
Sementara Wira masih membeku. Walaupun ia berusaha untuk tak menangis seperti permintaan Lyla, nyatanya laki-laki itu tak dapat membendung kesedihannya yang ia lepaskan melalui air mata.
Dan, seperti permintaan Lyla, malam itu semua orang berkumpul di sana. Oma dan Opa, juga Surya dan Shera telah hadir di dalam ruangan itu. Tampak pula Bu Retno yang segera menuju ke rumah sakit begitu menerima panggilan dari Via.
****
Via baru saja selesai memakaikan sebuah gaun berwarna biru dan juga sebuah mahkota di kepala gadis kecil itu. Dua buah boneka yang menjadi kesayangannya tak pernah lepas dari pelukannya. Satu persatu dari mereka pun saling bergantian mengecup dan memeluk si kecil Lyla. Juga dengan Gael yang kini terlelap di sisi Lyla.
Tuan Gunawan dan istrinya baru saja melepaskan kerinduan pada cucu pertamanya itu. Dan Lyla, walaupun dalam kondisi yang sudah sangat lemah, ia masih dapat mengenali wajah siapa pun yang mendekat padanya.
Senyum bahagia pun tak pernah lepas dari wajah pucat dan lemah itu. Terlebih saat Shera membisikkan bahwa dirinya akan segera memiliki satu orang adik lagi. Ia tampak sangat bahagia.
"Bunda sama ayah jangan nangis lagi," ucapnya pada Shera dan juga Surya.
"Tidak, Sayang. Bunda menangis karena bahagia. Maafkan kesalahan bunda yang pernah jahat sama Lyla. Bunda sayang Lyla."
Lyla kembali tersenyum, ia mengusap air mata yang mengalir di wajah ibu kandungnya itu. Ia kemudian mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu orang-orang yang berada di ruangan itu.
"Bundaaa..." panggilnya, membuat Via kembali mendekat.
"Iya, Sayang... Ini bunda."
"Lyla mau dipeluk Bunda. Lyla mau bobonya dipeluk Bunda ..." Bagai sebuah permintaan terakhir, Via mendekat pada gadis mungil itu dan memeluknya.
"Tolong jangan ada yang menangisi anakku. Jangan membebaninya," ucap Via tanpa menoleh pada semua orang yang berada di ruangan itu. Ruangan itu pun seketika hening, tak ada suara.
Sebisa mungkin Via tetap berusaha tersenyum. Ia mengusap puncak kepala gadis kecilnya, sambil membacakan sebuah doa di telinganya.
Dan, setelahnya, Via pun berbisik, "Lyla ... Bunda akan ikhlas kalau Lyla mau pulang ke rumah Lyla yang sesungguhnya. Mungkin Lyla lelah, tapi bunda selalu memaksa Lyla untuk kuat dan bertahan. Maafkan egoisnya bunda, Nak. Bunda terlalu sayang Lyla sampai lupa untuk berserah diri. Bunda ikhlas melepas Lyla ... Di sini, bunda akan selalu berdoa untuk Lyla. Tidurlah dalam kedamaian anakku ...."
Sesaat setelah mendengar bisikan itu, perlahan Lyla mulai menutup kedua mata, dengan senyum indah yang menghiasi wajahnya.
***************
...Like banyakin...
...Komen ramein...
...yang tanya Ig otor...
...cari aja **Kolom langit...
...😘😘😘😘**...