Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Lyla Harus Kuat


Hari demi hari pun berlalu. Tak terasa sudah tiga hari Lyla terbaring tak sadarkan diri. Sejak itu pula Via tidak dapat makan dan tidur dengan baik. Ia melupakan hal lain dalam hidupnya, sehingga seakan dunianya telah terhenti. Meskipun wanita itu tak lagi menangis, namun kediamannya menggambarkan betapa hancur perasaannya.


Yang dilakukannya setiap saat hanyalah duduk di sisi Lyla, menunggu dan berharap agar gadis kecilnya itu segera membuka mata.


Walau pun sebagai manusia ia tetap berserah diri, namun Via hanyalah seorang ibu, yang akan ikut sakit saat anaknya dalam keadaan tak berdaya.


Tepukan lembut mendarat di bahu, yang membuat lamunannya membuyar. Ia mendongakkan kepala, menatap wajah sang suami, dan tanpa sepatah kata pun kembali menoleh pada Lyla.


Wira menghela napas panjang. Menarik sebuah kursi dan duduk di sisi Via. Ia menatap wajah Via lekat-lekat, yang sejak tadi tak melepaskan pandangannya dari Lyla. Tubuhnya yang terlihat lemah, matanya yang sayu karena kurang istirahat, serta tatapannya yang kosong membuat Wira ikut merasakan kesedihan sang istri. Diraihnya jemari Via dan menggenggamnya, namun tak ada respon dari wanita itu.


"Via ... Aku mohon jangan seperti ini," ucap Wira sambil mengusap dengan lembut rambut Via.


Tanpa mengalihkan pandangannya dari Lyla, Via menyahut, "Lalu aku harus bagaimana, Mas?" sahut Via dengan suaranya yang lemah bagai tak bertenaga. Kemudian ia menatap Wira seakan meminta jawaban.


Wira masih tersenyum samar, ingin menguatkan Via melalui senyum itu. "Ayo, kita bicara dulu sebentar di depan."


"Aku tidak mau meninggalkan Lyla, Mas," lirihnya, lalu kembali memandangi Lyla.


"Aku mohon, Sayang. Sebentar saja. Tolong dengarkan aku. Baiklah, kita bicara di sini saja," ucap Wira membujuk sang istri.


Wira membantu Via berdiri dan membawanya ke sofa yang berada di sudut ruangan itu. Laki-laki itu berjongkok di depannya, lalu memeluk Via erat, namun Via tetap diam membisu tanpa membalas pelukan itu. Hingga beberapa saat berlalu, Wira melepaskan pelukan itu. Dibelainya wajah tirus dan pucat itu dengan lembut.


"Aku merindukanmu yang dulu. Kau yang penuh dengan ketabahan. Kau yang sangat lembut tapi juga kuat, dan kau yang tidak pernah kehilangan harapanmu. Sayang, aku tau bagaimana perasaanmu sekarang. Kau berjuang untuk Lyla selama ini. Dan itu tidak mudah," ucap Wira membuat Via menatapnya. Ia menarik napas dalam dan memejamkan mata sesaat.


Jika mengingat semua perjuangan beratnya agar Lyla dapat sembuh, Via merasa sangat tidak adil, sebab tinggal selangkah lagi, namun justru kondisi Lyla menjadi sangat menurun. Mengingat semua itu, air matanya kembali berderai.


"Kenapa harus seperti ini, Mas? Selama ini aku berjuang untuk kesembuhan Lyla. Aku merasakan kesakitan yang sama setiap kali dia sakit. Bertahun-tahun aku menunggu dengan sabar datangnya mukjizat untuk Lyla-ku. Tapi lihat sekarang, Mas! Saat Lyla memiliki harapan untuk sembuh, kenapa harus terjadi seperti ini? Kenapa?" Kalimat panjang yang diucapkan Via seolah menggambarkan kesedihan, kecewa, dan keputusasaan yang menyatu.


"Aku mengerti, Via. Kau sedih dan kecewa. Tapi bukan seperti ini caranya. Tetaplah bersabar dan bersyukur seperti kau yang selama ini ku kenal," bujuknya lagi. "Sayang, aku mohon pulanglah ke rumah dan istirahat. Sudah tiga hari kau seperti ini."


Via melepas tangan Wira yang menggenggam tangannya, lalu berdiri dengan sisa tenaga yang dimilikinya. "Aku tidak mau meninggalkan Lyla walau pun hanya beberapa menit."


Via akan melangkah mendekat pada Lyla, namun secepat kilat Wira berdiri, lalu mencengkram kedua lengannya.


"Lepaskan aku, Mas!" lirih Via.


"Tidak sebelum kau mendengarkan aku!" Kali ini Wira membentak tanpa sadar. "Lihat aku!" Ia menangkup wajah Via setelahnya, sehingga kini mereka saling menatap. "Kau tidak bisa seperti ini terus. Selama berhari-hari kau tidak mau makan dan tidur. Kau mengabaikan segalanya. Bagaimana kalau sampai sakit?"


"Aku tidak sanggup kehilangan Lyla."


Via tersadar, ia teringat pada bayi kecil yang sudah hampir empat hari diabaikannya.


"Gael ..." lirihnya sambil menangis. "Aku bukan bermaksud mengabaikannya. Tapi Lyla ..."


Mendengar ucapan Via, Wira kembali memeluknya. Ia pun dapat memahami apa yang dirasakan istrinya itu. Ibu mana pun di dunia tidak akan sanggup jika harus kehilangan salah seorang anaknya. "Apa yang terjadi sudah menjadi takdir. Tugas kita hanya berdoa, dan menjalaninya dengan sabar. Bukankah kau selalu berkata, bahwa segalanya hanya titipan. Lyla memang anak kita, tapi bukan milik kita. Kalau Tuhan mau mengambilnya, kita harus ikhlas. Kau mengerti kan?"


Tak dapat dapat lagi membendung kesedihannya, Via menyandarkan kepala di dada suaminya itu. Mencari ketenangan di sana.


"Maafkan aku, Mas."


"Tidak apa, Sayang ... Sekarang tenanglah." Wira melepas pelukan beberapa menit kemudian, lalu merapikan anak rambut yang berada di sekitar wajah istrinya, menyelip ke belakang telinga. "Sekarang pulang, makan dan istirahat. Aku yang akan menjaga Lyla." Via mengangguk pelan, membuat Wira mengecup keningnya.


Setelahnya, Via mendekat ke arah Lyla. Ia duduk di sisi tempat tidur, meraih jemari gadis kecil itu dan mengecupnya. Tangannya terulur, membelai dengan lembut wajah pucat itu.


"Lyla, Sayang ... Bunda pulang dulu, ya ... Lyla di sini sama ayah dulu. Bunda mau lihat Dede Gael. Lyla harus kuat, Lyla tidak mau bunda sedih, kan? Bunda sayang Lyla." Ia mengecup kening gadis kecil itu, lalu berdiri dari duduknya.


"Aku akan mengantarmu ke depan," ucap Wira.


"Iya, Mas. Tapi jangan tinggalkan Lyla, ya ... Kalau dia bangun, tolong beritahu aku," pintanya diiringi anggukan kepala oleh Wira.


Dengan langkahnya yang terasa berat, Via hendak keluar dari kamar itu, namun saat tiba di pintu, terdengar suara lemah memanggil.


"Bundaaa ..."


🌵🌵🌵🌵🌵🌵


Like dan komen yang banyak yaaaa....


INFO PENULIS LABIL SEDANG GALAU. Kalau judul dan Cover ganti menjadi di bawah ini, kalian jangan nyasar yaa.... Sungguh, aku galau untuk judul novel satu ini 😂😂😂



Reader : Gak apa2 Thor ganti judul dan cover, asal jangan ganti Lapak.


otor : AchhhhhhSiaaapppphhhhhhhh!!!!