
Seminggu pun berlalu tanpa terasa.
Pagi yang cerah seolah mewakili perasaan bahagia seorang gadis kecil. Masih dengan tubuh yang lemah, namun penuh semangat, Lyla bermain bersama Oma di taman belakang. Piknik di taman belakang rumah adalah kegiatan favoritnya di hari minggu. Keceriaan Lyla membuat rumah yang tadinya hampa itu, hidup kembali.
Dan bagi seorang Alviana Andini, tidak ada kebahagiaan yang lebih dari senyuman di wajah Lyla. Wanita muda itu akan sanggup melakukan apapun hanya demi melihat senyum yang baginya seindah mentari pagi itu. Dari balkon ia memperhatikan interaksi antara Lyla dan sang Oma -- wanita paruh baya yang baru saja dinyatakan pulih dari sakitnya.
Terima kasih kasih, Tuhan ... Engkau memberi anugerah yang tidak berkesudahan. dalam batin Via.
*****
"Selamat pagi, Bu ..." ucap Via seraya menjatuhkan tubuhnya di atas karpet yang menjadi alas duduk Oma dan Lyla. Wanita paruh baya itu menyambut menantu tersayangnya dengan senyuman tulus.
"Selamat pagi, Nak!" jawabnya sembari memperhatikan penampilan Via yang terlihat berbeda dari biasanya. "kau mau pergi?"
"Iya, Bu. Aku mau mengunjungi panti asuhan. Aku sudah lama tidak ke sana."
"Tapi Lyla bagaimana? Apa dia akan ikut?"
"Tidak, Bu ... Aku harus mengurus anak-anak panti hari ini, karena Bu Retno ada keperluan di luar. Jadi mungkin aku akan sedikit sibuk." Via tersenyum sambil mengusap rambut Lyla. "Lyla di sini sama oma, tidak apa-apa kan? Bunda mau pergi sebentar."
"Iya, Bunda," jawab Lyla diiringi anggukan kepala. "Lyla masih mau piknik sama Oma."
"Iya, Sayang. Tapi jangan lari-lari, nanti oma nya capek."
"Iya, Bunda. Lyla duduk di sini ajah."
Mereka mengobrol beberapa saat, hingga akhirnya Via berpamitan pada ibu mertuanya itu. Setelahnya, ia beranjak menuju halaman depan, dimana seorang sopir sudah menunggunya sejak tadi. Mobil pun melaju meninggalkan rumah mewah itu.
Selama perjalanan, Via terus memainkan ponsel yang baru diberikan Wira beberapa waktu lalu untuknya, sebelum keberangkatannya keluar kota. Senyum manis terlihat di sudut bibirnya, ketika pesan dari Wira baru saja masuk.
Wira : { Selamat pagi, Sayang!}
Rona merah terlihat jelas di wajah wanita itu. Sebab sejak berada di luar kota, Wira sangat intens mengirimkan pesan atau pun melakukan panggilan dengan menggunakan kata sayang, walaupun itu hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Via mencoba menetralkan perasaannya dengan mengusap wajah beberapa kali. Ia pun segera membalas pesan dari sang suami.
Via : {Pagi, Mas...}
Balasan singkat yang dikirim Via dengan cepat mendapat respon kembali dari Wira.
Wira :{Sedang apa?}
Via : {Aku di jalan mau ke panti. Tadi kan sudah minta izin Mas sebelum pergi...}
Wira : {Lupa. Ya sudah, hati-hati, Sayang...}
Via : {Iya... Mas jadi pulang hari ini?}
Wira : {Belum. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.}
Via : {Oh ...}
Di belahan bumi lain, Wira sedang kebingungan membalas pesan terakhir yang dikirim Via. Sebuah balasan yang sangat singkat yang seolah memutus obrolan itu. Ingin mengirimkan pesan bernada perhatian, rasanya masih gengsi, mengingat betapa kakunya Via.
"Hanya oh, dia bahkan tidak bertanya apapun lagi. Via ... Via ... Polos sekali dia," gumam Wira menatap layar ponselnya. "Masa' aku harus tanya Willy atau Marchel. Oh, tidak! Mereka akan menertawakan ku."
Sedangkan Via, setelah saling berbalas pesan, ia memasukkan ponsel ke dalam tas. Hingga tanpa terasa telah tiba di panti asuhan yang menjadi tempat tinggalnya sejak kecil.
"Pak ... kembali saja ke rumah dulu. Aku akan di sini sampai sore," ucap Via pada seorang sopir.
"Iya, Mbak Via. Kalau mau pulang, hubungi saya saja," jawab sang sopir.
"Baik, Pak. Terima kasih ...."
Di dalam sana, dengan raut wajah bahagia, Bu Retno menyambut kedatangan Via, seseorang yang telah dianggapnya bagai anak sendiri. Kini ia dapat bernapas lega, sebab Via dan Lyla telah mendapatkan sebuah keluarga yang sangat menyayangi mereka. Via pun tidak perlu lagi berjuang sendirian untuk membiayai pengobatan Lyla seperti yang dilakukannya selama ini. Keluarga Sudarmadi lebih dari sanggup untuk membiayai pengobatan Lyla.
*****
Waktu menunjukkan pukul lima sore, ketika Via telah selesai dengan tugasnya menggantikan Bu Retno untuk mengurus panti. Kerinduannya pada adik-adik panti akhirnya terbayar dengan kebersamaan mereka hari itu.
"Terima kasih Via, sudah mau membantu ibu hari ini," ucap Bu Retno sesat setelah kedatangannya.
"Aku senang melakukannya, Bu. Panti asuhan ini adalah bagian dari hidupku."
Bu Retno mengusap rambut wanita muda yang telah dianggapnya bagai anak sendiri itu. "Via ... Mulai sekarang berbahagialah, Nak. Selama ini hidupmu penuh dengan perjuangan. Sejak kecil kamu berjuang sendiri. Untuk sekolah sampai kuliah, walaupun harus terhenti. Ibu sangat bangga dengan keteguhan hati kamu," ucapnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Via memeluk wanita paruh baya itu. "Terima kasih, Bu. Ibu mau menjadikanku anak ibu saat orang tua kandung ku sendiri tega membuangku."
"Jangan berkata begitu, Nak." Ia mengusap punggung Via. "Ya sudah ... Kamu pulang dulu. Nanti dicari Lyla."
"Aku mau ke rumah Mas Wira dulu, Bu. Mau ambil baju gaun Lyla. Dia sudah beberapa hari ini meminta gaun Putri Elsa-nya."
"Baiklah, Nak. Kamu tidak minta dijemput sopir?"
"Tidak, Bu. Aku masih tidak enak meminta banyak hal dari keluarga Mas Wira. Aku akan naik taksi online saja."
*****
Sore itu Via menuju sebuah rumah yang telah beberapa minggu ditinggalkannya, sejak Lyla dirawat di rumah sakit.
Dengan segera, wanita muda itu menuju kamar belakang yang ditempati bersama Lyla sebelumnya. Ia mengeluarkan sebuah gaun berwarna biru langit dari dalam lemari.
Seulas senyum tipis pun hadir di sana. Membayangkan akan sebahagia apa Lyla saat mengenakan pakaian itu sambil bermain boneka barbie kesukaannya. Ia menerawang jauh ke masa lalu, saat hidupnya penuh dengan keterbatasan. Hanya gaun hasil buatannya itulah yang sanggup ia berikan untuk Lyla.
"Lyla anakku ... Sekarang Kamu punya segalanya, Nak! Kamu punya bunda, ayah, oma dan opa. Semoga hasil pemeriksaan cocok, jadi kamu bisa sembuh dan hidup normal seperti anak-anak lain," gumamnya menahan air mata.
Tanpa terasa, hari mulai gelap. Hingga terdengar suara bel berbunyi, yang membuyarkan lamunan Via.
Wanita itu menyeka setitik air matanya, lalu beranjak menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
Pintu terbuka, di depan sana tampak seorang pria kira-kira seusia Wira sedang berdiri dengan senyum misteriusnya. Seketika seluruh tubuh Via terasa meremang menyadari siapa yang ada di sana. Kedua kakinya pun terasa lemas, dengan wajah yang sudah memucat. Ia memberanikan diri untuk berpegang pada daun pintu.
"Mas Wira tidak ada di rumah!" ucapnya gemetar, tanpa berani lagi menatap pria di depannya.
"Aku tahu! Karena itulah aku kemari."
*****