
Sekuat tenaga, Wira berlari menuju tempat dimana istrinya baru saja tertabrak sebuah mobil. Rasa khawatir dan takut bercampur menjadi satu. Ia meraih tubuh Via yang baru saja terhuyung ke jalan dengan posisi terduduk sambil memegangi kakinya yang terasa sakit akibat hantaman mobil. Sesekali terdengar suara Via yang meringis menahan rasa sakit.
Beruntung, seorang pria yang mengemudi mobil dengan sigap menginjak pedal rem, sehingga laju mobil terhenti tepat waktu dan Via tak terhempas jauh.
Sementara Shera dan ibu menghampiri si kecil Lyla yang sepertinya ketakutan melihat kejadian itu. Shera memeluk Lyla dan berusaha menenangkannya.
"Bundaaa, Lyla mau Bunda!" lirih Lyla sembari menatap bundanya yang sedang meringis di depan sana.
"Iya, Sayang ... Lyla sama Bunda Shera dulu, ya," bujuknya.
"Tidak mau, Lyla mau bundanya Lyla." Tangannya terulur, seolah meminta agar dibawa ke hadapan Via.
Wira memeluk Via, lalu sesaat kemudian melepasnya dan memeriksa setiap bagian tubuh sang istri untuk memastikan tidak ada luka lain. "Sayang ... Kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?"
"Lyla? Lyla, Mas?" Bukannya menjawab Via malah mencari anaknya dengan panik. Takut jika terjadi apa-apa pada Lyla. Bahkan wanita itu seakan tak peduli dengan rasa sakitnya, sebab baginya yang penting hanyalah keselamatan Lyla.
Wira menangkup wajah Via, "Lyla tidak apa-apa. Kau sendiri bagaimana?"
"Aku tidak apa-apa, Mas. Hanya kaki ku yang sedikit sakit."
"Perutmu? Bagaimana dengan perutmu? Apa terasa sakit atau kram?" tanya nya dengan panik seraya mengusap perut rata Via.
"Tidak, Mas. Aku baik-baik saja." Wanita itu menyahut seadanya. Kekhawatiran mengalahkan apapun. Sambil memegangi kaki yang sakit akibat terserempet mobil, ia melirik ke sana kemari, mencari sosok Lyla yang tadi didorongnya ke tepi jalan. Akhirnya ia dapat bernapas lega, saat mendapati Lyla yang sedang digendong oleh Shera.
"Syukurlah," ucap Wira menyandarkan Via di dadanya. Ia meneliti kembali seluruh tubuh sang istri, memastikan tak ada luka apapun selain lecet di beberapa bagian.
Seorang pria pengemudi mobil segera turun, setelah mampu mengurai keterkejutannya. Ia menghela napas panjang, sembari mengusap dadanya dan segera menghampiri Via dan juga Wira yang masih dalam posisi terduduk di jalan. Tampak pula beberapa orang yang sedang berkerumun di depan sana.
Dengan sopan, pria itu berjongkok di hadapan Via dan Wira dengan raut wajahnya terlihat khawatir. "Anda tidak apa-apa? Maaf, anak itu tiba-tiba menyeberang jalan dan saya tidak bisa menghindarinya," ucapnya penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Pak! Hanya kaki saja yang sakit," jawab Via seolah tak mempermasalahkan kesakitannya. Apapun, selama Lyla baik-baik saja. Berbeda dengan Wira yang masih terlihat sangat khawatir.
Pria itu tampak meneliti wajah Via, seperti sedang berusaha mengingat-ingat.
"Via? Kau Via, kan?" tanya pria berwajah khas Timur Tengah itu.
Terkejut namanya disebut oleh pria yang baru saja menabraknya, Via menatap pria itu. Sepasang mata nya membulat, saat menyadari siapa yang ada di hadapannya.
"Kak Zian?"
Wira pun baru menyadari siapa lelaki itu. Sama seperti Via, ia juga mengenal sosok pria bernama Zildjian Maliq Azkara itu. Pertanyaan muncul di benaknya, dari mana sang istri bisa mengenal, bahkan sepertinya cukup akrab dengan orang penting seperti pria itu.
"Kalian saling kenal?" tanya Wira menatap Via dan Zian bergantian.
"Ini Kak Zian, Mas ... Kakaknya Evan," bisik Via.
"Aku tahu soal itu. Tuan Azkara kan rekan bisnis ayah juga. Aku hanya tidak menyangka kalian saling kenal," Wira balas berbisik, namun masih dapat di dengar oleh Zian.
Menyadari jalan mulai macet akibat mobil yang berhenti di tengah jalan, dan juga kerumunan masyarakat, mereka pun membawa Via menuju sebuah kursi di sisi jalan. Wira memijat pergelangan kaki sang istri yang sepertinya terkilir.
"Maaf, Via ... Aku benar-benar tidak sengaja memabrakmu," ucap Zian.
Via menggeleng pelan, sambil tersenyum tipis. "Tidak apa, Kak! Aku baik-baik saja. Aku hanya mengkhawatirkan anakku."
"Syukurlah," ucap pria itu bernapas lega. Ia kemudian memperhatikan interaksi antara Via dan Wira. Kedekatan kedua orang itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Sebab setahunya, Via belum menikah dan belum mendengar kabar tentang pernikahan Via. Terlebih lelaki yang bersama Via adalah anak dari rekan bisnisnya.
Melihat adanya beberapa luka lecet di sekitar tubuh Via, pria itu pun menawarkan agar Via diperiksakan ke dokter, mengingat mereka masih berada di sekitaran rumah sakit. Namun, Via menolak tawaran itu dengan sopan karena hanya ada beberapa luka lecet saja.
***
"Bundaaa..." Terdengar panggilan manja seorang gadis kecil, membuat Via segera menoleh. Dengan senyum cerah, ia mengulurkan tangan, meminta agar Lyla mendekat padanya.
"Sini, Sayang!"
Lyla pun mendekat, sehingga Via segera meraih tubuh mungil itu dan membawa ke pangkuannya. Ia peluk dengan erat putri kesayangannya itu, lalu mengecup wajahnya dengan sayang.
"Lyla tidak apa-apa kan, Nak! Mana yang sakit?" Dengan penuh kelembutan Via bertanya, sambil mengusap sisa air mata di wajah polos Lyla.
"Lyla takut, Bunda," lirihnya menahan tangis.
"Jangan takut, Sayang. Lihat, bunda tidak apa-apa." Sebisa mungkin wanita itu menunjukkan senyumnya, seakan ingin menjelaskan bahwa semua baik-baik saja.
Tidak jauh dari sana, Shera mengusap setitik air matanya. Kini tidak ada lagi keraguan dalam hatinya atas kasih sayang Via pada Lyla. Via telah membuktikan betapa ia sangat mencintai Lyla, bahkan tak peduli pada keselamatannya sendiri.
Ayah benar, aku seharusnya tidak perlu meragukan Via. Dia benar-benar mencintai Lyla. dalam batin Shera.
Ia mendekat pada Via dan mengusap bahunya. "Kau baik-baik saja?" tanya Shera khawatir.
Via mengangguk pelan sambil tersenyum, "Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lecet di kaki."
"
****
_
_
_
_
_
_
Wira menarik selimut menutupi tubuh Via yang sedang memeluk Lyla. Keduanya kini telah tertidur setelah menjalani hari yang cukup melelahkan. Selepas kejadian tadi, Wira memaksa membawa sang istri ke dokter guna memeriksakan kondisinya dan memastikan kandungannya baik-baik saja. Laki-laki itu baru dapat bernapas Lega setelah Dokter Willy memastikan Via dan janin dalam kandungannya dalam keadaan baik.
Ditatapnya wajah anak dan istrinya itu bergantian. Dalam hati dipenuhi rasa syukur, dua orang yang paling dicintainya selamat dari bahaya. Ia mengusap puncak kepala Via, turun ke wajah. Satu kecupan sayang di kening ia berikan, lalu berbisik setelahnya.
"Aku mencintaimu, Sayang! Dan maaf aku baru menyadarinya hari ini, setelah kejadian tadi," bisik Wira di telinga Via.
*****
APRIL MOP ðŸ¤
Enak juga nge-Prank Reader 😂