Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Harus Saling Terbuka


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Wira baru saja tiba di rumah. Layaknya seorang istri yang baik, Via selalu menyambut kedatang suaminya itu dengan mencium punggung tangannya. Pun dengan Wira yang akan membalas dengan kecupan di kening serta pelukan singkat.


"Kenapa pulangnya malam, Mas?" tanya Via seraya membantu Wira melepas jas dan dasi.


"Aku lembur. Pekerjaan sedang padat, aku kan mengirim pesan tadi," jawabnya santai.


"Benarkah? Aku belum melihatnya. Mas sudah makan malam?"


"Sudah, Sayang. Tadi dengan Ivan," ujarnya. "Sepertinya hari ini kau sangat sibuk. Sampai tidak menjawab panggilanku."


"Tidak juga, Mas. Lyla sedang tidak mau ditinggal."


"Tidak mau ditinggal?" Raut wajah Wira mendadak terlihat khawatir. Ia melirik Lyla yang sudah terlelap di bawah selimut. "Apa Lyla sakit?"


Via pun menggeleng pelan. "Tidak, Mas. Hanya saja tadi Mbak Shera kemari mau bertemu Lyla. Tapi begitulah, Lyla masih terlalu takut."


Kedua alis Wira mengerut mendengar ucapan Via. "Shera kemari?" tanyanya diiringi anggukan kepala oleh Via. "Tapi dia tidak membuat masalah kan? Dia tidak macam-macam denganmu atau pun Lyla?"


Mendengar pertanyaan itu, Via memberanikan diri menatap mata sang suami. Sambil tersenyum, Via menjawab. "Tidak, Mas. Hanya saja ..." Via tampak meragu, membuat Wira membawanya ke sebuah sofa yang berada di sudut kamar itu.


"Ada apa?" tanya Wira.


"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan, Mas."


"Apa itu?" tanya Wira dengan tangan melingkar di pinggang Via.


"Mas mandi saja dulu? Biar aku siapkan air hangatnya. Kita harus bicara dengan kepala dingin, kan?"


"Baiklah, aku akan mandi dulu."


Sekali lagi Wira memberi kecupan di kening. Ia merasa Via dan Shera adalah dua wanita yang sangat berbeda. Jika Shera acuh tak acuh, maka Via sangat lembut dan penuh perhatian. Dulu Shera bahkan tidak pernah peduli pada Wira, sebaliknya Via mengurusnya dengan sangat baik.


*****


_


_


_


_


_


_


Selepas mandi dan berganti pakaian, Wira menuju balkon, dimana Via sedang duduk sambil melamun. Pandangannya terarah pada taman yang dihiasi cahaya lampu yang indah. Tiba-tiba tepukan lembut mendarat di bahu wanita muda itu, yang membuat lamunannya sirna.


Senyum tipis masih menghiasi wajah polos wanita itu. "Mas, bukankah sepasang suami istri seharusnya saling terbuka dan tidak merahasiakan apapun?"


"Iya. Seharusnya ..."


"Kalau begitu bisakah kita saling terbuka tanpa ada rahasia di antara kita?"


Wira yang masih belum menangkap kemana arah pembicaraan Via merespon dengan anggukan kepala. tangannya terulur membelai wajah istrinya itu. "Ada apa? Bilang saja."


Terdiam, Via masih bingung. Entah harus mulai dari mana untuk mengatakan apa yang sedang mengganggu pikirannya sejak tadi. Hingga beberapa saat kemudian, ia menarik napas dalam, seolah sedang mengumpulkan keberanian. "Sepertinya Mbak Shera menginginkan Mas lagi. Tadi siang di taman, dia bilang akan merebut Mas Wira dan Lyla kembali."


Wira memejamkan mata, seraya menghela napas panjang. "Ternyata dugaan ku benar," ujarnya membuat kedua alis Via mengerut.


"Maksudnya?" tanya Via.


Wira meraih jemari Via dan menggenggamnya erat. "Aku kan sudah pernah bilang, aku mengenal Shera lebih dari siapapun. Shera adalah wanita yang penuh dengan obsesi. Dia tadi meminta kesempatan kedua dariku."


Meskipun terasa sesak, namun Via berusaha untuk menguatkan hatinya. Walau sepahit apapun, ia akan berusaha menerima kenyataan jika Wira ingin kembali pada Shera.


"Mas ... Aku tahu dan sadar, apa alasan kita menikah. Pernikahan kita terjadi hanya karena adanya kepentingan pribadi masing-masing. Tanpa adanya ikatan cinta. Dan itu tidak bisa dipaksa. Aku tahu, posisiku di hati Mas Wira tidak lebih dari seorang wanita yang sudah merawat Lyla." Via melirik Wira dengan tatapan sendu. "Apa Mas Wira masih mencintai Mbak Shera?"


Wira tertegun mendengar pertanyaan itu. Namun, ia masih tersenyum tipis, dengan genggaman tangannya yang semakin erat. "Sayang ... Aku tahu kemana arah pembicaraanmu. kau mau bilang, aku boleh kembali pada Shera? Begitu?"


Via terdiam. Namun, dalam hati terasa berkecamuk. Walau bagaimana pun ancaman Shera benar-benar membuatnya khawatir. "Bukan begitu, Mas. Hanya saja, aku pikir Mas Wira masih ---"


"Aku minta maaf. Kau benar sepasang suami istri seharusnya saling terbuka. Aku memang belum bisa melupakan rasa sakit akibat perbuatan Shera. Tapi bukan berarti aku masih mencintainya dan ingin kembali." Ucapan Wira membuat Via kembali menatapnya. Kali ini dengan bola mata berkaca-kaca. "Aku hanya belum bisa melupakan rasa kecewa karena pengkhianatan nya. Tentang Shera mau apa, aku sama sekali tidak peduli. Sekarang bagiku yang penting adalah kau dan Lyla. Hanya kalian berdua. Aku tahu, di antara kita mungkin belum ada cinta. Tapi bukankah cinta akan tumbuh dengan sendirinya karena adanya kebersamaan?"


Via mengangguk. Dirinya pun mengakui dalam hati belum mencintai Wira sepenuh hati, selain karena kewajibannya sebagai seorang istri.


"Aku hanya takut Mbak Shera akan mengambil Lyla dari aku," lirih Via dengan kepala menunduk. Ia menahan air mata agar tidak terjatuh. "Lyla adalah segalanya bagiku, Mas."


"Itu tidak akan terjadi. Aku dan Lyla adalah milikmu."


"Milikku?"


"Ya, dan akan selalu begitu. Tadi juga Shera datang ke kantor dan meminta hal yang sama. Tapi aku menolaknya. Mungkin karena itu dia kemari dan mengancam mu." Wira menangkup wajah Via dan menatapnya dalam-dalam. "Tapi aku yakin, kau tidak akan mudah diperdaya oleh Shera."


Via tersenyum. Ia ingat kejadian tadi siang dimana dirinya melayangkan tamparan keras ke wajah Shera. "Tidak, Mas. Aku hanya bilang kalau Mas Wira memilih dia, maka artinya Mas Wira miliknya."


"Bagus. Karena aku tidak akan terjebak lagi oleh wanita sepertinya."


Akhirnya, senyum kelegaan terbit di wajah Via. Ia menyandarkan kepala di dada suaminya itu.


"Kau tahu satu hal ... Aku akui, harus berterima kasih pada Shera karena sudah membuang Lyla. Sehingga aku bisa terlepas darinya, dan menemukan istri sebaik dirimu," ucap Wira.


*****