
Sudah larut malam, namun Via belum dapat memejamkan mata. Bayang-bayang Aldi masih saja menghantui pikirannya. Jika saja Wira tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi. Via tak sanggup untuk membayangkan. Pun dengan kata-kata Aldi yang teramat menggores luka di hatinya. Tentang ucapan Wira dahulu yang begitu menghina dirinya.
Mungkin ini hukuman untukku. Aku tidak memikirkan akibatnya sebelum memasuki dunia itu. Dan mungkin julukan wanita malam akan melekat dalam diriku selamanya.
Setitik air mata mengalir di pelupuk matanya. Ditatapnya wajah Wira yang kini sudah terlelap. Seorang pria yang telah menjadi suaminya. Terlepas dari adanya cinta atau tidak di hati Wira, bagi Via mencintainya adalah kewajiban sebagai seorang istri. Namun, tak dapat dipungkiri oleh wanita itu, bahwa ucapan Aldi telah mengundang lara di hati.
Apa Mas Wira benar-benar akan menceraikan aku seperti kata Aldi? dalam batinnya.
Pelan-pelan, Wira menggeliat ketika merasa Via tak lagi berada di peluknya. Ia membuka mata dan mendapati sang istri sedang duduk bersandar, dengan gurat kesedihan di wajahnya.
"Via, kenapa belum tidur?" tanya Wira sedang suara serak.
Terkejut karena Wira tiba-tiba terbangun, Via menyembunyikan air matanya. Ia menyambut uluran tangan suaminya yang meminta agar berbaring kembali.
Dan, rasa hangat pun menjalar, ketika Wira memeluknya dengan erat, berikut kecupan-kecupan yang membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Belum pernah sebelumnya Via merasakan kedekatan seperti sekarang, selama pernikahan mereka.
Fitrah kemanjaan sebagai seorang istri membuatnya terhanyut. Terlebih, Wira memperlakukannya dengan sangat lembut. Dan sudah merupakan naluri alamiah manusia, jika menginginkan kasih sayang, kelembutan dan perhatian.
Memikirkan semua yang dahulu terasa mustahil, mengingat betapa benci Wira padanya, membuat Via tak dapat membendung air matanya. Sehingga Wira kembali memeluknya. Selama beberapa saat, di kamar temaram itu hanya ada suara isak tangis. Wira pun terdiam. Ia membiarkan Via menumpahkan semua kesedihannya.
"Sudah jangan menangis lagi. Aku minta maaf untuk semua kesalahanku selama ini," ucap Wira mengusap punggung Via, seakan ia dapat mengerti apa yang membuat sang istri menangis.
Hingga beberapa saat kemudian, wanita itu baru dapat mengendalikan perasaannya. Ia masih berbaring dalam pelukan sang suami.
************
_
_
_
"Mas ..." panggilnya.
"Ehm ..."
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh."
Terdiam, Via tak sanggup berkata-kata. Sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya tak dapat ia tuturkan. Entah harus bagaimana cara menyampaikannya.
"Apa? Kenapa diam?" tanya Wira, setelah beberapa saat sang istri terdiam.
Via menghela napas sembari memejamkan mata. Antara takut dan ragu untuk bertanya. Akhirnya, ia memilih menanyakan hal lain. "Mas kenapa tiba-tiba ada di rumah tadi? Bukannya Mas bilang belum jadi pulang?"
Wira mengerutkan alis mendengar pertanyaan itu. "Jadi hanya itu mau kau tanyakan sejak tadi?" tanyanya diiringi anggukan kepala oleh Via, membuat Wira tertawa kecil, hanya untuk menanyakan itu saja, ia harus menunggu lama. "sebenarnya tadi pagi aku sudah di bandara. Aku mau membuat kejutan untukmu dan Lyla. Jadi aku pulang dulu untuk mandi dan ganti baju. Tapi aku malah ketiduran di sini."
"Benarkah?"
"Hmm ... Untung saja aku mendengar suara berisik dari bawah. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi." Wira kembali memeluk dan memberi kecupan sayang di wajah yang baginya sangat manis itu. "tidurlah, sudah larut malam."
"Mas duluan saja, aku belum mengantuk."
"Tidak ada, Mas," jawabnya.
"Kalau tidak ada, ayo tidur." Wira menarik selimut, dan menutupi tubuh mereka.
Ia kemudian menangkup wajah Via dan menatap dalam-dalam matanya. Tangannya pun terulur, membelai wajah sang istri. Dan tanpa berkata apa-apa lagi, Wira mendaratkan ciuman yang manis di bibir. Via yang begitu kaku dalam hal berciuman membuat Wira merasa gemas, hingga sesekali memberikan gigitan lembut.
Dan, saat melepaskan ciuman, laki-laki itu mendapati wajah sang istri yang telah merona merah, sehingga Wira tidak tahan untuk tidak melahap bibir yang baginya memiliki rasa manis itu.
Selama beberapa saat, kedua bibir itu saling berpangutan. Via yang masih kesulitan mengatur napas beberapa kali mencoba melepasnya. Namun, Wira seakan tak peduli. Di dalam kamar temaram itu, hanya ada suara decapan. Perlahan, tangan Wira sudah mulai menjelajah ke kebun strawberry milik Via, membuat si pemilik kebun menggeliat karena sensasi geli yang ditimbulkan oleh tangan jahil itu.
"Mas ..."
"Stttt!!! Nikmati saja!" bisik Wira. Ia kembali memberi kecupan di mana-mana. Wajah, leher, dan dada. Wira bahkan telah berada di atas tubuh Via, dan tak memberinya celah untuk meloloskan diri. Laki-laki itu ingat betul pesan terakhir Dokter Willy yang tadi sempat berkirim pesan dengannya.
Lakukan malam ini, kalau tidak, besok Lyla akan menjadi orang ketiga di antara kalian. Jangan pedulikan soal cinta. Karena cintamu akan tumbuh setelah kau menikmati manisnya kebersamaanmu. Inilah isi pesan Willy, yang telah berhasil meracuni otak Wira.
"Mas ..." dengan wajah merona merah, Via menahan tangan Wira yang sedang membuka kancing pakaiannya satu persatu. Namun, Wira tak bergeming. Ia kembali melancarkan serangannya. Kulit putih mulus Via membuatnya tak dapat menahan gejolak dalam dirinya.
Tangan laki-laki itu kembali mendarat di perkebunan yang baginya sangat indah dan memiliki bentuk sempurna. Ia memberikan sentuhan di setiap bagian. Bahkan Wira telah berhasil melepas selembar kain berbentuk kacamata yang menutupi buah strawberry yang sejak tadi diincarnya.
Di dorong oleh keinginan yang begitu kuat, Wira menatap dalam-dalam mata sang istri yang kini berada di bawahnya.
"Apa boleh?" tanya Wira dengan raut wajah yang sudah tak tertebak.
"Mas, aku ..."
"Jangan bilang tidak! Hanya malam ini saja. Besok kau akan jadi milik Lyla. Dia tidak akan mau membagimu denganku."
Masih dengan wajah merona merahnya, tanpa berani menatap sang suami, Via menjawab, "Aku datang bulan, Mas!"
JEDUAAARRRRR !!!!!!
****
Ekspresi seorang Wiratama 👉🥴🥴🥴
"Heh kamu....!!!" panggil otor.
"Akoohhh???" ucap reader menunjuk dadanya sendiri.
"Iya, kamuuu!"
"Ada apa ya Thor?"
"Ngapain senyam senyum?"
"Hehe, akoh pengen kayak Via Thor!"
"Hiliiihhhh 😒😒😒... Bilang aja lagi nunggu adegan bongkar kebon"
"Kok tau sih thor, jadi malu ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤"