Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Maaf, Aku Sudah Berlebihan!


Wira terlonjak kaget saat mendengar suara teriakan menggelegar ayahnya yang menggema di ruangan itu. Ia mengusap dada pelan, lalu melirik ke arah ruang keluarga dimana ayah, ibu dan Via sedang duduk bersama.


Dengan langkah meragu, ia mendekat. Jika sudah berurusan dengan menantu kesayangannya, sudah pasti pria paruh baya itu akan menganaktirikan anak kandungnya demi membela sang menantu. Tak jarang, Wira menjadi tersangka utama jika terjadi sesuatu pada Via.


"Ada apa, Yah? Kan bisa jangan teriak," ucap Wira menjatuhkan tubuhnya di sofa. Tangannya terulur meraih beberapa camilan di meja, namun, punggung tangannya seketika mendapat hadiah tepukan dari ayahnya itu.


"Awh ... Ini sakit!" ucapnya sembari mengibaskan tangannya.


"Apa yang kau lakukan pada istrimu? Bukankah dia mau es krim? Kenapa tidak kau penuhi?" bentaknya membuat Wira kembali mengusap dada.


Wira melirik tiga orang yang duduk di sana bergantian, kemudian menghela napas panjang. "Aku mulai merasa seperti anak tiri di rumah ini," ucapnya berusaha mencairkan suasana.


"Bila perlu aku akan menendang mu keluar dari rumah ini kalau macam-macam," sahut ayah memelototkan matanya.


"Ya ampun ... Ayah, coba bayangkan, Via mau es krim, tapi es krim itu ada di Singapura."


"Lalu apa masalahnya kalau hanya di Singapura?"


Wira menganga tak percaya mendengar ucapan ayahnya itu. "Yah, ke Singapura hanya untuk beli es krim?" ucapnya heran. "Aku tahu harga es krim itu dulu hanya satu dolar. Tapi ..." Ia tidak tidak melanjutkan lagi ucapannya ketika pelototan mata berasal dari ibu.


"Singapura itu tidak jauh. Apa salahnya membawa istrimu ke Singapura? Anggap saja kalian sedang berbulan madu," ucap ibu menekan.


Wira kemudian melirik Via yang sudah menundukkan kepala, lalu berusaha menjelaskan pada ayah dan juga ibu yang sepertinya menatap sinis dirinya.


"Jadi maksudnya aku harus menuruti keinginan ngidam yang berlebihan untuk membeli es krim ke Singapura, begitu? Dan besok-besok kalau dia mau makan sushi, maka kami harus ke Jepang untuk membelinya, ngidam kebab harus ke Turki, kalau ngidam spaghetti harus ke Italia, dan kalau ngidam makan kurma harus membelinya ke Arab?" Ucapan Wira yang bermuatan ledekan semakin membuat kedua orang tuanya menatap geram, sementara Via menunduk, dengan mata yang telah dipenuhi cairan bening.


"Wira!" seru ayah. "Kau ayah dari anak yang dikandung Via. Tidak seharusnya kau bicara seperti ini!"


"Aku tahu, Yah ... Tapi kalau ke Singapura hanya untuk membeli es krim, bukankah itu terlalu berlebihan?"


Via yang sejak tadi hanya menjadi pendengar dalam perdebatan itu hanya diam, bahkan ia tak berani lagi mengangkat kepala.


Tidak seharusnya aku meminta sembarangan. Seharusnya aku sadar diri sejak awal kalau Mas Wira tidak menganggap ku penting. Aku hanyalah gadis panti asuhan yang kebetulan beruntung bisa tinggal di keluarga ini. Sekarang mereka jadi berdebat hanya karena aku. Batin Via.


Mendengar ucapan Wira, ia akhirnya berdiri, lalu menyeka air matanya.


"Tidak usah, Mas. Aku sudah tidak mau es krimnya. Tadinya aku tidak tahu kalau es krim itu adanya di Singapura, makanya aku memintanya. Dan maaf aku sudah meminta yang berlebihan. Aku tidak akan meminta apapun lagi."


Tanpa sepatah kata pun lagi, Via melangkah pergi. Menapaki anak tangga satu persatu menuju lantai atas. Tinggallah Wira duduk mematung, dengan hadiah pelototan mata dari kedua orang tuanya.


"Kau lihat hasil perbuatanmu? Kau sudah keterlaluan!" ucap ayah menekan, lalu ikut melangkah pergi memasuki sebuah kamar. Tak tahan, ibu pun akhirnya menyusul, meninggalkan Wira yang masih membeku. Tiba-tiba raut kesedihan yang terlihat di wajah Via tadi membuatnya merasa bersalah.


"Apa aku sudah keterlaluan, ya?" gumam Wira


*****


Setibanya di lantai atas, Via buru-buru memasuki kamar Lyla dan mengunci pintunya. Ia segera duduk di bibir tempat tidur, dengan berurai air mata.


Tiba-tiba bayang-bayang ucapan Shera beberapa waktu lalu terngiang kembali. Saat wanita itu dengan angkuhnya berkata, saat mengandung Lyla, Wira sangat memanjakan dan menuruti apapun keinginannya sekalipun itu keinginan yang berat. Bahkan Shera mengaku pernah ke Paris hanya untuk membeli sebuah tas branded.


Jika dahulu Shera menuntut ini dan itu, maka berbeda dengan Via yang sejak awal menikah hingga kini belum pernah sekali pun meminta apapun dari suaminya itu. Namun, saat meminta sesuatu, sang suami malah menganggap permintaannya berlebihan.


Dan, ucapan Wira yang mengatakan keinginan ngidam Via berlebihan seolah menegaskan betapa tidak berartinya Via bagi Wira, begitulah dalam benak Via.


Via menatap pantulan dirinya melalui sebuah cermin, lalu mengusap air mata. "Memangnya aku ini siapa? Aku hanyalah ibu pengganti untuk Lyla di mata Mas Wira. Keinginanku makan es krim saja dianggap berlebihan. Aku kan tidak tahu sebelumnya kalau es krim itu adanya di Singapura. Aku juga tidak akan meminta kalau tahu sejak awal es krim itu dari tempat yang cukup jauh."


******