Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Wanita Itu Biasa-Biasa Saja!


Di dalam sebuah kamar, sedang terjadi perdebatan menjelang tidur. Lyla tidak membiarkan sang ayah untuk mendekat pada bundanya. Seakan hanya dirinya yang boleh memiliki Via, gadis kecil itu memeluk erat dengan posisi membelakangi Ayahnya.


"Ayah jangan pegang-pegang tangan bunda lagi!" ucapnya tak terima.


"Iya, tidak!" Wira menghela napas berat. Hanya untuk sekedar menggenggam tangan sang istri saja harus terhalang oleh restu anak.


"Bunda punya Lyla, bukan punya ayah!"


"Iya, bunda punya Lyla. Ayah kan cuma pinjam tangannya."


"Tidak boleh!"


"Sayang, tidak boleh begitu sama ayah," ucap Via membelai lembut wajah gadis kecil itu.


Lyla terdiam mendengar ucapan sang bunda. Selama beberapa hari ini, ia selalu menjadi orang ketiga antara Wira dan Via. Akhirnya, untuk kesekian kalinya, Wira harus mengalah. Ia menarik selimut tebal itu, menutupi seluruh tubuhnya dengan bibir mengerucut.


Via pun hanya dapat tersenyum pelik, ketika dirinya berperan menjadi penengah saat terjadi perdebatan antara ayah dan anak itu.


*****


Pagi harinya ...


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu, membuat Surya yang sedang berada di ruangan tuannya segera membuka pintu. Tampak Via di sana dengan seulas senyum hangatnya.


"Ayah memanggilku?" tanya Via sesaat setelah memasuki ruangan itu.


"Iya, Nak! Duduklah."


"Ada apa, Ayah?" tanya nya.


"Ada sesuatu yang penting, yang harus kita bicarakan."


"Tentang apa?"


Pria paruh baya itu terlihat meragu, memikirkan antara Shera dan Via. Dan kediaman ayah mertua, membuat Via mengerutkan dahinya.


"Ayah?" panggilnya membuyarkan lamunan pria itu.


"Via ... Aku sudah bicara dengan Shera. Dan dia setuju untuk menjadi pendonor Lyla."


Raut wajah Via pun berbinar mendengar ucapan ayah mertuanya itu. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Kini ia memiliki harapan besar untuk kesembuhan putri kecilnya.


"Syukurlah," ucapnya sembari mengusap setitik air mata. "Terima kasih, Ayah. Setidaknya Lyla punya satu harapan untuk sembuh."


Tuan Gunawan tersenyum. Ia dapat melihat kebahagiaan yang begitu besar tergambar di wajah menantunya itu. "Semoga saja sumsum tulang belakang Shera cocok dengan Lyla," ucapnya diiringi anggukan kepala oleh Via.


"Apa Mas Wira sudah tahu?" tanya Via.


"Aku sudah bicara dengannya semalam. Via, apa kau keberatan kalau Shera datang menemui Lyla?" Ragu-ragu pria paruh baya itu bertanya.


"Kenapa aku harus keberatan? Bukankah Mbak Shera adalah ibu kandung Lyla. Lagi pula dia sudah mau menjadi pendonor untuk Lyla dan aku harus berterima kasih padanya. Ayah tidak perlu minta izin padaku."


Tidak ada kata yang terucap, Tuan Gunawan begitu terkagum pada kebaikan hati menantunya itu. Via bukan hanya sosok wanita baik hati dan tulus, namun juga sangat lembut. "Walau pun begitu kau adalah ibu yang merawat Lyla sejak bayi. Tidak ada yang lebih berhak atas dirinya selain kau, Nak. Karena itulah, aku meminta izinmu, Shera ingin menemui Lyla."


"Tidak apa-apa, Ayah. Aku tidak keberatan."


"Baiklah, Nak. Shera mungkin akan datang malam ini untuk bertemu Lyla."


Via mengangguk pelan. Segenap hatinya merasa bahagia mendengar kabar itu. Walaupun nantinya ia mungkin akan tersisih jika ternyata Lyla akan lebih dekat dengan Shera yang merupakan ibu kandungnya, namun semua perasaan itu ditepis Via. Ia menyingkirkan semua ego nya demi Lyla.


******


Malam pun tiba ...


Shera baru saja tiba di sebuah rumah yang telah lama ditinggalkannya. Ia menatap bangunan mewah itu dengan perasaan tak menentu. Bayang-bayang masa lalu pun bermunculan, ketika ia bagaikan ratu di rumah itu. Boleh jadi Shera menyesal telah melepas sebuah keluarga yang begitu menyayanginya dengan tulus hanya demi mendapatkan kebahagiaan semu.


Namun, nasi telah menjadi bubur. Kini ia telah kehilangan segalanya. Wira, kedua mertua, dan juga anaknya.


Ragu-ragu, ia melangkah masuk. Pandangannya berkeliling menatap setiap bagian rumah itu. Hingga tiba di sebuah ruangan, dimana seorang wanita paruh baya duduk bersama seorang wanita muda dan anak perempuan cantik yang ia yakini adalah istri baru Wira dan juga anaknya.


Tanpa banyak bicara, Shera langsung mendekat, bersimpuh di hadapan mantan ibu mertuanya sambil menangis.


"Ibu ... Maafkan aku. Aku sudah melakukan kesalahan besar," lirih Shera berlutut di hadapan wanita itu. Ibu melirik Via dan Lyla sekilas, lalu kembali berfokus pada Shera.


"Sudahlah, Shera. Bangunlah, jangan begini," ucapnya membantu Shera bangkit dan duduk di sebelahnya. Shera menyeka air matanya, lalu melirik seorang gadis kecil yang duduk di pangkuan seorang wanita muda, dengan sebuah boneka barbie usang di tangannya.


Sementara Via menatap Shera dari ujung kaki ke ujung kepala. Seorang wanita cantik dan anggun yang menjadi istri pertama suaminya.


Pantas saja Bibi Arum pernah bilang, Mas Wira sangat mencintai Mbak Shera. Ya, dia wanita yang sangat cantik. Apakah mungkin sekarang Mas Wira masih mencintai Mbak Shera? ucap Via dalam batin.


"Bu, apa itu adalah Lyla anakku?" tanya Shera membuat ibu mengangguk.


Dan, entah mengapa pertanyaan itu menggores luka di hati Via. Mendengar seseorang menyebut Lyla sebagai anaknya membuat wanita itu seakan tak rela.


Sedangkan Lyla yang merasa begitu asing dengan orang baru hanya melirik sesekali dengan ekor matanya. Ia menatap bundanya, seakan meminta penjelasan tentang siapa wanita yang duduk di samping Oma.


Masih dengan deraian air matanya, Shera mendekat pada Lyla. Ia berusaha meraih tubuh mungil itu, namun sungguh sayang, Lyla malah menolak. Ia menyembunyikan wajahnya di dada sang bunda.


"Bunda, Lyla takut ..." ucapnya menatap Via.


"Lyla, Sayang, jangan takut. Itu Bunda Shera. Bundanya Lyla juga."


Sekali lagi, Lyla menoleh pada seorang wanita yang sejak tadi begitu ingin memeluknya, lalu kembali bersandar di dada Via. "Bukan. Bunda Lyla cuma satu. Tante itu bukan bunda Lyla." Ucapan polos Lyla membuat air mata Shera mengalir semakin deras. Jika dulu dirinya menolak kehadiran Lyla, kini Lyla lah yang menolak menerimanya sebagai ibu.


"Sayang ... ini bunda. Bunda melahirkan Lyla," ucap Shera mencoba meraih tangan Lyla.


"Bukan!" seru Lyla, lalu menatap Via dengan mata berkaca-kaca. "Bunda ... Lyla takut Bunda."


Tidak ingin Lyla semakin ketakutan, Via pun memeluk putri kecilnya itu, sehingga Shera kembali duduk di samping ibu. ia menyeka air matanya yang berjatuhan.


Suasana canggung pun tercipta, sebab Lyla sama sekali tidak mau disentuh oleh Shera. Bahkan ia akan menangis jika Shera atau pun Via mencoba membujuk untuk menerima Shera sebagai bundanya. Alhasil, salah seorang pengasuhnya terpaksa membawanya ke kamar.


Tak berselang lama, Wira tiba di rumah. Saat melewati ruang keluarga, langkahnya terhenti saat menyadari siapa yang duduk di sana bersama ibu. Namun, sungguh di luar dugaan Shera, Wira terlihat tak peduli.


Wanita cantik itu berdiri dari duduknya dengan kepala menunduk, dan hanya sesekali mencuri pandang pada mantan suaminya itu.


"Wi-Wira ..." ucapnya pelan.


Wira tak menyahut. Ia menatap dingin pada Shera, lalu melirik Via sekilas.


"Sayang ... Bisa ikut aku ke kamar?" tanya Wira pada Via.


Via menatap ibu dan Shera bergantian, lalu berdiri dari duduknya. "Maaf, permisi sebentar." Ia mendekat pada Wira. Tangannya terulur mencium punggung tangan suaminya itu -- sesuatu yang sebelumnya tak pernah dilakukan oleh Shera.


Sambil melingkarkan tangannya di pinggang Via, mereka melangkah beriringan menapaki anak tangga satu persatu. Shera yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Via, menundukkan kepala.


Walaupun ia berusaha meyakinkan dirinya dalam hati bahwa dirinya tidak mencintai Wira, namun tetap saja ada perasaan yang lain melihat Wira bersama wanita lain.


Wanita itu biasa-biasa saja dan masih sangat muda. Tapi sepertinya ayah, ibu dan juga Wira memperlakukannya dengan istimewa. Terutama Lyla.


******