
Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, kondisi Shera sudah membaik, sehingga diizinkan pulang. Tanpa menunggu waktu lagi, Tuan Gunawan memutuskan untuk segera kembali ke ibu kota, dengan memboyong Shera bersamanya. Pria itu pun telah meminta Surya mengurus segalanya, termasuk membayar hutang-hutang Shera yang jumlahnya terbilang fantastis.
Saat ini mereka sudah berada di sebuah apartemen mewah miliknya. Yang akan menjadi tempat tinggal Shera. Saat memasuki tempat itu, Shera berdecak kagum. Sebuah apartemen super mewah dengan fasilitas lengkap. Sangat berbeda dengan huniannya selama ini. Mereka kemudian duduk di sebuah sofa panjang, dan membicarakan beberapa hal.
"Wira sudah menemukan anak kalian. Syukurlah, ada orang baik yang menemukan dan merawatnya," ucap Tuan Gunawan.
Shera menundukkan kepala, merasa malu dengan perbuatannya yang tega membuang anaknya sendiri. Bahkan ia tak pernah memikirkan nasib bayi malang yang ditinggalkannya beberapa tahun lalu. Mengingat semua itu, rasa bersalah menjalar di hatinya.
"Maafkan aku, Ayah. Aku bersalah."
Meskipun raut wajah Tuan Gunawan jelas tergambar kesedihan, namun ia tetap tersenyum tulus ke arah Shera.
"Aku yang harus minta maaf. Aku dan ayahmu sudah memaksamu menikah dengan Wira, padahal kami tahu kau tidak mencintai Wira," ujarnya penuh sesal.
"Aku sangat menyesal, Ayah."
Pria paruh baya itu menatap Shera, masih dengan senyum yang sama. "Lupakanlah. Sekarang yang terpenting adalah anakmu, Lyla."
"Lyla? Namanya Lyla?"
"Iya ... Saat ini dia sedang berjuang hidup melawan kanker darah. Kami membutuhkan pendonor sumsum tulang belakang. Wira sudah melakukan tes, tapi hasilnya tidak cocok. Kau adalah harapan kami satu-satunya."
Seluruh tubuh Shera terasa meremang mendengar ucapan Tuan Gunawan. Walaupun sebelumnya ia tidak menginginkan adanya anak dalam pernikahannya dengan Wira, namun ia tetaplah seorang ibu. Yang akan sedih jika mendengar anaknya dalam keadaan sakit.
Wanita itu memberanikan diri mendongakkan kepala, menatap wajah pria di depannya. Air matanya lolos begitu saja. Kini, ia baru menyadari semua perbuatannya.
"Anakku mengidap kanker darah?" tanya nya dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya.
Tuan Gunawan mengangguk pelan. "Iya. Kata dokter, kita bisa menyelamatkan nya dengan pencangkokan sumsum tulang belakang. Shera, apa kau bersedia melakukan tes? Kau ibunya, kau memiliki peluang besar memiliki kecocokan dengannya. Aku akan berikan apapun yang kau mau. Asal kau mau menjadi pendonor untuk Lyla."
Seketika ruangan itu penuh dengan Isak tangis wanita itu. Ia menangis pilu. Sementara Tuan Gunawan melirik Surya yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan tatapan dinginnya.
"Kau bersedia, kan?" tanya Tuan Gunawan sekali lagi.
Shera menyahut dengan anggukan kepala pertanda setuju. Ia bahkan belum dapat berkata-kata. Yang dilakukannya hanya menangis dan menangis.
"Ayah ... Apa boleh aku bertemu dengan anakku?" lirihnya.
"Terima kasih, Ayah."
"Baiklah, istirahatlah. Kalau kau butuh sesuatu, hubungi saja Surya," ucapnya dengan senyum ketulusan.
Pria paruh baya itu kemudian melangkah keluar dari ruangan itu. Setelah meyakini Tuannya sudah keluar, Surya pun mendekat pada Shera, membuat wanita itu merasa tak nyaman. Surya selalu menunjukkan rasa tidak sukanya pada Shera secara terang-terangan.
"Ini kunci apartemen, kunci mobil dan juga sebuah kartu tanpa batas. Mbak Shera bisa menggunakan semua ini."
Shera mengulurkan tangannya, menerima beberapa benda pemberian Surya. Setelahnya, pria itu beranjak keluar, namun suara panggilan Shera menghentikan langkahnya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" ujar Shera.
Surya berbalik, menatap Shera dingin. "Silakan!"
"Kenapa aku harus tinggal di apartemen ini? Kenapa tidak di rumah ayah saja? Bukankah anakku ada di rumah ayah?"
Dengan wajah datar, Surya menjawab, "Den Wira sudah menikah lagi, jadi Tuan tidak mungkin membawa mbak Shera ke rumah."
Seketika raut wajah Shera berubah mendengar ucapan Surya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Wira sudah menikah lagi.
"Apa? Wira sudah menikah lagi ... Tapi kenapa ayah tidak bilang padaku tadi?"
"Karena itulah saya memberitahu Mbak Shera." Surya menatap tajam pada wanita di depannya. "Sejak kepergian Mbak Shera, nyonya depresi dan sakit selama bertahun-tahun. Nyonya baru dinyatakan pulih beberapa waktu lalu. Dan lagi pula, nyonya sangat menyukai istri Den Wira. Begitu pun dengan anak Den Wira," ujarnya bernada sindiran.
Shera yang sejak awal menyadari bahwa Surya tidak pernah menyukainya, hanya menghela napas panjang. Ia membalas dengan tatapan tak kalah sinisnya. "Apa kau masih menyimpan dendam padaku?"
"Tidak. Tapi tolong jangan buat masalah lagi. Saya permisi." Laki-laki berperawakan tinggi besar itu menundukkan kepala, sebelum meninggalkan ruangan itu. Menyusul tuannya yang sudah keluar lebih dulu. Tinggallah Shera dengan sekelumit tanda tanya di benaknya.
"Wira sudah menikah lagi? Dengan siapa? Seperti apa wanita yang bisa menggantikanku?" gumamnya.
Shera menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa. Pikirannya menerawang jauh. Penasaran dengan sosok wanita yang menjadi istri Wira. Walaupun selama menikah, ia tidak pernah mencintai Wira karena pernikahan terpaksa, namun tetap saja timbul sebuah tanda tanya.
Wira sangat mencintaiku. Dan dia bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta. Wira tidak akan pernah bisa melupakanku. Tapi siapa wanita itu, yang sekarang menjadi istrinya?