Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Aku Belum Pernah menjewer Orang!


Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah kerapian jalanan ibu kota. Karena terburu-buru setelah mendapat panggilan darurat dari tuannya, Surya mengemudi bagai kesetanan. Ia bahkan lupa bahwa di sisinya ada Shera dan Lyla.


"Mas, pelankan sedikit!" ucap Shera mengingatkan suaminya itu agar mengurangi kecepatan berkendara.


Tersadar, Surya akhirnya mengurangi kecepatan, saat menyadari dua orang yang duduk di sampingnya merasa sedikit takut. "Maaf, Sayang ... aku sedang buru-buru."


"Memang ada apa, Mas? Apa terjadi sesuatu?" tanya Shera penasaran.


"Tuan Gunawan memintaku menemuinya di rumah sakit. Entahlah, sepertinya sesuatu yang penting."


Lyla yang duduk di pangkuan Shera menatap bunda dan ayah sambungnya itu secara bergantian, kemudian bertanya, "Bunda, kita mau kemana?"


"Kita mau ke rumah sakit, Sayang. Lyla mau ketemu sama adik bayi, kan?"


Seketika raut wajah gadis kecil itu pun berubah senang saat mendengar bundanya menyebut adik bayi. Ia sudah sangat lama mendambakan kehadiran adik yang setahunya memiliki jenis seperti Upin dan Ipin. Dengan tubuh kecil dan kepala botak.


"Dede bayinya syudah kelual dali peyut bunda, ya?" tanyanya penuh semangat.


Shera tersenyum, seraya membelai wajah putri cantiknya itu. Lyla yang menggemaskan begitu antusias mengetahui adiknya sudah lahir.


"Iya, Sayang. Sekarang Lyla sudah menjadi kakak. Jadi Lyla tidak boleh cengeng lagi."


"Iya, Bunda. Lyla kan anak baik." Ia tersenyum bahagia, sambil memeluk sebuah boneka usang yang sejak dulu selalu dibawa kemana pun ia pergi. Tiba-tiba terlintas kembali kejadian di panti asuhan yang membuat Via terjatuh dan meringis kesakitan. Tak terima ada yang menyakiti bundanya, Lyla yang polos pun mengadukan semua yang di lihatnya pada sang ayah.


"Ayah ..." panggilnya sambil menarik lengan Surya.


"Iya, Sayang..." Surya menyahut tanpa menoleh. Ia fokus pada jalan yang kini lumayan padat oleh kendaraan.


"Tadi bundanya Lyla didolong sama om jahat di panti. Tyus bunda jatuh. Bundanya nangis, Ayah. Dede bayi di peyut bunda jadi sakit."


Laki-laki itu mengerutkan dahi mendengar ucapan gadis kecil itu. Ia berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Lyla. Namun, kadang pengucapan Lyla yang masih sedikit belepotan membuatnya bingung.


"Kenapa tadi? Bundanya Lyla kenapa?" tanya nya hendak memastikan.


"Katanya bundanya didorong orang, Mas," ucap Shera menjelaskan. "Siapa yang dorong bunda, Sayang?" tanya nya pada Lyla.


"Om yang jahat, Bunda. Om nya gendut dan galak. Ayah malahin om itu ya ... Om itu jahat sama bunda."


Surya pun kembali mencoba mengartikan ucapan Lyla. Ia mulai menebak-nebak dalam benaknya. Jika Tuan Gunawan sudah meminta untuk ditemui, sudah pasti terjadi sesuatu yang tidak beres. Dan kali ini mungkin saja ada hubungannya dengan yang terjadi di panti asuhan.


"Aku mengerti sekarang. Sepertinya Tuan Gunawan memintaku menemuinya karena masalah ini."


"Mungkin saja. Tapi siapa yang mencoba mencelakai Via? Bukankah itu sama saja dengan cari masalah? Ayah pasti tidak akan melepaskan siapapun yang berusaha menyakiti Via kan?"


Surya menyeringai misterius, sebab dirinya adalah orang yang paling tahu apa yang dapat terjadi pada siapapun yang mencoba mencari masalah dengan tuannya itu. Ia kemudian melirik Lyla yang kini bersandar di dada Shera.


"Lyla ... Om yang dorong bunda mau dihukum apa, Nak?"


Dengan penuh semangat, Lyla menjawab, "Malahin, Ayah. Kuping nya di Jewel."


Sementara Shera memicingkan mata mendengar ucapan suaminya itu. Tatapannya penuh dengan kecurigaan. Sebab Surya adalah seseorang yang sangat misterius dan bisa melakukan apapun yang diperintahkan tuannya.


"Mas, jangan main-main dengan nyawa orang."


"Apanya? Memang nyawa siapa yang ku permainkan?" ucapnya pura-pura polos.


"Ya tadi Mas tanya om jahat itu mau dihukum apa ..."


"Tidak diapa-apakan! Aku belum pernah menjewer orang sampai telinganya putus. Sungguh!" Dengan santainya Surya menjawab, membuat Shera bergidik ngeri.


Kurang dari dua puluh menit mereka telah tiba di rumah sakit. Shera dan Lyla langsung menuju ruangan dimana Via berada. Sementara Surya menemui Tuan Gunawan yang kini sedang menunggunya di sebuah ruangan, tak jauh dari kamar Via.


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵


_


_


_


_


_


_


_


"Aku ingin kau memberi sedikit pelajaran pada seseorang bernama Marco, berikut orang-orang suruhannya. Bila perlu kau patahkan saja tangan laki-laki yang berani menyentuh menantuku," perintah Tuan Gunawan pada Surya.


"Baik, Tuan. Ada lagi?"


"Pastikan dia tidak bisa lagi membangun tempat hiburan malam dimana pun di kota ini."


Lagi-lagi Surya mengangguk, "Baik, itu mudah, Tuan!"


Setelah diberi perintah, laki-laki itu bergegas meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba Wira muncul dari balik pintu. Membuat langkah Surya terhenti.


"Kau tidak butuh bantuanku?" tanya Wira menyeringai.


"Kebetulan! Ayo kita pergi."


*****


Bonus malam ...