
Wira gelagapan dan tak tahu harus menjawab apa, sementara Via terus bertanya. "Aku ..." Ia menggaruk kepala pertanda bingung. "Aku habis mimisan!" Sebuah alasan bodoh yang baru saja terucap dari bibirnya membuat Via memicingkan mata. Ia menatap Wira dengan curiga.
"Mas Wira habis mimisan?"
Wira memutar bola mata ke kanan dan kiri, mencari alasan bagaikan maling yang baru saja ketahuan mencuri. "Em, maksudku ... Anu ...."
"Anu apa, Mas?"
"Itu tadi aku membantu orang yang kecelakaan saat dalam perjalanan kemari dan dia mimisan di hidung."
"Mimisan kan memang di hidung. Memang ada mimisan di tempat lain?"
"Iya, itu dia maksudku, Sayang," ujarnya. "Jangan galak-galak, nanti cantiknya hilang."
"Benar, Mas habis menolong orang, bukan memukuli orang, kan?" Via hendak memastikan. Ia masih ingat saat Wira memukuli Aldy membabi buta karena hendak melecehkannya. Bahkan, Wira bisa saja membunuh jika dalam keadaan sangat marah.
"Iya, benar. Memang siapa yang mau dipukuli? Sudah ah, jangan bicarakan itu lagi. Aku mau main dengan jagoan kecil ini."
Meskipun masih bingung dengan penjelasan sang suami, namun Via dapat bernapas lega. Setidaknya Wira hanya menolong orang yang kecelakaan, bukan habis berkelahi atau memukuli orang. Dan senyum tipis di wajah Via membuat Wira bernapas lega. Ia kembali mengecupi wajah bayi kecilnya dengan gemas. Memainkan ujung hidungnya dengan hidung mungil bayi itu.
"Kalau begitu kenapa tidak pulang ganti baju dulu? Bajunya kan kotor kena noda darah."
"Aku kan tidak tahu kalau darah Marco menempel di kemejaku," jawab Wira tanpa sadar, sehingga Via kembali menatapnya curiga. "Coba tahu kalau ada, pasti aku sudah pulang ganti ba ..." Wira menggantung ucapannya setelah sadar dengan apa yang diucapkannya barusan. Ia mengulum bibir, kesal dengan mulutnya yang kadang tak bisa berbohong.
"Marco?" Kini dahi Via mengerut dan raut wajahnya sudah berubah serius. "Sebenarnya Mas Wira habis dari mana?" Walaupun nada bicara Via selalu terdengar lemah lembut, namun Wira tetap takut jika istrinya itu akan marah.
"Ampun, Sayang! Aku tidak dari mana-mana. Sungguh!"
"Tapi tadi Mas menyebut nama Marco."
Sepertinya Wira sudah kehilangan ide. Entah alasan apa lagi yang dapat terucap. Ia hanya dapat tersenyum pelik.
"Itu orang yang kecelakaan tadi namanya Marco."
"Dalam situasi genting, Mas sempat kenalan?"
Menyerah, mungkin itu yang di rasakan Wira. Ia mulai merasa seperti seorang terdakwa yang sedang berhadapan dengan jaksa penuntut.
🌵🌵🌵🌵🌵🌵
_
_
_
_
_
_
_
Di suatu tempat ....
Surya mendorong tubuh Marco hingga terjatuh tepat di hadapan seorang pria paruh baya. Sontak, Marco mendongakkan kepala, menatap wajah pria dingin yang sedang duduk di singgasananya. Seluruh tubuhnya seketika meremang. Ia gemetar hanya dengan menatap wajah pria itu.
"Bangunlah dan duduk!" perintah pria paruh baya itu. Marco pun memberanikan diri bangkit dan duduk di sebuah kursi tidak jauh dari Tuan Gunawan. "Mana yang lainnya?" tanya nya pada Surya bermaksud menanyakan kemana pelaku lainnya, para pembuat onar di panti asuhan.
"Sudah beres, Tuan! Mereka sudah berada di tempat yang seharusnya."
Tuan Gunawan mengangguk pelan. "Baguslah." Ia kembali terfokus pada Marco setelahnya. "Aku dengar kau sudah membeli lahan panti asuhan itu dari anak pemiliknya. Apa itu benar?"
"Benar, Tuan. Tapi saya tidak tahu kalau ..."
"Ya aku tahu." Tanpa basa basi lagi, pria itu mengatakan apa tujuannya meminta Surya menyeretnya ke tempat itu. "Baiklah, beritahu aku berapa kau membelinya."
"A-apa?"
"Kau tidak dengar, Tuan Gunawan bertanya berapa kau membeli lahan itu!"
Sambil menahan rasa takut, Marco menyebutkan harga lahan panti yang dibelinya. Surya pun segera menuju meja dan mengeluarkan sebuah koper kecil dari dalam sana. Ia meletakkan koper itu dengan kasar ke hadapan Marco dan membukanya. Tampak uang dalam jumlah yang sangat banyak di dalam sana.
"Ini lebih dari harga yang kau sebutkan tadi. Jadi mulai sekarang, lahan itu milikku."
"Tapi, Tuan ..."
"Aku tidak suka penolakan," ujarnya tanpa bisa ditawar lagi. Surya kemudian meraih sebuah map dan membukanya di hadapan Marco.
"Kau hanya punya dua pilihan saja. Tanda tangan, atau kau berakhir di sini," ancam pria paruh baya itu dengan serius.
Tak ingin hidupnya berakhir sia-sia, Marco akhirnya memilih menandatangani berkas tersebut. Setidaknya uang yang digunakannya untuk membeli lahan masih dikembalikan oleh Tuan Gunawan.
"Baiklah, kau boleh pergi setelah ini."
🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari ketika Surya baru tiba di rumah. Memasuki ruang tamu, ia tampak mengendap-endap bagai seorang pencuri. Sebagian lampu di rumah itu telah dipadamkan. Bola matanya pun berkeliling, mencari sosok yang sebenarnya tak ingin dilihatnya ada di sana. Shera sangat menyeramkan baginya saat sedang marah. Bahkan wanita itu sangat senang mengancam.
"Sepertinya aman. Mungkin dia sudah tidur," gumamnya.
Laki-laki itu melepas sepatu agar suara hentakan kakinya tak terdengar. Ia hendak menapaki anak tangga menuju lantai atas, namun, saat tiba di anak tangga terakhir, tampak Shera berdiri di atas sana dengan tatapan tajamnya.
"Mas dari mana saja?"
Aduh, tamat riwayatku.
*****
Ku kasih visual Babang Surya yang ganteng paripurna.
muka juteknya Shera 😂😂😂😂😂