
Siang hari, di sebuah restoran, seperti biasa Wira dan juga Ivan sedang menikmati istirahat makan siangnya.
"Sepertinya kau sudah benar-benar bisa melupakan Shera ya ..." tanya Ivan.
Wira melirik Ivan dengan kesal, sebab tadi Ivan tak henti-hentinya membicarakan Shera yang tiba-tiba muncul di kantor.
"Apa kau sudah kehabisan bahan, sampai membicarakan wanita itu terus?"
"Ayolah, Wira! Aku hanya mau memastikan kau tidak akan terjebak olehnya lagi. Kau lupa betapa dulu kau bertekuk lutut sampai tidak bisa melihat apapun kesalahannya. Bahkan kau luluh dengan sangat mudah hanya dengan dia minta maaf."
"Itu kan dulu. Anggap saja saat itu aku bodoh." Jawaban santai Wira membuat Ivan terkekeh pelan.
"Berarti kau sudah bisa melupakannya. Apakah artinya kau sekarang sudah mencintai Via?"
Tatapan Wira kembali terarah pada sahabatnya itu. Ia meraih botol air mineral, lalu meneguknya hingga tersisa setengahnya. "Van ... kau tahu bagaimana aku. Aku memang belum bisa melupakan Shera sepenuhnya dan menggantinya dengan Via. Tidak semudah itu. Tapi ... Via adalah istriku. Dan aku sedang belajar untuk mencintainya."
"Kenapa harus belajar? Bukankah cinta akan datang dengan sendirinya?"
"Tidak semudah itu!" Sekali lagi, Wira mengulang kalimat yang selalu diucapkannya selama ini. "Via sudah banyak berkorban untuk anakku. Dan sudah kewajiban ku menjaga perasaannya."
"Jadi hubungan kalian tetap jalan di tempat saja ya? Aku pikir kau sedang program anak kedua." Ivan tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkan kalimat itu. Menggoda Wira selalu menyenangkan baginya.
"Aku belum sempat," jawab Wira dengan polosnya.
"Kenapa?"
Raut wajah Wira sudah mulai tak bersahabat. Kesal karena Ivan terus bertanya, Wira pun menjawab, "Ya belum saja."
Ivan pun mengerutkan alis mendengar jawaban itu. "Ya ampun, Via bisa bosan denganmu kalau kau seperti ini. Kau terlalu lama membuka hatimu. Jangan sampai kau menjadi duda untuk yang kedua kalinya."
"Walaupun sekarang aku belum bisa mencintai Via, tapi aku tidak akan pernah meninggalkannya."
"Baguslah! Setidaknya Shera tidak punya kesempatan untuk memanfaatkanmu lagi."
****
_
_
_
_
Terjebak dalam permainan sendiri. Mungkin itulah ungkapan yang cocok untuk seorang wanita cantik bernama lengkap Sherania Adeeva. Dengan maksud ingin kembali pada posisi yang pernah ia tinggalkan begitu saja empat tahun lalu, ia ingin membuat nama Via nampak buruk di mata keluarga. Namun, bukannya mendapat hasil yang manis, Shera malah mendapat reaksi tak terduga. Dimana Wira dan ayahnya memasang badan untuk melindungi Via.
Kini, wanita itu sedang duduk di atas mobil, menatap sebuah bangunan mewah dengan gurat penuh kebencian. Di sisinya ada sebuah kotak berisi boneka barbie yang ingin ia persembahkan untuk putrinya.
"Setidaknya aku masih punya Lyla. Dia anakku, aku yang melahirkannya bukan wanita itu," gumamnya.
Ia mengusap setitik air mata, meraih kotak boneka itu, lalu turun dari mobil.
****
_
_
_
_
_
_
Senyum kepura-puraan terbit di wajah Shera. Ia melangkah menghampiri Via dan Lyla yang sedang duduk bersama di taman. Via sedang mengajari Lyla cara mewarnai gambar, bersama seorang wanita yang ditugaskan membatu Via menjaga Lyla.
"Mbak Shera ..." ucap Via, lalu mengulurkan tangannya pada Lyla --- yang terlihat terkejut dengan kedatangan Shera.
"Lyla sayang, lihat bunda bawa apa untuk Lyla. Bonekanya cantik, kan?" Shera menunjukkan sebuah kotak berisi boneka Barbie berwarna pink. Namun, Lyla hanya melirik sekali dengan mata berkaca-kaca. Masih dengan ketakutan yang sama, gadis kecil itu langsung beralih dari kursi tempatnya duduk, memilih berada di pangkuan Via.
"Lyla takut, Bunda." Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang bunda.
"Tidak apa-apa, Sayang. Itu bunda Shera, bundanya Lyla juga."
"Bukan. Bunda Lyla cuma satu," bisiknya menahan rasa takut.
Shera menarik napas, menahan rasa sesak. Untuk kesekian kalinya, Lyla menunjukkan reaksi penolakan. Tak tahan, Shera akhirnya mendekat dan memaksa menarik Lyla dari pangkuan Via.
"Lyla kemari sama bunda! Dia bukan bunda nya Lyla," ujar Shera memaksa menarik pergelangan tangan Lyla. Hanya dalam hitungan detik, sudah terdengar suara tangisan Lyla.
Via pun mencoba menenangkan gadis kecil itu, sementara Shera terus memaksa, ia bahkan tak peduli dengan tangisan Lyla yang semakin menjadi-jadi.
"Cukup, Mbak Shera! Jangan memaksa!" seru Via mencoba melepas tangan Shera yang sejak tadi menarik lengan Lyla.
"Kau tidak punya hak menghalangiku untuk bersama anakku!" Suara bentakan Shera menggema, seiring dengan tangisan Lyla yang semakin kencang. "Berikan Lyla padaku!"
Tak peduli apapun yang dikatakan Shera, Via berdiri, sambil memeluk Lyla dalam gendongannya. Ia mengusap punggung gadis kecil itu. "Sayang, jangan menangis lagi. Kan ada bunda di sini ..."
"Takut, Bunda ..."
Tidak ingin Lyla semakin ketakutan, Via akhirnya memberi kode pada seorang pengasuh Lyla agar mendekat. Ia masih berusaha menepis tangan Shera yang mencoba merebut Lyla darinya.
"Bibi, tolong bawa Lyla ke dalam," ucap Via pada sang pengasuh. Dan dengan cepat, wanita itu membawa Lyla meninggalkan Via dan Shera.
"Aku mau anakku! Punya hak apa kau menghalangiku!" teriak Shera tak terima.
Via melirik Shera kesal hingga tangannya mengepal. "Apa kau sadar apa yang kau lakukan barusan? Lyla seorang anak penderita kanker. Emosi nya adalah sesuatu yang harus selalu dijaga dan kau baru saja menakutinya!" Via balas membentak.
Mengusap sisa air mata, Shera melirik Via dengan sorot mata penuh kemarahan. Sesaat kemudian, terdengar tawa sinis. "Kau berbicara seolah kau adalah makhluk paling suci di dunia. Lihat siapa dirimu. Kau hanya lah seorang wanita penghibur yang menjual diri demi uang. Dan kau pikir kau layak berada di keluarga ini?"
Via tak menanggapi ucapan Shera. Ia baru saja akan melangkah meninggalkan wanita itu, namun Shera segera menarik lengannya. "Aku belum selesai bicara denganmu!"
"Lepaskan!" Via menghempaskan tangan Shera yang mencengkram lengannya.
"Dengar baik-baik! Kau tidak layak berada di keluarga ini. Aku akan merebut kembali apa yang menjadi milikku. Wira milikku, dia mencintaiku. Dan lagi pula kau hanya seorang wanita malam. Sedangkan aku ... aku adalah ibu kandung Lyla, aku yang melahirkannya, bukan kau! Jadi ..."
PLAK!
Shera belum menyelesaikan kalimatnya, satu hadiah tamparan keras dari Via sudah mendarat di wajahnya.
Geram, ia mencoba membalas tamparan itu, namun dengan cepat Via menggenggam pergelangan tangannya yang telah terangkat, lalu menghempasnya.
"Jangan pernah mengakui dirimu sebagai ibu dari anakku. Karena kau sama sekali tidak layak menjadi seorang ibu. Kau sudah kehilangan fitrahmu sebagai seorang ibu sejak membuangnya. Lyla adalah anakku. Terlepas dari rahim siapa dia terlahir. Dan Mas Wira ... kalau lebih memilihmu, maka dia milikmu!"
Setelah mengucapkan kalimat pedasnya, tanpa permisi, Via meninggalkan Shera yang masih mengusap wajahnya yang kebas, akibat tamparan dari Via. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi taman, mencoba meredam amarahnya dengan menarik napas beberapa kali.
****
akoh kasih visual Wira Sableng!
Maciiih kak BudyYarti lope lope sudah menemukan visual Babang sableng
😍😍