Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Kau tidak Bisa menjadi ....


Wira, Via, Oma dan juga Lyla baru saja tiba di rumah sakit, bersamaan dengan Shera yang juga baru datang. Wanita cantik itu melangkah menuju tempat dimana Via dan Lyla berada. Sontak si kecil Lyla menyembunyikan wajah dengan membenamkan ke tubuh sang bunda. Via pun segera meraih Lyla dan menggendongnya.


"Jangan takut, Sayang. Bunda Shera cuma mau peluk Lyla," bisik Via sembari mengusap punggung Lyla.


"Lyla takut, Bunda," Lyla balas berbisik, membuat Wira mengusap rambutnya. Ia menatap Via sembari memberi kode agar tidak memaksa Lyla untuk menerima Shera.


"Selamat siang," ucap Shera ketika telah berada di hadapan Via dan Wira.


"Selamat siang, Mbak Shera," jawab Via. Sementara Wira masih terdiam. Enggan menjawab sapaan itu.


Shera melirik Lyla dengan tatapan sendu. Sejak kembali dari Bali, belum sekali pun ia dapat memeluk putri kecilnya itu, sebab Lyla selalu menolak.


"Lyla ... Kemari dulu sama bunda, ya. Bunda cuma mau peluk Lyla sebentar." Ia mengulurkan tangan pada Lyla, namun semakin erat Lyla memeluk Via. Dan hal itu membuat air mata Shera kembali berjatuhan.


Menyadari keadaan itu, Via berusaha membujuk Lyla, namun tak memaksa. "Sayang ... Lyla tidak kasihan sama Bunda Shera. Lihat, bunda nya nangis. Ayo, peluk Bunda Shera dulu, Nak!"


Senyap! Lyla tak menyahut. Ia menyembunyikan wajah di ceruk leher Via, sambil bergumam kecil. "Takut, Bunda ..." bisiknya.


Via menurunkan Lyla dari gendongannya. Kemudian berjongkok di depannya. Ia menatap dengan sebuah senyuman teduh. "Lyla, Bunda Shera, sama dengan bunda. Sama-sama sayang Lyla. Ayo Sayang, peluk Bunda Shera."


Walau pun ragu, namun Lyla tetap mengangguk. Gadis kecil itu berbalik, sehingga kini berhadapan dengan Shera. Tak ada kata yang terucap dari bibir Shera. Yang ia lakukan hanya membelai wajah Lyla, dan sesaat kemudian memeluknya erat.


Ada sebuah rasa yang sulit diungkapkan. Bahagia, namun juga menyesali perbuatannya di masa lalu, yang begitu tega membuang seorang anak yang terlahir dari rahimnya sendiri. Shera tak dapat lagi membendung air matanya. Ia ingat kala itu, dimana hatinya penuh dengan kebencian pada seorang pria yang menjadi suaminya.


"Lyla ... Maafkan bunda. Bunda sayang Lyla," ucapnya tanpa melepas pelukan.


Lyla masih mematung. Ia mendongak menatap Via dan segera dibalas senyuman oleh wanita itu. Sesaat kemudian, Shera melepas pelukannya. Ia mengecupi wajah polos itu.


"Lebih baik sekarang kita masuk. Lyla ada jadwal kontrol dengan Dokter Irene. Kita juga harus menemui Dokter Willy. Dia sudah menunggu sejak tadi," ucap Wira memecah suasana haru itu.


Shera mengusap air matanya. Walaupun masih dilanda kerinduan, setidaknya ia sudah memeluk gadis kecil itu sebagai pelipur lara.


****


Dengan senyum ramahnya, Dokter Willy menyambut kedatangan Wira, Via dan juga Shera. Sementara Ibu dan Lyla menunggu di sebuah ruangan.


"Lihat, ini masih tersegel. Aku akan membacakannya," ujar sang dokter. Ia kemudian membuka amplop tersebut dan mengeluarkan secarik kertas.


Terlihat serius, Dokter Willy membaca kata demi kata yang tersirat di dalam kertas itu. Raut wajah sang dokter yang mendatar tanpa senyum membuat tiga orang yang duduk di depannya harap-harap cemas. Terlebih Via, yang begitu berharap akan menemukan hasil yang positif demi kesembuhan Lyla.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Via seakan tak sabar lagi. Bahkan Wira dapat merasakan tangan sang istri yang gemetar, walaupun ia telah menggenggamnya erat.


"Dokter, apa hasil nya cocok? Seharusnya cocok kan? Aku ibu kandungnya. Dan ---" Shera menggantung ucapannya, ketika Dokter Willy menghela napas panjang sembari melepas kacamata. Ia menatap satu persatu ketiga orang itu.


"Walaupun Shera adalah ibu kandung Lyla dan memiliki banyak kesamaan. Tapi ... Sama seperti Wira, Shera juga tidak bisa menjadi pendonor Lyla. Maaf, tapi hasil tes dan pemeriksaan menunjukkan sebaliknya."


****