
****
Orang bijak berkata, saat kamu terlahir, kamu menangis dan orang-orang di sekitarnya tersenyum. Maka, jalani hidupmu sebaik-baiknya agar saat kamu menutup mata, kamu tersenyum dan orang-orang di sekitarmu menangis.
****
Kelahiran seorang anak merupakan pelengkap kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Dimana mendengar tangisannya saja membawa kebahagiaan tersendiri.
Di sebuah ruangan, tangis melengking seorang bayi laki-laki terdengar menggema sesaat setelah kelahirannya. Seakan ingin menyapa dunia untuk pertama kali dan mengabarkan kelahirannya dengan tangisan indahnya yang memecah kesunyian.
Wira menjatuhkan setitik air mata haru saat menatap tubuh kecil anaknya itu, begitu mungil dan polos. Ia kecup kening sang istri yang sedang berusaha mengatur napasnya.
Via tersenyum tipis dengan mengucap rasa syukur beberapa kali. Semua rasa sakit luar biasa yang sejak tadi dirasakannya seketika hilang dengan lahirnya sang buah hati.
Di luar ruangan itu, Tuan Gunawan dan sang istri masih setia menunggu. Raut kebahagiaan tak dapat mereka sembunyikan saat mendengar tangisan dari cucu kedua yang telah mereka nantikan selama sembilan bulan itu.
Beberapa saat berlalu. Wira keluar dari ruangan dan langsung disambut pelukan oleh kedua orang tuanya.
"Selamat, Nak. Kau menjadi seorang ayah untuk kedua kalinya," ucap ibu.
Wira yang masih diselimuti kebahagiaan belum dapat berkata-kata, selain kembali memeluk ibunya itu.
"Lalu bagaimana keadaan Via? Apa dia baik-baik saja?" tanya pria paruh baya itu.
"Iya, Ayah. Syukurlah, Via baik-baik saja. Sekarang masih ditangani dokter."
"Syukurlah." Pria paruh baya itu baru dapat bernapas lega, setelah beberapa jam harap-harap cemas mengkhawatirkan kondisi menantu kesayangannya. "Memang apa yang terjadi? Kenapa Via sampai jatuh?"
Mendengar pertanyaan itu, Wira melirik sang ibu. Tak ingin ibu merasa khawatir, ia memilih memberi kode pada ayahnya, untuk membicarakan hal itu di lain waktu.
Hingga satu jam kemudian, dua orang perawat keluar dari ruangan itu dengan mendorong sebuah box bayi. Tak sabar, Tuan Gunawan segera mendekat untuk melihat wajah cucu keduanya itu.
Dan, sama seperti saat kelahiran Lyla, dimana mereka begitu bahagia. Kini, kehadiran bayi kecil itu pun disambut dengan suka cita.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅
_
_
_
_
_
_
_
Beberapa jam kemudian ....
Saat ini Via sudah berada di ruang perawatan nifas, dengan ditemani ibu. Ia duduk bersandar di pembaringan sambil menggendong bayi kecilnya.
"Ibu, bukankah dia sangat mirip dengan Lyla saat masih bayi?" tanya nya sambil membelai wajah mungil bayinya.
"Iya, benar. Dia sangat mirip dengan Lyla."
"Aku masih ingat pertama kali menemukan Lyla, mereka seperti pantulan cermin." Mendadak, wajah Via berubah sedih, jika mengingat kondisi kesehatan Lyla. "Aku hanya berharap akan ada keajaiban untuk Lyla."
"Kata Dokter Willy, para ahli akan segera melakukan uji pada plasentanya. Jika cocok maka akan segera dilakukan operasi pencangkokan. Jangan pernah kehilangan harapan, Nak. Tuhan pasti menunjukkan jalan."
"Iya, Bu." Via mengusap air mata yang akan jatuh di ujung matanya. "Bisakah Lyla dibawa kemari? Aku sangat merindukannya."
Ibu kembali tersenyum, "Tentu saja. Sekarang dia sedang bersama Shera di rumahnya."
π΅π΅π΅π΅π΅π΅
_
_
_
_
_
_
_
Di sebuah kafe Wira dan Tuan Gunawan sedang terlibat pembicaraan serius....
BRAK!
"Apa maksudmu Via didorong?"
Geram, Tuan Gunawan menggebrak meja dengan keras, saat Wira memberitahunya kejadian di panti asuhan. Bahkan pria paruh baya itu tak peduli walaupun pandangan sebagian orang sedang terarah padanya. Wira pun sama murkanya dengan ayahnya itu. Dan sudah pasti mereka tidak akan melepaskan pelakunya begitu saja.
"Iya, Ayah. Aku langsung pergi ke sana setelah Bu Retno menghubungiku," ujarnya. "Katanya pemilik lahan yang baru meminta agar panti asuhan dikosongkan. Mereka akan membangun tempat hiburan di lahan itu."
"Pemilik baru? Bukankah panti asuhan itu sudah diwakafkan untuk anak-anak yatim?" tanyanya diikuti anggukan oleh Wira.
"Itulah masalahnya, Ayah. Bu Retno tidak memiliki sertifikat kepemilikan. Dan pemilik asli sudah meninggal. Anaknya yang menjual lahan itu pada seseorang. Aku sudah meminta Bima mencari kebenaran nya."
Dengan tatapan masih terlihat jelas raut kemarahan, Tuan Gunawan bertanya, "Lalu apa yang Bima temukan?"
Wira menatap sang ayah dengan serius. Ia tahu betul resiko apa yang akan dihadapi oleh orang yang sengaja mencari masalah dengan ayahnya itu.
"Marco ... Dia adalah pemilik lahan yang baru. Orang yang mendorong Via adalah orang suruhannya."
"Marco?" Mendengar nama itu disebut, Tuan Gunawan mengepalkan tangannya, hingga terlihat gemetar. "Apa dia Marco yang sama dengan orang yang pernah menjual Via?"
"Iya, Ayah. Itu benar."
"Kurang ajar, berani sekali dia!" Tampaknya kemarahan Tuan Gunawan sudah di ubun-ubun. Terlebih, ulah Marco yang telah membahayakan menantu dan cucunya. Tanpa menunggu lagi, ia meraih ponsel dari saku jasnya, lalu menghubungi seseorang.
"Surya, temui aku sekarang juga di rumah sakit!" perintahnya.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅
...πLike ...
...πKomen ...
...πππ...