Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Tolong Bujuk Mbak Shera, Mas!


Setelah pembicaraan panjang dengan sang ayah, Wira keluar dari ruangan itu dan beranjak menuju ruang keluarga dimana Lyla sedang menonton film kartun kesukaannya bersama dua orang yang ditugaskan Tuan Gunawan untuk menjaga cucunya itu.


Wira duduk di sebuah kursi, lalu menatap Lyla dengan perasaan sedih. Tubuh lemahnya bahkan tidak mampu menghilangkan semangat hidup Lyla. Besarnya kasih sayang Via mampu membuat Lyla menjadi anak yang kuat dan tidak cengeng.


"Ayah ... " panggil Lyla sembari mendekat pada Wira. "Baju Lyla bagus kan?" tanya Lyla sembari memperlihatkan gaun berwarna biru yang melekat di tubuhnya. Sama persis seperti gaun yang dikenakan boneka barunya.


"Bagus bajunya, Nak. Sama seperti bonekanya." Wira meraih tubuh kecil Lyla dan membawanya ke pangkuan. Dipeluknya tubuh kecil itu dengan erat. Melepaskan semua kerinduannya selama ini. Ia mengecup puncak kepala gadis kecil itu.


"Ini bunda yang buat, Ayah. Lyla sayang bunda." Lyla kemudian meraih sebuah boneka Barbie yang telah usang dan memperlihatkannya pada sang ayah. Walaupun kini ia memiliki banyak boneka yang bagus, namun boneka pemberian Via tetaplah menjadi mainan kesayangannya. "Boneka ini juga bunda yang kasih buat Lyla, Ayah ...."


Wira menyahut dengan senyuman. Ia tak dapat berkata-kata lagi. Cairan bening telah menggenangi bola matanya, mengingat kasih sayang antara Via dan Lyla. Dan semua perjuangan berat yang Via lalui dalam merawat Lyla. Sehingga kini, bagi Lyla bundanya adalah segalanya.


"Bundanya mana, Nak?" tanya Wira.


"Bunda lagi di kamal Lyla. Bundanya lagi mau belesin mainan Lyla, Ayah."


"Kalau begitu, Lyla main di sini, ayah mau lihat bunda dulu ya..." ucapnya sembari menurunkan Lyla dari pangkuannya.


Lyla kemudian menatap Wira dengan bibir mengerucut lucu. "Tapi Ayah jangan jahatin bunda lagi. Lyla malah loh sama Ayah kalau jahatin bundanya Lyla." Gadis kecil itu terlihat sangat serius mengancam, sehingga membuat Wira tertawa kecil.


"Tidak jahat, Nak. Ayah kan juga sayang bunda."


"Janji?" Ia menaikkan jari kelingkingnya, membuat Wira segera menyambut dengan menautkan jari mereka.


"Ayah janji."


*******


_


_


_


_


_


_


Dengan berderai air mata, Via memandangi sebuah foto bayi yang terbingkai indah. Diusapnya foto itu dengan jari lalu memeluknya. Mengingat semua penjelasan dokter tadi, Via tidak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya, sehingga memilih menangis seorang diri di dalam kamar.


Wira baru saja masuk, membuat Via segera menghapus air matanya. "Ada apa, Mas?" tanya nya berusaha menyembunyikan kesedihan.


Wira yang menyadari nada bicara Via segera mendekat. Ia kemudian menyandarkan Via di bahunya. "Menangis saja. Tidak usah disembunyikan. Selama ini kau menangis seorang diri."


Jika selama ini Via terlihat sangat kuat di hadapan semua orang dalam merawat Lyla, maka hari itu ia menjadi sangat lemah. Via hanyalah seorang ibu yang menginginkan kesembuhan anaknya. Ia kemudian melepaskan pelukan itu, dan menggenggam tangan Wira. "Mas, bisakah Mas Wira membujuk Mbak Shera untuk melakukan tes? Dia ibu kandung Lyla. Mungkin Mbak Shera punya kecocokan dengan Lyla."


Wira memejamkan matanya, lalu menghela napas panjang. Jika mengingat semua perbuatan Shera, dadanya akan dipenuhi sesak. "Via ... Shera tidak akan mau."


"Tapi kenapa, Mas? Dia seorang ibu dan --"


"Shera memang yang melahirkan Lyla," Wira mengusap rambut Via dan menghapus air matanya dengan jari. "Tapi dia tidak punya kasih sayang sebesar yang kau berikan untuk Lyla. Bahkan dia bilang tidak mau tahu apapun tentang Lyla."


"Tolong bujuk dia sekali lagi, Mas. Tolong lakukan apapun untuk Lyla."


Melihat Via mulai menangis lagi, Wira pun kembali memeluknya. "Tenanglah. Ayah bilang akan ke Bali dan mencoba bicara dengannya. Semoga ayah bisa meluluhkan hati Shera."


******


_


_


_


_


Di sebuah gedung perkantoran ...


"Surya, tolong kau siapkan keberangkatanku ke Bali besok pagi. Aku harus menemui Shera," ucap Tuan Gunawan pada seorang asistennya.


"Ke Bali, Tuan?" tanya Surya hendak memastikan.


"Ya. Aku sudah dapat alamat Shera dari Wira."


"Baiklah, saya akan mempersiapkannya."


Pria paruh baya itu kemudian menatap sang asisten dengan serius. "Bagaimana dengan Aldi?"


"Jangan khawatir, Tuan. Saya sudah membereskannya. Kurang dari 24jam, semua keinginan Anda akan terlaksana."


Tuan Gunawan mengangguk pelan. Jika mengingat perlakuan Aldi pada Via, ia menjadi sangat murka. "Bagus. Beri dia pelajaran, supaya lain kali lebih menghargai orang lain, terutama pada wanita."


"Baik, Tuan."


"Urusan Aldi sudah beres. Aku tinggal menemui Shera dan memintanya agar mau menjadi pendonor untuk Lyla. Semoga saja dia bersedia."


*****