Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Tidak Akan Meminta Apapun Lagi.


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunan Via. Ia menoleh ke arah pintu dimana ketukan terus terdengar. Namun, bukannya membuka pintu, Via malah menarik selimut hingga batas dada, dan kembali menangis sambil memeluk si kecil Lyla.


"Sayang ... Kau di dalam? Tolong buka pintunya, aku mau bicara," ucap Wira dari balik pintu.


Hening! Tak ada sahutan apapun dari dalam. Laki-laki itu mengetuk lagi dan lagi, namun tak juga ada tanda-tanda penghuni kamar itu akan membukakan pintu.


"Sayang ..." Sekali lagi, ia berusaha memanggil dengan melembutkan suaranya. "aku mohon buka pintunya sebentar saja."


Berselang beberapa menit menunggu, Via tak juga membukakan pintu kamar itu, sementara Wira sudah uring-uringan sendiri. Akhirnya, Wira memilih masuk ke dalam kamarnya, dimana ada sebuah pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Lyla.


Pelan-pelan, Wira mencoba memutar gagang pintu, berharap Via lupa menguncinya. Akan tetapi, pintu itu pun telah terkunci rapat, membuat Wira menghela napas frustrasi. Ia mencoba mengetuk beberapa kali, walau pun tidak begitu keras, mengingat Lyla sedang tidur.


"Sayang, tolong buka pintunya. Aku minta maaf kalau menyinggung mu. Bukan begitu maksudku ..." ucap Wira mencoba membujuk sekali lagi.


Setelah menunggu beberapa menit tak ada jawaban, ia akhirnya memilih turun ke lantai bawah untuk mengambil kunci serep yang berada di sebuah laci lemari, yang terdapat di sebuah ruangan. Saat masuk ke ruangan itu, bersamaan dengan ibunya yang baru saja keluar dari dapur. Wanita paruh baya itu memperhatikan Wira yang sedang kebingungan mencari sesuatu.


"Ada apa Wira? Kau butuh sesuatu?" tanya nya sembari berjalan mendekat.


"Bu, aku butuh kunci kamar Lyla. Sepertinya Via marah karena ucapan ku tadi," jawab Wira sembari membuka beberapa laci.


Ibu menggeleng pelan sambil berdecak. Tak bisa dipungkiri, ia pun merasa sangat kesal pada putra semata wayangnya itu. "Sangat wajar kalau Via marah. Ibu juga akan begitu kalau ayahmu yang melakukannya."


"Aku tahu, Bu. Karena itulah aku mau minta maaf."


"Semua kunci serep ada di laci bawah," ucap ibu, saat Wira tak kunjung menemukan kunci serep.


Wira pun segera membuka laci terbawah. Dan benar, ada banyak kunci serep di sana. Dengan senyum senang, ia meraih benda itu. "Terima kasih, Bu."


"Baiklah. Kalau begitu, apa kita bisa bicara sebentar?" ajaknya.


Raut wajah ibu yang tidak bersahabat membuat Wira tersenyum getir. Ia sudah menduga jika wanita paruh baya itu akan memberinya kalimat mutiara.


"Tapi aku harus membujuk Via dulu, Bu."


"Tidak, sebelum kita bicara!"


Akhirnya, Wira menyerah. Ia mengangguk, lalu segera menuju ruang keluarga, mengikuti ibu yang sudah melangkah lebih dulu.


*******


_


_


_


_


Wira mengangguk pelan, "Bu ... Aku hanya tidak mau Via menjadi seperti Shera. Tadinya hanya meminta satu hal, lama kelamaan meminta banyak hal."


Mendengar jawaban Wira, wanita paruh baya itu semakin kesal. "Maksudmu kau sedang menyamakan Via dengan Shera?"


"Bukan begitu, Bu. Aku hanya ..."


"Hanya apa?" Belum sempat Wira menyelesaikan kalimatnya, sudah dipotong lebih dulu oleh sang ibu. "Kau tidak perlu membandingkan Via dengan Shera karena mereka dua wanita yang berbeda. Bisa-bisanya kau menganggap keinginan istrimu sesuatu yang berlebihan saat dia sedang mengandung anakmu."


Wira terdiam. Ia tak sanggup lagi menyahut.


"Maaf, Bu--"


Menghela napas panjang, wanita itu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Kelakuan Wira membuatnya tidak enak sendiri pada menantunya itu.


"Wanita hamil itu wajar meminta. Sikap manja yang dia tunjukkan itu bawaan janin dalam kandungan. Bukan karena sengaja. Kau lupa, seberapa besar pengorbanan Via untuk anakmu? Dia mencintai Lyla tanpa syarat, tapi lihat apa yang dia dapat darimu? Setelah semua pengorbanannya, sekarang permintaan kecilnya kau anggap berlebihan, begitu?"


"Aku tidak bermaksud begitu, Bu." Sekali lagi Wira mencoba membela diri. Namun, ibu tak peduli. Ia terus menyerang Wira dengan sindiran pedasnya.


"Apa sebelumnya dia pernah meminta sesuatu darimu? Selama kehamilannya, apa pernah kau tanya dia butuh apa dan ingin apa? Cara mu memperlakukannya seperti kau sudah memberinya seisi dunia, tapi lihat kenyataannya. Di awal pernikahanmu bagaimana kau memperlakukannya? Kau membuangnya ke dalam sebuah kamar bekas, tapi apa pernah dia mengeluh? Bahkan untuk mengadukan mu pada ayah tidak dia lakukan. Dan sekarang, kau menyakitinya lagi."


Layaknya sebuah tamparan keras, Wira menunduk malu. Bayang-bayang perlakuannya di awal pernikahannya dengan Via kembali bermunculan. Betapa kejam ia memperlakukan istrinya itu, namun tak pernah sekali pun Via melawan atau pun mengeluh.


"Perasaan wanita hamil itu sensitif dan harusnya kau sebagai suami memahami itu. Setelah kejadian ini, dia akan merasa tidak berarti di matamu."


Kedua bola mata Wira telah dipenuhi cairan bening. Kini ia baru sadar telah berlaku tak adil pada Via, hanya karena takut Via berbuat yang sama seperti Shera.


"Aku salah, Bu..."


Ibu menghela napas panjang beberapa kali, berusaha mengurai emosi yang sejak tadi menghinggapi hatinya. "Sudahlah. Bicaralah dengan Via dan minta maaf."


Setelah mengucapkan itu, ibu melangkah pergi. Sementara Wira segera beranjak menuju lantai atas. Begitu tiba di depan pintu, ia mencoba beberapa kunci serep, hingga akhirnya pintu kamar itu terbuka. Ia mengedarkan pandangannya. Lampu utama telah dimatikan dan hanya lampu tidur yang menyala, sehingga pencahayaan menjadi temaram.


Dari dalam sana terdengar suara Isak tangis yang memilukan, membuat Wira menarik napas dalam.


Dengan langkah meragu, ia mendekat ke sisi pembaringan dan duduk di bibir tempat tidur. Suara Isak tangis Via bagaikan sayatan baginya. Ia menyibak selimut, yang menutupi seluruh tubuh istrinya itu.


"Sayang ..." ucapnya sembari meraih tubuh Via dan memeluknya. Ia mengusap rambut, turun ke punggung. "Aku minta maaf. Aku sudah keterlaluan. Aku tidak bermaksud menyakitimu."


Selama beberapa saat, Via terdiam. Lalu sambil menangis, ia menjawab, "Aku yang minta maaf, Mas. Aku pikir keinginan makan es krim itu hanya permintaan kecil, yang tidak akan merepotkan siapapun, jadi aku memintanya dari Mas Wira. Aku tidak bermaksud melunjak dengan meminta hal-hal yang berlebihan. Aku juga tidak akan memintanya kalau tahu sejak awal es krim itu dari Singapura. Aku seharusnya sadar siapa aku dan apa posisiku ... Aku tidak punya hak meminta dan tidak akan meminta apapun lagi dari Mas Wira kalau itu dianggap berlebihan."


Walaupun Via menjawab dengan suara tersendat-sendat akibat sesegukan, namun Wira dapat memahami dengan jelas ucapan sang istri. Semakin besarlah rasa bersalah di dalam dirinya. Ia mengeratkan pelukannya, mendengar Via yang terus berusaha meredam tangisannya.


******