Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Bukankah Pernikahanmu Hanya Status Palsu?


Via mundur beberapa langkah menahan ketakutannya. Ia berusaha menutup pintu dengan cepat, namun laki-laki itu memposisikan kakinya di celah pintu dan mendorongnya kuat-kuat, sehingga Via terhuyung ke lantai. Via pun menyeret tubuhnya mundur saat Aldi terus berjalan ke arahnya.


Seringai menakutkan yang hadir di wajah laki-laki itu membuat Via semakin ketakutan. Ia terus melangkahkan kakinya mendekat, seiring dengan Via yang terus menggeser tubuhnya mundur.


"Ma-mau a-pa kau kemari?" tanya Via terbata-bata. "Mas Wira tidak ada."


"Aku tahu Wira belum pulang dari luar kota. Dan aku sudah mengawasimu sejak beberapa hari ini. Bukankah aku tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini?" ucapnya dengan suara pelan.


Via semakin ketakutan tatkala menyadari apa maksud pria jahat di depannya.


Aldi, seorang pria yang pernah akan membayar jasanya di hari pertama bekerja di tempat hiburan. Mendapat tawaran seorang gadis perawan dari pemilik tempat hiburan, membuat laki-laki itu rela membayar dengan harga yang sangat mahal. Namun, malam itu Via berhasil melarikan diri, sehingga Aldi murka dan berniat mendapatkan Via dengan cara apapun. Bahkan ia tak peduli walaupun status Via adalah istri dari temannya.


Via tidak sanggup berkata-kata lagi. Yang ada hanya ketakutan. Ingin berteriak minta tolong pun percuma. Rumah Wira memiliki taman luas dan jarak dengan rumah lain cukup jauh. Sehingga mustahil jika ada yang mendengarnya.


Aldi semakin mendekat. Ia menatap Via dari ujung kaki ke ujung kepala. Seorang wanita muda yang baginya lumayan cantik dan mempesona dengan kepolosannya.


"Kau harus membayar kerugian ku untuk malam itu," ucapnya dengan seringai tipis.


Via segera bangkit, ia hendak berlari menuju kamar belakang dimana ponsel dan tasnya berada. Namun, baru beberapa langkah, Aldi sudah berhasil menariknya. Via masih berusaha memberontak, namun semakin kuat Aldi mencengkram tangannya.


"Tolong lepaskan aku!" lirih Via berusaha melepaskan diri. Ia mendorong tubuh Aldi hingga mundur beberapa langkah, namun Aldi semakin menjadi. Ia melayangkan tamparan keras ke wajah wanita itu, kanan dan kiri.


PLAK! PLAK!


Via terhuyung ke lantai. Dengan bekas tamparan yang memerah di kedua sisi wajah dan juga setetes darah yang keluar di sudut bibirnya.


"Mas Wira ..." gumam Via memanggil nama suaminya, yang mana membuat Aldi terkekeh sinis.


"Untuk apa kau memanggil nama suamimu? Bukankah pernikahanmu dengan Wira hanya sebuah status palsu?"


Dengan menahan sakit, Via berusaha menjauh dari Aldi dengan menyeret kakinya di lantai, namun Aldi menarik rambutnya dengan keras. Via pun meringis kesakitan, seraya mencoba melepas tangan Aldi.


"Bukankah kau mau uang? Aku bisa memberimu uang sebanyak yang kau mau. Kau hanya perlu menyenangkan aku saja."


Via menyahut dengan menggelengkan kepala. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang sedang menahan rasa sakit.


"Mas Wira ..." panggilnya pelan. Ia sudah kehilangan daya untuk melawan atau pun melarikan diri. "Mas Wira tolong aku ...."


Via mulai terisak. Ingatan wanita muda itu menerawang ke masa dimana Wira begitu membencinya. Satu hal yang Via tahu, walaupun sang suami teramat membencinya, namun tak pernah sekali pun Wira menamparnya seperti yang dilakukan Aldi sekarang.


"Tolong lepaskan aku." Via mengatupkan kedua tangan, mencoba memohon sekali lagi. Namun, Aldi tak bergeming sedikit pun.


"Melepasmu? Aku sudah lama menunggu saat-saat ini." Satu tangan Aldi menarik pakaian yang dikenakan Via. Akan tetapi Via tetap berusaha mempertahankannya. Ia menangis pilu. Dalam hati sungguh tak rela, jika tubuhnya disentuh oleh seseorang yang bukan suaminya.


Entah kekuatan dari mana datangnya, Via melayangkan sebuah tendangan ke arah paling mematikan laki-laki itu. Aldi pun meringis sesakitan. Via segera menyeret langkahnya menjauh dari Aldi dan tanpa sengaja menabrak sebuah guci antik sehingga suara pecahannya menggema di ruangan itu.


PRANG!


Via kembali tersungkur di lantai. Matanya berair, ia menoleh ke arah dimana Aldi kembali berjalan ke arahnya. Kini, Via tak punya daya lagi untuk melepaskan diri.


*******


_


_


_


_


_


_


"Bundaaa!" teriak Lyla sambil menangis. Sepertinya gadis kecil itu sedang bermimpi buruk.


Mendengar suara Lyla membuat opa dan Oma yang sedang duduk bersama di ruang keluarga segera menoleh pada gadis kecil yang sedang tertidur di sebuah sofa, tak jauh dari mereka.


Tuan Gunawan segera mendekat pada cucunya itu, dan mengusap wajahnya. "Lyla kenapa, Nak?" tanya nya lembut.


"Bunda ... Lyla mau bunda." Suara tangisannya yang kencang membuat seisi penghuni rumah itu terkejut. Selama seminggu tinggal di rumah itu, tidak pernah sekali pun Lyla terbangun dari tidurnya dan menangis.


Oma pun segera membawa Lyla ke pangkuannya, namun ia sangat sulit di tenangkan. Lyla terus menangis memanggil bundanya.


"Bunda ...."


*****