Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
EXTRA PART (SKI- DI-PAPAPH yang Gagal!!)


Wira menghela napas frustrasi mendengar panggilan lembut menggemaskan yang baru saja tertangkap oleh indera pendengarannya. Sebuah panggilan yang terasa menusuk ke hati. Ya, tentu saja, sebab si kecil Lyla sepertinya tidak akan melepaskan ayahnya semudah itu. Janji adalah hutang. Maka jangan pernah mengucapkan janji jika tidak sanggup memenuhinya, terlebih pada seorang anak kecil yang masih polos—yang memiliki ingatan lebih baik daripada orang dewasa. Tentu mereka akan menagih saat telah mendapat sebuah janji manis.


Aduuh bagaimana ini? Wira garuk-garuk kepala tidak jelas saat menatap Langkah kaki mungil yang berjalan ke arahnya.


Wira memutar bola mata, pertanda sedang memikirkan sesuatu, bagaimana menghindari permintaan gadis kecil itu. Ah, dapat ide. Bukankah Lyla baru saja menjadi seorang kakak. Mungkin jika mengetahui bahwa ia telah memiliki adik bayi baru, ia akan sangat bahagia sampai lupa dengan keinginannya membuat video tik tok.


Dengan wajah berbinar bahagia, Wira merentangkan tangan menyambut putri kecilnya itu. Memeluknya dengan erat serta memberi kecupan bertubi-tubi.


Pasti cara ini berhasil. Wira menyeringai licik dengan wajah super sableng yang selalu menyebalkan di mata teman-temanyya.


“Ayah … Ayo main—” Belum sempat Lyla menyelesaikan kalimatnya, sudah dipotong duluan oleh Wira.


“Ehm … Sayang, selamat ya. Lyla sekarang jadi kakak lagi.” Iya kembali memeluk dengan erat, membuat Lyla tersenyum senang. “Adiknya Lyla sudah lahir. Kalau mau lihat dede bayi, besok ayah antar.” Lagi dan lagi Wira mengucapkan sebuah janji manis.


“Benar ya, Ayah … Besok antar Lyla lihat dede baby boy nya.”


“Iya, sayang.”


Yes berhasil! Layaknya anak kecill yang berhasil mencapai tujuannya, Wira bersorak—merasa telah sukes memperdaya Lyla.


“Sekarang Lyla kembali ke kamar, ya … Istirahat. Biar besok bisa lihat adik bayi di rumah sakit.”


Dengan polosnya, Lyla berbalik, hendak menuju kamarnya, membuat Wira mengusap dada penuh kelegaan. Setidaknya malam ini ia merasa telah berhasil lolos dari Lyla. Entah besok akan memberi Lyla alasan apa lagi untuk menolak. Sebab terkadang gadis kecil itu cukup pintar untuk tidak tertipu oleh ayahnya.


Baru saja Lyla akan memutar gagang pintu kamarnya, ia baru teringat pada tujuan sebelumnya menunggu sang ayah sejak tadi.


Eh iya … Kan mau main tik tok sama ayah.


“Ayah!” panggilnya membuat Wira mengambil langkah seribu. Ayah durjana nya sudah tidak berada di tempatnya tadi. “Ayah mana?” ucapnya heran.


Wira masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Bahkan sampai membuat istrinya yang sedang menyusui gael terkejut. Dengan heran, Via melirik Wira yang tiba-tiba masuk ke kamar dengan senyum keterpaksaan. Menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.


***********


Segar, Wira baru saja selesai mandi. Seharian berada di luar menemani Surya benar-benar membuatnya lelah dan ingin mengakhiri hari itu dengan mendaki gunung, lewati lembah yang curam seperti Ninja Hattori. Sambil mengenakan piyama, ia melirik ke tempat tidur dengan tatapan penuh kecemburuan pada sosok makhluk kecil yang telah merebut mainannya selama berbula bulan.


Heh, labu siam itu milikku. Enak sekali bocah itu. gerutu nya dalam batin.


Pelan-pelan mengayunkan langkahnya menuju tempat tidur, duduk di sana sambil memperhatikan istrinya yang kini bangkit, membenahi pakaiannya yang berantakan di bagian dada akibat ulah Gael yang meminjam labu siam milik ayahnya kelamaan.


“Mas Wira kenapa?” tanya Via saat menyadari tatapan suaminya yang tertuju pada benda menggantung di balik pakaiannya.


“Tidak apa-apa.” Tatapan Wira kini tertuju pada Gael. Mendekatkan wajahnya, lalu menggecup wajah menggemaskan itu. Dengan sangat hati-hati ia mengangkat tubuh gael, hendak memindahkannya ke sebuah box bayi yang berada beberapa meter dari tempat tidur.


Sudah cukup kau meminjamnya hari ini. Sekarang giliranku.


Ia menepuk dengan lembut punggung Gael, saat bayi itu bergerak-gerak begitu tubuhnya menyentuh pembaringannya. Aman! Sepertinya dia benar-benar sudah masuk ke alam mimpi. Tidurlah yang nyenyak, anakku dan jangan banyak menuntut malam ini! Mungkin itu yang ada di dalam benak Wira. Sebab kadang Gael membuatnya kesal di tengah malam buta, saat sedang asyik menikmati labu siam mentah, tiba-tiba bayi itu menangis, membuat kegiatannya terhenti.


“Mau kemana?” tanya Wira saat melihat Via hendak turun dari tempat tidur.


“Aku mau lihat Lyla, Mas. Sudah tidur atau belum.”


“Tidak usah!” seru-nya secepat kilat. “Lyla pasti sudah tidur. Tadi dia sudah masuk ke kamarnya.”


Wira mendekat pada sang istri lalu memeluknya tiba-tiba. “Aku rindu.” Setelah mengucapkan dua kata singkat yang bermakna ungkapan perasaan yang lebih mengarah kepada sebuah permintaan itu, Wira mendorongnya dengan lembut, hingga tubuh mereka jatuh ke tempat tidur dengan gerakan cukup seksi. Ia memejamkan mata, saat menyesap aroma wangi yang berasal dari rambut dan tubuh sang istri


“Mas—” Via berusaha melepas tangan Wira yang kini bermain sesukanya di kebun miliknya. Lupakan sejenak tentang Lyla dan Gael. Semoga Dewa Amor dan Dewi Fortuna bekerja sama malam ini untuk mewujudkan keinginan Wira memiliki anak lagi.


Tangan Wira sudah melakukan penjelajahan yang luar biasa. Bibirnya bahkan tidak memberi kesempatan bagi Via untuk mengeluarkan sepatah kata pun, karena terus dibungkam oleh Wira dengan sebuah ciuman. Semakin Via ingin berbicara, semakin Wira memperdalam ciumannya.


Kau pasti mau banyak alasan, kan? Lihat Lyla, mau minum, mau ke kamar mandi dan lain-lain. Aku tidak akan mengampunimu malam ini.


Pakaian Via yang sudah terbuka setengah menampakkan labu siam yang sepertinya masih malu-malu, bersembuyi di balik kain berbentuk kacamata berwarna hitam. Sangat seksi bagi Wira—yang membuat semangatnya semakin menggebu-gebu. Malam ini pasti berlalu dengan luar biasa, terlebih jika dua makhluk kecil itu tidak mengganggu.


“Sayang … Ayolah. Ini kesempatan emas. Kapan lagi kamu bisa melihat tubuhku selain di malam hari. Aku rela diapakan saja olehmu seperti saat di villa.” Ujung telunjuk Wira menari-nari di atas benda kenyal yang masih setengah terbuka.


Wajah Via pun merona merah saat teringat kejadian di villa beberapa waktu lalu, saat Dokter Willy mencampur benda laknat yang disebutnya sebagai pil setan ke dalam minuman yang ia peruntukkan bagi Wira, namun malah Via yang meminumnya—sehingga malam itu Via kehilangan kendali dan menyerang suaminya membabi buta.


“Mas, jangan ingatkan malam itu. Aku malu!”


“Tidak usah malu. Kalau mau lagi aku punya pil-nya di laci meja. Aku baru memintanya dari Willy,” ucap Wira dengan polosnya.


“MAAASS!!”


TOK TOK TOK


Terdengar suara ketukan pintu yang mengandung rasa siksaan bagi Wira. Rasanya ingin memaki siapapun yang berani mengetuk pintu kamarnya.


“Ayah …” Lembut suara Lyla memanggil sambil mengetuk pintu.


Ya ampun, anak itu benar-benar, ya … tidak tahu kalau ayahnya sedang senang.


“Itu Lyla, Mas.”


"Aku juga tahu kalau itu suara Lyla, bukan suara ayah," sahutnya kesal.


Wira menatap istrinya dengan sememelas mungkin, seola meminta untuk dikasihani dan tidak perlu membukakan pintu. Nanti kalau tidak dibuka, Lyla juga akan kembali sendiri ke kamarnya. Begitulah tatapan Wira berbicara.


Dengan tidak relanya, Wira memindahkan tangannya dari perkebunan sejuk itu. Menghela napas beberapa kali untuk melepas rasa kesal.


“Mas … Lain kali kalau tidak bisa menepati, jangan berjanji. Anak-anak akan belajar dari kebiasaan yang dia lihat. Kalau Mas menjanjikan sesuatu dan ingkar, mereka akan belajar menjadi orang yang sering ingkar juga.”


Sambil mengerucutkan bibir, Wira menatap labu siam siap santap di hadapannya. Sorot matanya seakan tidak rela melepas kesempatan dalam kesempitan itu.


“Mas …” bisik Via merayu dengan tangan menyelinap masuk ke sela-sela piyama sang suami. Mengusap dengan lembut dada bidangnya, yang merupakan area paling sensitif bagi Wira.


Menyerah! Jika Via sudah mengeluarkan rayuan mautnya, Wira tidak bisa berkutik. Ia akan menuruti apapun jika wanita itu sudah merayu dengan seksi seperti tadi.


“Ya sudah, aku temani Lyla main tik tok. Tapi setelah ini skiddipapap, ya …” pinta Wira menaikkan alisnya beberapa kali.


Via tidak menyahut, ia hanya merespon dengan kerutan di alis tebalnya. Sementara Wira turun dari tempat tidur dan membukakan pintu.


“Ayah …” Lyla mendongak menatap ayahnya. “Ayah kan sudah janji mau main tik tok sama Lyla. Bu guru bilang, kalau ingkar janji dosa, loh … .”


"Ya sudah, tapi mainnya di lantai bawah saja, ya. Nanti dede Gaelnya bangun kalau di sini.” Wira menutup pintu, lalu menggendong Lyla menuju lantai bawah untuk memenuhi janjinya.


*****


“Ayah, yuk ikutin Lyla, ya …” Lyla mengarahkan ponsel ke wajah sang ayah, yang membuat Wira menutup wajahnya dengan jari.



Kini ia merasakan sendiri keadaan serupa yang dialami Marchel, saat harus menuruti keinginan anaknya untuk membuat video tik tok—karena takut digantung di kamar mandi.


Akhirnya, malam itu Wira benar-benar berkolaborasi dengan putrinya membuat video lucu. Tari gagak spongebob, ubur-ubur, saya masih ting ting, Mama muda, dicoba semua. Entah akan seperti apa jadinya jika Marchel, Willy atau Surya menemukan video itu.


Puas bermain tik tok, saatnya Lyla tidur. Wira sedang me-nina bobokan gadis kecil itu dengan mendongeng menggunakan suara sumbangnya.


Ah, sekarang semuanya benar-benar aman, tidak ada sesuatu apapun yang akan menghalangi Wira menjalankan rencana memiliki anak lagi. Gael sudah tidur, begitu pun dengan Lyla.


Wira kembali ke kamar dengan wajah bahagia. Di tempat tidur, Via terlihat sedang senyum-senyum sambil memandangi layar ponsel. Bagai superhero yang perkasa, Wira mendekat pada tempat tidur, membuat Via bergidik ngeri.


“Sayang … sedang apa?” tanya Wira menggoda.


“Baca novel online, Mas!” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.


“Novel online?” Penasaran, Wira mendekatkan kepala, ikut membaca. “Judulnya apa ini?”


“My Hot Baby,” jawab Via. “Kisahnya tentang seorang dokter playboy yang suka mempermainkan gadis-gadis, Mas. Aku sangat penasaran bagaimana si playboy itu mendapatkan restu dari tiga kakak laki-laki tokoh wanita dalam novel ini. Tapi penulisnya belum membuat kelanjutannya.”


“Mungkin penulisnya sedang sibuk memikirkan ide penyiksaan yang lain untuk dokter itu.”


“Ya sudah, aku mau vote yang banyak deh, biar penulisnya rajin up.”


(“Hilihhh… iklan ni yeeee!!!” Teriak para reader sesat!!!”)


“Wira meraih ponsel, meletakkan di meja nakas. Tanpa meminta izin, ia mendorong tubuh istrinya hingga keduanya berbaring dengan posisi Wira di atas. Kecupan demi kecupan ia beri pada wajah cantik itu. Begitu pun dengan tangannya yang sudah mulai menjelajah. Dalam keadaan tidak bisa lagi menahan hasratnya, ia menatap dalam mata sang istri.


“Jadi kan, skiddipapaphnya?” pintanya penuh harap.


“Kesidipapaph itu apa, Mas?” tanya Via tak mengerti.


Wira menghela napas panjang. Pantas saja tadi Via hanya menyahut dengan kerutan di alis—saat Wira meminta. Tentu saja Via tidak akan mengerti istilah semacam itu.


“Membuat adik untuk Lyla dan Gael,” jawab Wira sembari menjatuhkan bibirnya di antara kedua labu siam menggemaskan itu.


Via masih tampak terkejut. Bisa-bisanya Wira menggunakan istilah skidiipapap, yang baru pertama kali digunakan oleh suaminya itu.


“Via …" Sebuah panggilan bermakna perintah, tidak lagi memanggil dengan sayang seperti tadi. "Cepat ah, ininya di buka!” Tak sabar ia menunjuk kain penutup menyerupai kacamata yang telah melorot setengahnya.


“Tapi aku sedang datang bulan, Mas …”


JEDUAR! Tidak ada hujan, tidak ada angin, namun bagai terdengar bunyi petir menggelegar.


"Kenapa tidak bilang dari tadi. Sudah main tik tok juga, ternyata padang pasirnya banjir."


"Mas kan bilang kesidipapap, mana aku tahu apa itu."


"Skidipapaph, Sayang ... Bukan kesidipapap." Geram dengan mata melotot menatap Via. Sementara yang ditatap segera bersembunyi di balik selimut menyembunyikan wajahnya.


****


Wira menutup pintu kamar mandi. Pandangannya kini terarah pada sabun cair dan juga kloset yang berada di sudut kamar mandi. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya jika ia akan melakukan apa yang paling ditakutkan para lelaki. Surya, Marchel dan Willy pasti akan menertawakannya habis-habisan jika mengetahui seorang Wiratama Abimanyu akhirnya bersolo karier.


Sebenarnya Wira dapat meminta tolong Via, tetapi gengsi mengalahkan segalanya.


Sepertinya Dewa Amor dan Dewi Fortuna sedang bertengkar malam ini, sehingga tidak bisa membantu Wira mewujudkan fantasi luar biasanya.


Ia hanya menatap iba pada 300juta sel calon anak yang terbuang begitu saja ke dalam kloset, menjadi saksi kesuksesan ayahnya dalam bersolo karier.


“Seharusnya malam ini kalian tidak berakhir menyedihkan di lubang yang salah.”


*******