
Wira menarik lengan Evan. Sorot matanya begitu tajam, namun tak membuat nyali calon dokter itu menciut. Menghela napas panjang, ia melepas tangan Wira. Alat kesehatan yang melekat di telinganya, ia lepas pula.
"Jangan berlebihan! Kau tidak bisa mengedepankan kecemburuan mu saat istrimu butuh pertolongan medis."
"Aku tidak cemburu! Aku hanya tidak mau istriku disentuh laki-laki lain," gerutu Wira tak terima.
Sambil berdecak, Evan melirik Wira dengan seulas senyum mengejek. "Itu apa bedanya dengan cemburu."
Ucapan Evan kembali membungkam Wira, yang membuat keduanya terlibat aksi saling tatap sinis. Namun, sebisa mungkin Evan meredam rasa kesal, mengingat posisi dirinya sebagai seorang petugas medis.
Masih dengan tatapan tidak suka nya, Wira menatap Evan, kemudian berpindah pada Via yang belum juga tersadar. "Lalu bagaimana hasil pemeriksaanmu? Istriku kenapa?" Wira menekan kata istri, seolah ingin menegaskan bahwa Via adalah miliknya.
Evan menggerutu kesal dalam hati, sembari melirik Wira dari ujung kaki ke ujung kepala. Ya ampun, dia lebih parah dari Kak Zian. Aku pikir Kak Zian adalah laki-laki paling posesif dan paling cemburuan di muka bumi. Ternyata masih ada suami laknat sejenisnya di dunia. Bahkan lebih parah.
"Dia tidak apa-apa. Ini normal dialami wanita yang--"
"Apa, normal?" Wira memotong pembicaraan Evan. "Apa maksudmu normal? Dia pingsan dan kau bilang itu normal? Calon dokter macam apa kau ini?" Seolah sangat menantang, Wira memaki Evan.
Walaupun suara nyaring Wira terdengar oleh beberapa petugas lain, namun sebagai sahabat dari dua orang dokter yang paling berpengaruh di rumah sakit itu, maka tak ada yang berani walaupun sekedar menegur Wira. Dokter Willy yang merupakan kepala rumah sakit, dan juga istri Dokter Marchel yang merupakan pemilik rumah sakit itu.
"Aku mau istriku diperiksa lebih lanjut oleh seorang dokter wanita!"
Fix, dia lebih bodoh dari Kak Zian. Sepertinya dia belum tahu ada apa dengan istrinya. batin Evan.
Melakukan tugasnya sebagai seorang pelayan kesehatan, dengan penuh kesabaran Evan menjelaskan pada Wira, walau pun harus menahan kekesalan. "Itu normal untuk wanita yang sedang hamil muda. Tingginya lonjakan hormon estrogen dan hCG membuat emosi mereka dapat berubah-ubah. Mual, mudah marah bahkan pingsan adalah sesuatu yang biasa. Dan ini masih termasuk wajar."
Jangan bilang kau juga tidak tahu apa itu hormon estrogen dan hCG seperti Kak Zian. dalam batin Evan. Ingin tertawa, namun ditahannya. Ia ingat betul betapa bodoh kakaknya kala menghadapi istrinya yang sedang hamil.
"Hormon hCG. Aku menduga Via sedang hamil muda," jawab Evan.
"Tapi kenapa sampai pingsan kalau hanya karena ham ..." Kali ini Wira yang menggantung ucapannya. Ia mencoba mengartikan setiap kata yang tadi terucap oleh Evan. "Apa tadi? Kau bilang Via hamil?" Gurat ketegangan yang tadi terlihat di wajah Wira perlahan menghilang, berubah terkejut, lalu bahagia setelahnya. "Kau yakin?" tanya Wira ingin memastikan.
Lagi-lagi Evan menghela napas panjang, dengan diiringi gelengan kepala.
Apa semua suami seperti ini saat sedang panik melihat istrinya sakit? Inilah yang membuatku takut menjadi seorang suami. Aku tidak mau bodoh seperti mereka.
"Aku belum yakin sepenuhnya karena kau terus menghalangiku memeriksa nya. Kalau dia terbangun, kau boleh membawanya ke poli kandungan untuk diperiksa lebih lanjut. Tapi aku yakin dugaanku tidak salah."
Untuk kedua kalinya, Wira merasa sangat bahagia akan menjadi seorang ayah. Teringat beberapa tahun lalu, saat Dokter Willy memberitahu tentang kehamilan Shera, kini kebahagiaan yang sama terulang kembali. Ditambah adanya harapan transplantasi sel induk yang dapat menyelamatkan Lyla, jika ternyata cocok.
Wira mengusap wajahnya. Kini kedua matanya dipenuhi cairan bening. Ia tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Walaupun sebenarnya masih memendam rasa ragu, sebab baru sebulan lebih ia dan Via rutin melakukan hubungan --di hampir setiap malamnya. Begitu isi pikiran Wira.
"Aku ucapkan selamat," ucap Evan sembari mengulurkan tangan, dan dengan bangganya Wira menyambut uluran tangan itu.
"Terima kasih."
Kenapa bisa secepat ini?
*****