
Besarnya rasa iri pada sosok Via membuat Shera tak dapat berpikir jernih. Setelah acara makan malam bersama, wanita itu menuju sebuah tempat hiburan malam dan menghabiskan waktunya untuk minum-minum.
"Wanita itu sudah merebut posisiku. Aku yang harusnya ada di posisi itu. Bukan dia," gumamnya, lalu meneguk kembali minuman di tangannya.
Tak berselang lama, seorang pria bertubuh tinggi besar datang menghampiri Shera, setelah meyakini bahwa wanita yang sedang menikmati sebuah minuman adalah teman lamanya.
"Shera?" panggil pria itu.
Shera mendongakkan kepala hendak menatap pemilik suara yang tidak begitu asing baginya, lalu kembali menuang minuman setelahnya. "Apa kabar, Marco? Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya Shera.
Marco, pemilik tempat hiburan malam itu tampak belum percaya pada penglihatannya. Lebih dari empat tahun tak bertemu dengan Shera membuatnya begitu terkejut mendapati Shera sedang menghabiskan waktu di tempat hiburan miliknya. Ia menarik kursi, lalu duduk di sisi wanita itu.
"Aku tidak percaya ini. Kau benar-benar Shera. Bagaimana kabarmu?" tanya Marco.
"Seperti yang kau lihat. Kalau ada di sini, artinya aku sedang tidak baik-baik saja," jawabnya santai.
Masih sedikit terkejut, pria itu menatap Shera dari ujung kaki ke ujung kepala. Shera masih belum berubah sedikitpun. "Kau darimana saja selama ini?"
"Memangnya kenapa?"
"Ayolah Shera ... Sejak perceraian mu dengan anak Tuan Gunawan aku tidak lagi dapat kabar darimu. Dan sekarang tiba-tiba kau kembali."
Shera meletakkan gelas minumannya dengan kasar ke atas meja. Ia kembali teringat pada Wira dan keluarganya. Terutama Lyla, yang bahkan sama sekali tidak mau disentuh oleh ibu kandungnya sendiri.
"Aku datang untuk mengambil kembali milikku. Tapi wanita itu sudah merebutnya dariku."
Marco belum dapat mencerna setiap kata yang diucapkan Shera. Alisnya mengerut pertanda bingung. "Apa maksudmu?"
"Wira sudah menikah lagi dengan wanita lain. Dan wanita itu sangat diistimewakan oleh keluarganya. Bayangkan, aku sudah tidak dianggap lagi." Setelah mengucapkan itu, Shera kembali meraih gelas dan meneguk minuman kerasnya. Jika teringat pada kemesraan yang sengaja ditunjukkan Wira pada Via, ia seakan terbakar.
Sedangkan Marco yang belum mengetahui tentang pernikahan Wira dan Via begitu terkejut mendengar penuturan Shera. "Apa ... Mantan suamimu sudah menikah lagi?"
Dengan raut wajah kesal, Shera menjawab, "Iya ... Dia sudah menikah lagi dengan wanita lain. Dan wanita yang menggantikan posisiku sangat tidak layak."
"Memang tidak! Tapi aku tidak mau dia mengganti posisiku dengan wanita lain."
"Aku tidak menyangka Wiratama sudah menikah lagi. Selama ini, dia sering menghabiskan waktunya di sini untuk mabuk-mabukan bersama Aldi. Tapi entahlah! Wira tidak pernah kemari lagi. Dan Aldi, menghilang secara tiba-tiba," jelas Marco. "Siapa wanita beruntung yang mendapatkan Wira?"
"Aku tidak mengenalnya. Aku hanya tahu nama nya Via."
Mendengar nama yang disebutkan Shera membuat Marco terbelalak kaget. Ingatannya menerawang ke masa dimana salah satu karyawannya, Laras menawarkan seorang gadis perawan yang ingin bekerja di tempat itu. Sebabnya, ia menjual keperawanan wanita itu pada Aldi dengan harga yang mahal. Berikut ingatan tentang Tuan Gunawan yang rela membayar sepuluh kali lipat dari harga yang ditawarkan pada Aldi.
Apa jangan-jangan karena itu Tuan Gunawan membeli Alviana dariku?" dalam batin Marco.
"Apa wanita yang kau maksud adalah Alviana?" tanya Marco ragu-ragu.
"Ya, benar. Alviana Andini. Istri baru Wira."
Keterkejutan Marco pun kian bertambah. Ia mengusap wajah kasar. "Kau serius?"
Kesal, Shera menatap tajam pada Marco. "Apa kau pikir aku sedang bercanda?"
Marco pun menggeleng seraya berdecak heran. Ia tidak menyangka Tuan Gunawan bisa membiarkan putra semata wayangnya menikah dengan seorang bekas wanita malam. "Aku tidak percaya ini."
"Memangnya kenapa? Kau mengenal Via?"
Pria brewokan itu menjawab dengan anggukan kepala, diiringi sebuah senyum misterius. "Tentu saja. Wanita itu pernah bekerja di sini."
Seketika, bola mata Shera membulat sempurna saat mendengar ucapan Marco. Bahkan ia belum dapat mempercayai pendengarannya sendiri. "Apa? Wanita itu pernah bekerja di sini?"
"Ya. Tapi malam itu Tuan Gunawan yang membelinya. Aku juga tidak tahu untuk apa sebelumnya. Apa mungkin untuk dinikahkan dengan anaknya? Tapi kenapa harus seorang wanita seperti Via?"
Senyum kemenangan hadir di wajah Shera, seolah telah mendapatkan sebuah harta karun.
Jadi Via hanya seorang wanita murahan. Seorang wanita malam ...