Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Kau Tidak Perlu Ragu!!


Sore itu, Shera mengajak Via bicara empat mata di sebuah taman di depan rumah sakit. Sementara ibu dan Wira menunggu sambil mengawasi Lyla yang sedang bermain di sebuah area khusus untuk anak-anak yang tersedia di depan rumah sakit.


"Maaf, kalau kehadiranku sudah mengganggumu selama ini. Aku hanya merasa iri karena Lyla lebih memilihmu daripada aku, ibu kandungnya sendiri," ucap Shera. Dari wajahnya sudah terlihat kesedihan mendalam.


"Aku bisa mengerti untuk itu. Lyla bukan anak yang mudah menerima orang baru," jelas Via mencoba meredam kesedihan wanita di sampingnya.


"Sampai sekarang dia belum bisa menerimaku sebagai ibu kandungnya."


"Maaf, tapi aku sudah berusaha membujuknya. Mungkin aku butuh waktu lagi. Tapi aku yakin, suatu hari Lyla akan menerimamu."


Shera menyeka setitik air matanya. Ia mulai teringat masa lalu, saat dimana dirinya dan Wira masih terikat dalam pernikahan. Wanita itu menarik napas dalam, sebelum melanjutkan ucapannya.


"Wira menikahiku sebagai bentuk tanggung jawab karena kecelakaan yang menewaskan orang tuaku. Aku menganggapnya sebagai pembunuh, karenanya aku membencinya. Demi membalasnya, aku mengikat Wira dengan rasa bersalah, dan aku berhasil. Wira bertekuk lutut di hadapanku. Dia memberi apapun yang ku mau. Ayah benar, antara aku dan Wira tidak pernah ada rasa cinta. Apa dirasakan Wira padaku hanya sebatas rasa bersalah, sehingga dia buta untuk semua hal buruk yang kulakukan dan menganggapnya sebagai cinta. Dan sekarang, aku bisa melihat cinta di mata Wira untukmu. Dan aku sempat merasa iri. Dulu, berkali-kali aku sengaja melakukan kesalahan, tapi dia tetap memaafkanku. Sekarang aku sudah kehilangan semuanya.


"Aku bahkan pernah mengatakan tidak mau ada anak di antara kami, karena aku tidak mau terikat dengan Wira seumur hidupku. Karena itulah, aku membuang Lyla. Aku bukannya tidak menginginkan anakku. Tapi kebencian ku pada Wira terlalu besar, sehingga membutakanku."


Via tertegun mendengar penuturan Shera. Baginya, tidak ada alasan apapun yang dapat membenarkan seorang ibu membuang anaknya.


"Aku dan Lyla memiliki nasib yang sama. Dibuang oleh orang tua kami. Karena itulah aku sangat menyayanginya, dan bagiku Lyla adalah segalanya."


Keheningan pun tercipta. Via dan Shera larut dalam pikiran masing-masing.


"Boleh aku tanya sesuatu?" ujar Shera menatap Via, dan segera dijawab anggukan oleh wanita itu. "Kau akan punya anak sendiri dengan Wira. Apa rasa sayangmu pada Lyla akan tetap sama setelah kelahiran anakmu?"


Via kembali tertegun. Pertanyaan Shera membuat tubuhnya meremang, seakan wanita itu meragukan besarnya kasih sayang Via kepada Lyla.


"Lyla adalah anakku. Dan akan selalu begitu," ucap Via menegaskan.


"Tapi seorang ibu pasti akan lebih menyayangi anak yang terlahir dari rahimnya. Kau juga akan begitu." Kedua bola mata Shera sudah dipenuhi cairan bening mengingat Lyla yang akan memiliki seorang saudara tiri. "Lyla hanyalah anak angkatmu. Tentu saja kau akan lebih menyayangi anak kandungmu. Dan anakku akan merasa tersisih?"


"Itu tidak akan terjadi. Lyla tahu aku sayang padanya melebihi apapun."


"Kau yakin dia tidak akan merasa tersisih?" tanya Shera seakan ragu.


Kali ini Via merasa pertanyaan Shera sudah sangat keterlaluan. Ia berdiri dari duduknya, bermaksud menghindari pembicaraan yang baginya tidak masuk akal itu. "Maaf, aku harus segera pergi. Ini sudah sore, dan aku tidak mau Lyla sampai lelah menunggu."


"Aku tidak perlu menjawab apapun pertanyaanmu," seru Via memotong pembicaraan Shera. "Kau tidak punya hak meragukan cinta yang kumiliki untuk Lyla. Kau tidak tahu apapun tentang aku dan Lyla. Jadi--"


"Bundaaa!!" Terdengar suara panggilan Lyla dari seberang jalan sana, membuat Via dan Shera menoleh.


Tanpa disadari oleh Wira, gadis kecil itu terlepas dari pengawasannya. Melihat bundanya berada di taman yang terletak di seberang sana, ia setengah berlari, tak lagi memperhatikan kendaraan lalu lalang.


Dari jarak yang tak begitu jauh, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Menyadari adanya bahaya, Via dan Shera pun panik.


"Lyla!!" teriak Via memanggil. Tanpa berpikir panjang wanita itu berlari kencang menuju jalan dimana Lyla berada. Sementara Shera membeku di tempatnya. Antara terkejut dan khawatir.


Tiba-tiba, bayangan ucapan Tuan Gunawan terngiang kembali. Saat beberapa hari lalu Shera menemui mantan mertuanya itu untuk menghilangkan keraguannya akan ketulusan Via untuk Lyla. Walau pun pria paruh baya itu sudah menjelaskan segalanya, namun ia tetap meragu dan ingin memastikan sendiri dengan bertanya pada Via. Kini ia telah menemukan jawaban atas keraguannya. Sekali lagi, Via berkorban dengan mudahnya demi Lyla.


Kau tidak perlu meragukan kasih sayang Via pada anakmu, Shera. Via bahkan mampu mengorbankan apapun demi Lyla sekali pun itu harus dengan nyawanya. Alasan mengapa Via pernah menjadi seorang wanita malam adalah demi Lyla. Setelah semua pengorbanan itu, apa lagi yang kau ragukan? kalimat panjang yang masih membekas diingatan Shera, seiring dengan air mata yang jatuh.


Tubuh Via terhempas saat sebuah mobil sedan menghantamnya. Beruntung, ia sempat mendorong Lyla hingga terjatuh ke trotoar sebelum mobil menyentuh tubuhnya. Tak jauh dari sana, Wira yang baru saja menyadari hilangnya Lyla dari pengawasannya segera mencari anak gadisnya itu. Seluruh tubuhnya pun terasa lemas, dengan cairan bening yang membasahi wajahnya, saat mendapati pemandangan di depannya.


"Via!!" teriak Wira menggelegar.


****


_


_


_


_


_


_


_