
Sore hari, di tengah padatnya jalanan ibu kota karena kendaraan yang lalu lalang. Sambil menyetir mobil, Wira melirik ke sisi jalan seperti mencari sesuatu. Kejadian kemarin membuatnya ingin belajar menjadi seorang suami yang perhatian dan romantis. Teringat ucapan Dokter Willy semalam.
Istri itu butuh perhatian. Jangan kau saja yang mau dilayani. seloroh Dokter Willy kembali terngiang.
"Bunga, perhiasan dan makanan," gumam Wira seraya melirik kursi penumpang di sebelahnya, dimana telah ada kotak perhiasan dan juga sebuket bunga mawar putih. "Berarti sekarang tinggal membeli makanan saja. Tapi apa?"
Tampaknya Wira sedang kebingungan. Sebab ia sama sekali tidak mengetahui apa yang disukai oleh wanita muda yang menjadi istrinya itu. Selama menikah, tak pernah sekali pun ia bertanya, apa yang makanan kesukaan sang istri, suka barang apa, atau hanya sekedar bertanya tentang hobi saja. Sungguh, Wira tidak tahu apapun tentang Via. Sebaliknya, Via selalu tahu apa yang disukai sang suami, dengan bertanya pada ibu mertuanya. Mengingat semua itu, ada rasa sesal di hati Wira. Betapa selama ini ia tak pernah perhatian pada sang istri.
Laki-laki itu pun menepikan mobil saat melintas di depan sebuah food court.
Ia melewati satu persatu kedai makanan sambil berpikir. "Via suka makanan apa, ya? Kenapa aku tidak pernah menanyakannya?" gumamnya. Ia kembali berkeliling mencari, hingga menemukan sebuah kedai yang menjajakkan martabak. "Via kan wanita yang sederhana. Mungkin dia akan suka ini."
Tanpa berpikir lama, Wira memesan martabak manis dengan berbagai varian rasa, berharap sang istri akan senang dengan perhatian kecilnya.
Setelah pesanan selesai, ia segera bergegas menuju rumah sakit tempat sang istri sedang dirawat.
****
Setibanya di parkiran rumah sakit, Wira segera turun dari mobil dengan membawa beberapa benda yang sengaja ia persembahkan untuk sang istri. Langkah nya penuh semangat. Bahkan bunyi siulannya terdengar begitu riang gembira.
Di tatapnya beberapa benda di tangannya sambil tersenyum, menuju sebuah lift yang akan membawanya ke lantai atas, dimana Via berada.
"Via pasti suka ini," gumamnya.
Pintu lift terbuka, Wira mempercepat langkahnya menuju ruang perawatan sang istri. Namun, saat tiba di depan pintu, ia menghentikan langkahnya. Tampak Evan sedang berada di ruangan itu, sepertinya sedang memeriksa keadaan Via. Wira pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih menunggu.
Kenapa harus dia terus yang memeriksa Via? Memangnya tidak ada dokter atau perawat lain? Sepertinya aku harus beritahu Willy. Aku tidak mau dia terus mendekati Via. Wira menggerutu dalam hati.
Hingga beberapa saat berlalu, Evan keluar dari ruangan itu bersama seorang perawat wanita. Menyadari Wira ada di sana, Evan tetap berusaha santai, sementara Wira seolah sengaja menunjukkan rasa tidak sukanya.
"Sudah selesai periksanya?" tanya Wira sinis.
Evan hanya merespon dengan senyum tipis, lalu tanpa sepatah kata pun melangkah pergi meninggalkan Wira yang sedang terbakar oleh cemburu.
"Cih, dokter macam apa dia? Arogan sekali?" Ia mengumpati Evan dengan ribuan sumpah serapahnya, tanpa sadar bahwa sebenarnya dirinya lah yang bersikap arogan.
Laki-laki itu bahkan harus mengatur napas sebelum masuk ke ruangan itu, akibat merasa sesak saat ada pria lain yang dekat dengan Via, sekali pun itu hanya seorang dokter yang merawatnya. Langkah Wira pun terhenti, saat mendapati sang istri sedang duduk bersandar di pembaringan sambil memakan sesuatu dengan lahapnya.
"Dia sedang makan apa, kenapa kelihatannya dia sangat menikmatinya?"
Penasaran, Wira akhirnya mendekat. "Selamat sore, Sayang ..." ucapnya.
"Mas ... " Via mengulurkan tangan hendak mencium punggung tangan suaminya itu. "Maaf, tidak melihat Mas masuk kemari."
"Hem... Kau makan apa ?"
"Ini kebab Turki, Mas," jawabnya sambil terus menyuapkan potongan makanan itu ke mulutnya.
"Kebab Turki?"
Via mengangguk pelan. " Iya, tadi Evan membawanya. Katanya ini dari restoran milik Kak Zian. Aku sudah lama mau makan ini."
Tiba-tiba, raut wajah Wira berubah kesal mendengar jawaban sang istri. "Kau yang meminta makanan ini padanya?"
"Tidak, Mas. Istri Kak Zian yang meminta Evan membawakannya untukku. Dia tahu aku sedang dirawat. Makanya dia minta Evan membawakannya." Via menatap wajah suaminya itu, "kenapa, Mas?"
"Mas bawa apa?"
"Martabak manis," jawabnya.
"Ma-martabak manis?" Via menelan saliva, pasalnya, sejak hamil, ia sama sekali tak menyukai makanan manis itu. Namun, demi menjaga perasaan Wira, ia tak mengungkapkannya. Wira pun mampu menebak ekspresi yang ditunjukkan istrinya itu.
Sambil mengusap rambut sang istri, Wira tersenyum. "Maaf, aku tidak tahu kau suka makanan apa. Jadi aku beli saja apa yang ku rasa enak." Wira menarik kursi, lalu duduk di sisi pembaringan sang istri.
Wajah Via pun berubah berbinar. Untuk pertama kalinya, Wira menunjukkan perhatian lebih padanya. "Terima kasih, Mas. Sini martabaknya, aku mau makan."
"Suka?" tanya Wira seakan ragu.
"Aku suka apapun yang Mas Wira berikan untukku."
Wanita itu segera meraih kotak berisi martabak itu dan membukanya. Baru mencium aroma nya saja sudah membuatnya menahan rasa mual. Terlebih saat menatap coklat dan susu yang meleleh pada makanan itu. Rasanya Via tidak sanggup jika harus memakannya.
Namun, besarnya rasa ingin menghargai apapun pemberian sang suami membuatnya menahan rasa mualnya. Ia meraih potongan martabak itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Enak, terima kasih, Mas," ucapnya sambil mengunyah.
Wira memperhatikan Via dengan seulas senyum yang mengembang di bibirnya. Bahkan ia dapat melihat Via yang beberapa kali menahan mualnya dan memaksakan diri memakan makanan itu.
"Sudah hentikan, Sayang." Wira meraih pergelangan tangan Via dan meletakkan potongan martabak ke dalam kotak.
"Kenapa, Mas."
"Karena kau tidak suka."
"Aku suka ..."
Wira terkekeh pelan, kemudian memberi segelas air putih. "Minum dulu." Ia kembali menatap dalam-dalam wajah sang istri yang sedang meneguk air putihnya. "Hanya karena takut aku tersinggung, kau sampai memakan makanan yang membuatmu merasa mual?"
Via menunduk, takut jika Wira tersinggung. "Maaf, Mas."
Menyadari itu, Wira segera menarik Via ke dalam pelukannya. "Aku yang minta maaf, Sayang. Aku yang kurang memperhatikanmu selama ini. Bahkan aku sampai tidak tahu apa yang kau sukai."
Melepaskan pelukan, Wira kemudian meraih kotak makanan yang dibawa Evan tadi dan membukanya.
"Sini aku suapi kebabnya." Dengan senyum, ia menyuapkan kebab ke mulut sang istri, namun Via hanya mengulum bibirnya, seolah takut memakan kebab pemberian Evan. "Ayolah, aku tidak marah atau tersinggung. Ayo buka mulutnya."
Via tersenyum tipis, lalu membuka lebar-lebar mulutnya. "Terima kasih, Mas," ucapnya sambil mengunyah.
Aku baru tahu kalau seorang istri itu sangat senang jika diperhatikan. Padahal aku hanya menyuapinya makan tapi sepertinya dia sangat bahagia. ucap Wira salam batin.
Raut wajah Wira pun penuh dengan kebahagiaan dan rasa bangga, seolah dirinya adalah suami terbaik di dunia.
****
Selepas menyuapi Via dengan kebab yang dibawa Evan, Wira bergegas menuju ruangan Dokter Willy. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk begitu saja, membuat sahabatnya itu berdecak heran.
"Tidak usah pamer senyum menyebalkanmu itu. Baru juga perhatian kecil sudah sebangga itu," seloroh Willy seolah mampu membaca raut wajah Wira.