Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Willy dan Pil Setannya


"Apa Via tahu tentang minuman yang dicampur pil setan itu?" tanya Marchel.


"Tahu," jawab Wira santai.


Bola mata Marchel membeliak, sepertinya ia punya bahan ledekan baru untuk teman durjananya itu. Dalam pikirannya, sudah pasti Via akan sangat marah dan kesal, seperti istrinya dulu saat Willy memberinya pil itu. Akibat keusilan Dokter Willy, Marchel harus menerima amukan dari istrinya. Memikirkan Wira yang dimarahi Via membuat Marchel ingin tertawa.


"Bagaimana dia tahu?" Ia begitu menggebu ingin segera menertawakan Wira.


"Willy mengirimkan pesan melalui WhatsApp, dan Via yang membacanya pertama kali. Jadi ketahuan."


Senyum penuh keusilan terbit di sudut bibir Marchel, lalu beberapa detik kemudian ia tertawa hingga merasa puas. "Kau pasti kena marah, dijambak, digantung, disetrika uap, atau mungkin dikuliti oleh Via." Marchel kembali tertawa terbahak-bahak, memikirkan semarah apa Via jika tahu apa yang dilakukan Willy. "Apa kau tahu, dulu Sheila juga sangat marah padaku karena ulah Willy. Dia bahkan jadi takut ke kamar dan memilih tidur di kamar Chella."


Sungguh di luar dugaan, kali ini Wira lah yang tertawa senang. Membayangkan Marchel yang begitu tunduk pada istrinya membuat perutnya terasa dikelitik.


"Jadi kau sedang menceritakan pengalamanmu disetrika uap oleh istrimu karena pil setan milik Willy ya?" ujarnya sambil tertawa lantang, membuat senyum yang menghiasi wajah Marchel lenyap seketika.


"Memang kau dimarahi Via akibat pil setan itu?" Ia menatap curiga pada Wira.


Sambil menggelengkan kepala, diiringi tawa renyah, Wira menjawab, "Tidak sama sekali. Awalnya dia memang kesal, tapi tidak sampai marah." Wira menaikkan alisnya beberapa kali, pertanda ia sedang pamer pada Marchel. Dalam hati ada rasa bangga mendapatkan istri seperti Via, yang sejak awal begitu lembut, perhatian dan penuh kasih sayang. Ia bahkan tidak pernah melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri, di tengah kesibukan merawat kedua anaknya.


Senjata makan tuan, mungkin ungkapan itulah yang cocok untuk Marchel. Maksud hati ingin menertawakan Wira, malah dirinya yang menjadi bahan tertawaan sahabat durjananya itu.


"Aku bisa bayangkan seorang dokter berkarisma seperti dirimu kena marah, dijambak, digantung, disetrika uap, atau mungkin dikuliti oleh istrimu." Sambil tertawa puas, Wira mengulang kalimat yang tadi diucapkan Marchel untuk mempersendakan dirinya.


Dasar sableng! Marchel memaki dalam hati.


Suasana kembali normal setelah terjadi drama saling menertawakan akibat ulah si dokter playboy Willy yang begitu ahli dalam urusan cinta para sahabatnya. Kini wajah Wira dan Marchel mendatar setelah mengingat rumitnya kisah cinta Willy dengan kekasihnya.


"Entahlah, hubungan mereka terlalu rumit." Jika membicarakan kisah cinta Willy, maka Marchel boleh jadi merasa sebagai orang yang paling bersalah pada sahabatnya itu. Sebab karena dirinyalah, Willy mengalami patah hati yang sulit terobati. Willy adalah seseorang yang selalu rela berkorban demi para sahabatnya, sekali pun dirinya yang harus menjadi tumbal.


Hidup sebatang kara sejak kecil, tak membuat Wira dan Marchel meninggalkan sahabatnya itu. Mereka tetap bersahabat hingga dewasa walaupun bagi sebagian orang perbedaan kasta masih begitu kental. Marchel dan Wira yang berasal dari keluarga kaya raya, sementara Willy hanyalah seorang anak sebatang kara sejak kepergian sang ibu di masa kecilnya. Ia dapat menjadi seorang dokter seperti sekarang, tak lepas dari dorongan Marchel dan juga Wira.


🌵🌵🌵🌵


Maaf ya, pendek-pendek. Otor sedang sibuk-sibuknya di real life. Semoga hari ini pekerjaan di dunia nyata cepat selesai, jadi bisa up banyak-banyak lagi.


Terima kasih untuk komen dan juga like. 😘😘😘


lope lope sekebon.


note :


Yang belum kenal Dokter Marchel dan kisahnya yang dramatis dan menyedihkan, boleh baca Novel rasa ikan terbang berjudul 👇👇👇👇👇👇👇


"Pernikahan Rahasia Gadis Culun dan Dokter Dingin"



tapi siapin mental buat marah-marah, karena alur dan penokohan benar-benar mengundang emosi jiwa.


Terima kasih