Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Ayah, Malahin Om Itu, Yaaa ...!!!


Dengan panik, Bu Retno segera menghampiri Via yang sedang meringis kesakitan memegangi perutnya. Wajahnya pun tiba-tiba terlihat pucat dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.


Sementara beberapa pria yang masih berada di sana saling melirik dan saling melempar kode satu sama lain. Tak ingin terlibat masalah, mereka akhirnya memilih pergi meninggalkan panti asuhan.


Sementara Bu Retno sudah sangat panik. "Via ... apa perutmu sangat sakit, Nak?"


"Iya, Bu. Sakit sekali." Ia menggenggam tangan Bu Retno dengan eratnya. Sesaat kemudian, datang lah anak-anak panti menghampiri mereka. Lyla pun menangis histeris saat mendapati bundanya terbaring di lantai.


"Bundaaa... Bunda kenapa?" teriak Lyla sambil menangis.


Via berusaha menahan rasa sakit dengan tersenyum kepada Lyla. "Bunda tidak apa-apa, Sayang. Lyla jangan nangis!"


Namun bujukan lembut Via tidak serta merta membuat Lyla tenang. Ia kembali menangis menyadari bunda nya sedang kesakitan.


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵


Di sebuah gedung pencakar langit, Wira masih bergelut dengan pekerjaan padatnya. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, namun ia belum beranjak dari kursi. Melepas penat, ia memandangi sebuah foto yang bertengger di atas meja kerja nya. Senyum bahagia Via yang berpose memeluk Lyla, selalu menjadi mood booster- nya. Tatapannya mengarah ke perut sang istri yang membesar, mengusapnya dengan jari.


Tidak berselang lama, ponsel berdering tanda panggilan masuk. Wira segera meraih benda berbentuk persegi panjang itu. Di layar tampak pemanggil dengan nama Bu Retno. Wira mengerutkan alis, sebab tidak biasanya Bu Retno menghubungi dirinya.


"Bu Retno? Bukankah Via dan Lyla sedang kesana?" gumamnya. Laki-laki itu pun segera menggeser simbol hijau agar segera terhubung dengan wanita paruh baya itu.


"Halo, Nak Wira ..." Terdengar suara Bu Retno memanggil dengan panik. Wira pun menebak sesuatu sedang terjadi di panti. Apalagi ditambah dengan suara tangisan Lyla yang memanggil bundanya beberapa kali.


"Ada apa dengan Via, Bu?" tanya Wira.


"Sesuatu terjadi di panti, dan Via terjatuh. Perutnya jadi sakit ..." Suara Bu Retno yang terdengar gemetar membuat tubuh Wira terasa meremang.


"Aku langsung ke sana, Bu. Tolong titip Via dan Lyla."


Wira langsung berdiri dari duduknya dan menyambar kunci mobil di atas meja. Setengah berlari, ia menuju lift. Bahkan tidak mempedulikan seorang sekretaris yang beberapa kali memanggilnya. Wanita itu pun segera berlari dan mengekor di belakang Wira.


"Maaf, Pak Wira, setengah jam lagi kita ada rapat dengan ..."


"Aku harus pergi!" Ia buru-buru menyela sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya.


"Tapi, Pak, bagaimana dengan--"


"Aku tidak peduli," bentaknya, kemudian tersadar setelahnya. "Maaf ... Em ... katakan pada ayah, sesuatu terjadi pada istriku di panti. Jadi aku harus kesana."


Masih dengan sisa keterkejutannya, wanita itu mengangguk pelan, "Ba-baik, Pak! Akan saya sampaikan."


🌵🌵🌵🌵🌵🌵


Suasana panti masih diselimuti kepanikan saat Via semakin merasa kesakitan. Kini ia sudah terbaring di atas sebuah sofa panjang. Sementara Lyla yang berada di sisi nya terus menangis. Sebisa mungkin, Via menahan rasa sakitnya agar Lyla tidak semakin ketakutan. Namun, rasa sakit yang tak tertahan itu membuatnya ingin menyerah.


Hanya butuh waktu lima belas menit, Wira telah tiba di panti asuhan itu bersama beberapa orang pria berseragam hitam. Betapa terkejut dirinya saat mendapati keadaan panti yang kacau balau, beberapa barang berhamburan, dan pecahan kaca dimana-mana. Pikirannya telah kalut menduga sesuatu yang buruk telah terjadi pada sang istri.


Seorang gadis remaja kemudian keluar saat mendengar suara Wira memanggil. Ia mengusap sisa air mata di wajahnya.


"Hana, dimana Via dan Lyla?"


"Kak Wira ... Kak Via ada di dalam," jawab gadis remaja bernama Hana itu. Wira yang masih diselimuti kepanikan dan rasa takut segera masuk ke sebuah ruangan dimana Via berada.


Di dalam sana, Bu Retno masih menemani Via dan Lyla, juga ada beberapa anak panti lain yang duduk menangis di lantai. Seketika sendi-sendinya terasa lemas, saat menatap Via mengerang kesakitan. Laki-laki itu segera mendekat dan memeluk Via dan Lyla.


"Sayang ... Apa yang terjadi?" tanyanya. Via tak sanggup lagi menyahut, akibat sakit luar biasa yang sejak tadi ditahannya. Sementara Lyla sudah lebih tenang dengan keberadaan ayahnya itu.


"Sakit, Mas!" ucap Via diiringi isak tangisnya, membuat Wira mengusap punggungnya.


"Nak Wira, ayo cepat bawa Via ke rumah sakit," ucap Bu Retno panik.


"Iya, Bu. Tapi Ibu ikut, ya ..." ujar Wira. "Soal anak-anak tenang saja. Aku membawa beberapa orang untuk menjaga mereka."


Tanpa menunggu lagi, Wira menggendong Via menuju mobil yang terparkir di depan panti. Seorang sopir segera membuka pintu saat melihat Wira keluar dengan menggendong Via. Sementara Bu Retno menggendong Lyla. Mobil pun segera melaju menuju rumah sakit.


"Mas, aku tidak tahan lagi. Perutku sakit sekali." Via kembali meringis, sambil mencengkram lengan Wira kuat-kuat.


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit." Wira mengusap keringat yang membasahi dahi istrinya.


Lyla yang duduk di kursi depan dengan Bu Retno sesekali mengintip ke belakang untuk melihat keadaan bundanya.


"Ayah, tadi om itu dolong bunda ke lantai. Bundanya jadi syakit. Ayah malahin om itu ya..." Dengan polosnya Lyla mengadukan apa yang dilihatnya tadi. Ia sempat mengintip dari dalam, saat seorang pria mendorong bundanya dengan kasar.


"Om siapa, Nak?" tanya Wira penasaran, dengan kedua tangannya yang masih memeluk Via, menyandarkan Via di dadanya.


"Om itu yang tadi, Ayah. Om nya jahat sama bunda."


Bu Retno segera memeluk gadis kecil itu saat akan mulai menangis lagi. Ia melirik ke belakang sana. "Tadi beberapa orang suruhan Tuan Marco datang ke panti dan meminta agar panti dikosongkan. Tuan Marco adalah pemilik lahan panti yang baru. Katanya mau membangun tempat hiburan di sana. Makanya kami diminta segera meninggalkan tempat itu."


"Marco?" tanya Wira dengan alis mengerut pertanda sedang berpikir.


"Iya, Nak Wira. Mereka menyebut nama Tuan Marco saat pertama kali datang beberapa bulan lalu," jawab Bu Retno. Wanita paruh baya itu bahkan tidak pernah mengetahui bahwa Via pernah masuk ke dunia hitam hanya untuk mendapatkan uang pengobatan Lyla.


Wira semakin mengeratkan pelukan pada tubuh sang istri yang bersandar di dadanya. Sesekali ia mengecup ubun-ubun Via saat kembali meringis menahan sakit.


"Mas ..." Napas Via mulai memendek, yang menandakan wanita itu semakin kesakitan.


"Sabar, Sayang. Tahan sedikit lagi. Semua akan baik-baik saja."


Kini raut wajah Wira sudah menggeram, namun ia berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahannya. Kini yang terpenting adalah keselamatan Via dan bayi dalam kandungannya.


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵