Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Ayah, Jangan Jahat sama Bunda Lagi!


Setelah melewati malam panjang yang menyebalkan, pagi itu Wira dan Via beranjak menuju sebuah rumah sakit. Pihak rumah sakit baru saja memberitahu bahwa hasil tes pencocokan sum-sum tulang belakang antara Lyla dan Wira sudah keluar. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Wira dan Via saling diam. Bukan apa-apa, kejadian semalam benar-benar membuat Wira berada antara perasaan kesal dan malu.


Gagal melewati malam yang indah bukan sesuatu yang diharapkannya. Terlebih dengan kejadian dengan Aldi yang membuat geram sebelumnya.


Setibanya di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan seorang dokter yang menangani Lyla. Baik Wira maupun Via sudah tak sabar untuk mengetahui hasil tes tersebut.


******


Dengan raut wajah terlihat serius, seorang dokter sedang membaca kata demi kata yang tertulis dalam sebuah kertas putih. Wanita itu melirik Wira dan Via bergantian, lalu kembali terfokus pada secarik kertas yang berada di tangannya.


"Bagaimana hasilnya, Dokter?" tanya Wira tak sabar.


Dokter wanita itu terdiam beberapa saat. Ia melirik Via yang sepertinya sudah bisa menebak hasilnya, hanya dengan menatap ekspresi sang dokter. Bahkan wanita muda itu sudah menitikkan air matanya.


"Sebelumnya kami mohon maaf ..." ujarnya dengan raut penuh penyesalan. "Walaupun hasil tes DNA menunjukkan 99persen identik, namun untuk sumsum tulang belakang menunjukkan hasil sebaliknya. Artinya Pak Wira tidak bisa menjadi pendonor untuk pasien."


Bagai mendapat guncangan hebat, air mata Via mengalir semakin deras. Ia telah menaruh harapan besar, bahwa putri kecilnya dapat terselamatkan dengan ditemukannya orang tua kandung Lyla. Namun ternyata, keberuntungan belum berpihak padanya. Lyla masih harus berjuang untuk hidup dalam belenggu sebuah penyakit.


Begitu pun dengan Wira yang terlihat sedih sekaligus terkejut. Laki-laki itu mengusap wajahnya. Walaupun sedih, ia mencoba menenangkan Via dengan menggenggam tangannya.


"Dokter, apa masih ada cara lain yang bisa ditempuh? Apa ada pengobatan yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan anakku?" tanya Via penuh harap.


"Mungkin kita bisa melakukan tes pada ibu kandungnya, atau keluarga lain yang memiliki hubungan darah. Dalam artian dengan beberapa kriteria. Dilihat juga dari segi usia. Maksimal usia pendonor adalah 44tahun. Karena di atas usia itu ada banyak resiko yang mungkin terjadi," terang sang dokter.


Baik Via maupun Wira tak dapat berkata-kata lagi. Kecewa, sedih dan khawatir bercampur menjadi satu. Baru saja mereka memiliki harapan begitu besar akan kesembuhan Lyla, kini harapan itu sirna sudah. Harapan mereka tinggal Shera, namun Wira tahu betul seperti apa Shera, yang bahkan tak menginginkan kehadiran anak di antara mereka.


Setelah berbicara dengan dokter, mereka akhirnya memilih meninggalkan ruangan itu.


Berselang lima belas menit kemudian, mereka telah tiba di depan sebuah rumah besar. Wira terdiam beberapa saat setelah mematikan mesin mobil. Ia menatap rumah itu dengan perasaan sedih. Memikirkan kondisi Lyla, dan juga hasil pemeriksaan sumsum tulang belakang yang ternyata tidak cocok bagaikan sebuah goresan luka. Terlebih, penolakan Lyla yang enggan menerimanya sebagai seorang ayah.


Ingin rasanya Wira memeluk putri kecilnya itu, dan melepaskan semua kerinduannya selama empat tahun. Namun apa daya, ia hanya dapat mendekat pada gadis kecil itu saat sedang tertidur saja.


"Mas ..." panggil Via, ketika sang suami terdiam sejak tadi.


"Hemm ..."


"Mas kenapa?"


"Aku takut Lyla akan histeris kalau melihatku lagi. Sebaiknya aku tidak usah masuk. Lyla baik-baik saja, itu sudah membuatku senang."


Walaupun masih diselimuti perasaan sedih setelah mendengar penjelasan dokter, Via tetap berusaha tersenyum. "Lyla itu anak yang tidak sulit diberi pengertian, Mas. Hatinya lembut dan penyayang. Karena itu dia sangat sensitif. Mas bisa mendapatkan Lyla dengan memberinya perhatian lebih."


Wira meraih jemari Via dan mengecup punggung tangannya. "Kau seorang ibu yang sangat sempurna, Via. Lyla beruntung memilikimu, saat ibu kandungnya sendiri membuangnya. Shera bahkan tidak memikirkan hal buruk yang akan terjadi jika saja tidak ada yang menemukan Lyla saat itu."


Ingatan Wira kembali menerawang ke masa lalu. Rasa sakit karena pengkhianatan Shera memang belum lenyap sepenuhnya, pun dengan sisa cinta yang masih membekas. Namun ia bersyukur, kini memiliki Via, seseorang yang baginya sangat sempurna sebagai istri dan ibu pengganti untuk anaknya. Karenanya, walaupun sulit, ia akan belajar mencintai Via dan menghabiskan sisa hidupnya dengan membahagiakan wanita itu.


"Terima kasih, sudah menjadi ibu yang terbaik untuk anakku. Aku tidak akan bisa membalas kebaikanmu."


"Aku sangat menyayangi Lyla, Mas. Memang bukan aku yang melahirkannya, tapi aku menyayanginya lebih dari apapun."


"Aku tahu." Wira kemudian membelai wajah Via dan menatap beberapa bagian yang masih terlihat membiru akibat perbuatan Aldi semalam. "Ayah akan sangat marah kalau tahu apa yang terjadi semalam. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada Aldi nanti."


"Memangnya kenapa, Mas?"


"Lihat saja nanti."


******


Di dalam rumah, Lyla sedang bermain sembari menonton film kartun kesukaannya. Sudah sejak tadi ia menunggu kedatangan sang bunda, namun belum juga kembali.


"Oma, bunda mana? Kenapa bunda tidak pulang? Lyla mau bunda, Oma ..." tanya Lyla di sela-sela kegiatan paginya.


Wanita paruh itu mengusap rambut sang cucu dengan sayang, diiringi senyum di wajahnya. "Sebentar lagi juga bunda pulang."


"Lyla mau pakai baju bilu yang sama kayak boneka ini, Oma."


"Iya, Sayang. Tunggu sebentar lagi ya ..."


Baru saja oma ingin menghubungi Via, wanita muda itu sudah muncul dari balik pintu dengan seulas senyum tulus. Lyla pun berlari kecil, menyambut kedatangan sang bunda.


"Jangan lari-lari, Sayang ... Nanti Lyla jatuh." Via merentangkan tangan, lalu memeluk gadis kecil itu. Ia berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan berusaha untuk tetap tersenyum. Dikecupnya wajah mungil yang baginya sangat manis itu.


"Bunda dalimana? Lyla kan cali Bunda. Kenapa Bunda pulangnya lama?" tanya Lyla.


"Bunda sibuk, Sayang. Coba lihat, bunda bawa baju gaun Lyla. Jadi sekarang Lyla bisa pakai."


"Lyla mau pakai. Boleh kan Bunda," ucapnya penuh semangat, dengan memeluk sebuah boneka berpakaian biru di tangannya.


"Boleh, Sayang." Via mengecup kening putrinya itu. "Tapi, Lyla mau dengar bunda dulu kan?"


"Mau Bunda," jawabnya diiringi anggukan kepala.


"Pintarnya anak bunda ... Makanya bunda sayang Lyla. Karena Lyla anak baik dan pintar." Via dengan kelembutannya selalu mampu meluluhkan hati gadis kecilnya itu. "Lyla sayang ... Lyla mau ketemu ayah?"


"Ayah?"


"Iya, Sayang ... Ayah juga mau ketemu Lyla. Jadi Lyla tidak boleh takut lagi sama ayah. Lyla mengerti?"


"Mengelti, Bunda."


Tak lama, Wira muncul dari balik pintu. Lyla yang masih memiliki sisa trauma mundur beberapa langkah saat menyadari Wira ada di sana, namun Via selalu mampu membujuk anak gadisnya itu. "Jangan takut, Sayang. Ayah sayang sama Lyla."


Pelan-pelan, Wira berjongkok di depan gadis mungil itu. Ia tersenyum, dengan mengulurkan tangannya. "Sini sama ayah ..."


Masih dengan sisa ketakutannya, Lyla mendekat, sehingga Wira segera meraih tubuh Lyla dan memeluknya. Rasanya begitu bahagia bisa memeluk anak yang teramat dirindukannya itu. Cairan bening yang sejak tadi ditahannya runtuh juga.


"Ayah ..." panggil Lyla, membuat Wira semakin erat memeluknya. Pertama kali mendengar panggilan ayah dari Lyla memberi kebahagiaan tersendiri baginya. Ia melepas pelukan dan mengecup setiap bagian wajah gadis mungil itu.


"Ayah, jangan jahat sama bunda lagi ya ... Lyla sayang bunda. Nanti kalau Ayah jahat sama bunda lagi, Lyla malah sama Ayah, loh ..."


"Iya, Nak ... Ayah sayang sama Lyla, sama bunda juga."


Suasana haru pun tercipta di ruangan itu. Ketika Lyla mulai menerima kehadiran Wira sebagai ayahnya.


Dan, tak berselang lama, Tuan Gunawan keluar dari sebuah kamar, lalu ikut bergabung di sana. Seketika, bola mata pria paruh baya itu membulat, saat menyadari sesuatu yang lain di wajah menantu kesayangannya. Tatapan tajam penuh tuduhan pun kembali terarah pada Wira.


"Jelaskan apa ini!" ucapnya dengan raut wajah menggeram.