Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Drama Salah paham


Wira gelagapan. Tak ingin Lyla melihat adegan mereka, ia mendorong pelan tubuh Via sehingga terduduk di sofa. Raut wajah Via seketika berubah saat melihat Lyla masuk ke ruangan itu.


"Jangan! Om Wila jangan jahatin bunda lagi!" Lyla dengan langkahnya yang masih agak lemah menuju sofa dimana Via berada. Ia berdiri tepat di depan sang bunda, seolah ingin menjadi tameng. "Om Wila jahat! Om Wila dolong bunda lagi," teriaknya sembari menahan tangis.


"Tidak, Sayang! Bukan begitu." Wira mencoba meluruskan kesalahpahaman Lyla. Tangannya terulur, hendak meraih tubuh kecil anaknya itu. "Sini sama ayah dulu!"


"Tidak mau! Om Wila bukan ayah Lyla."


Menyadari keadaan itu, Via segera membawa Lyla ke pangkuannya dan memeluk. "Om Wira tidak jahat sama bunda, Sayang ..." bujuknya sambil mengusap punggung Lyla, yang sedang menyembunyikan wajah di ceruk leher bundanya.


"Lyla takut, Bunda ..." Masih terdengar Isak tangis dari sana, yang membuat Wira segera berjongkok di hadapan Via. Ia mengusap puncak kepala Lyla. Bahkan, Via dapat merasakan tubuh Lyla yang gemetar, dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.


"Lyla ... Ayah sayang sama Lyla, sama bunda juga," ucap Wira mencoba meluluhkan hati Lyla dengan melembutkan suaranya. Namun, tangisan Lyla kecil semakin kencang, sehingga membuat seisi rumah itu segera masuk ke ruangan dimana mereka berada.


"Ada apa ini? Kenapa Lyla menangis?" tanya Opa melangkahkan kakinya mendekat, membuat Wira segera berdiri dari posisi berjongkoknya.


Pria paruh baya itu meraih tubuh Lyla dan menggendongnya. "Lyla kenapa, Nak?" tanya sang opa.


Masih dengan tangis tertahan, Lyla menjawab, "Om Wila jahatin bunda, Opa ... Tadi Lyla lihat Om Wila dolong bunda." Setelah mengatakan itu, Lyla kembali bersandar di bahu sang opa.


Tatapan tajam penuh ancaman pun terarah pada Wira, sehingga dengan cepat, laki-laki itu menggeleng. Sedangkan Via masih dengan rona merah di wajahnya yang terlihat semakin jelas.


"Bukan begitu, Yah ... Lyla salah paham." Wira mencoba membela diri.


"Cukup! Jangan coba membela diri! Kau sama sekali tidak berubah." Sang ayah terlihat menggeram, namun suaranya terdengar santai, agar tidak menakuti Lyla.


Wira mengusap wajah kasar. Antara bingung dan malu, bagaimana menjelaskan pada sang ayah, bahwa dirinya baru akan mencium Via saat Lyla masuk ke ruangan itu, sehingga menimbulkan salah paham. Wira kemudian melirik Via yang sedang menunduk malu.


"Opa Lyla takut sama Om Wila," gumam Lyla.


"Jangan takut, Nak! Kan ada opa. Lyla tadi lihat apa?" tanyanya dengan nada lembut.


"Lyla lihat Om Wila dolong Bunda. Bunda jatuh di situ." tangan kecil Lyla menunjuk ke arah dimana bundanya berada. Wira kembali menggeleng dengan cepat saat mendapat hadiah pelototan mata.


"Kau dengar ... Anak kecil mana mungkin berbohong," gerutunya. Tatapannya yang mengintimidasi seakan sanggup membelah tubuh Wira menjadi dua bagian. "Apa yang kau tunggu? Cepat keluar dari rumah ini, aku tidak mau cucuku sampai sakit lagi karena mu!"


Setelah mengucapkan itu, ia membawa Lyla keluar dari ruangan itu. "Lyla, kita ke taman belakang saja, ya ... Lyla mau lihat kolam ikan tidak? Di sana banyak ikan nya."


"Mau Opa ..."


*******


_


_


_


_


_


Sementara Lyla sedang senang dengan kegiatannya bersama opa memberi makan ikan di taman belakang, Wira beranjak keluar dari rumah itu dengan perasaan berkecamuk. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin ungkapan itulah yang cocok. Gagal mendapatkan ciuman perpisahan dari Via dan harus mengalami drama pengusiran yang cukup menyakitkan dari sang ayah.


Wira menghela napas panjang, sesekali terlihat menggelengkan kepalanya. Sesaat kemudian, ia menoleh pada sang istri yang berada di belakang punggungnya dan tersenyum.


"Via ... aku berangkat, ya," ucapnya sembari mengusap puncak kepala sang istri.


"Iya, Mas. Hati-hati ..." Tangan Via terulur, hendak mencium punggung tangan sang suami.


Wira melirik ke kanan dan kiri, seperti mengamati keadaan. Memastikan bahwa Lyla tidak sedang berada di sekitar mereka. Lalu dengan cepat mendaratkan kecupan sayang di kening sang istri.


Setelah berpamitan, Wira akhirnya meninggalkan rumah itu. Menuju rumahnya untuk menyiapkan segala keperluannya.


Wira belum berubah juga. Apa yang diinginkan anak itu. Bukannya berterima kasih pada Via yang sudah merawat anaknya selama ini, dia malah masih kasar. Aku harus memberinya hukuman. dalam batinnya.


"Opa ..." panggil Lyla membuyarkan lamunan sang opa.


"Iya, Nak!"


"Om Wila jangan ke sini lagi ya, Opa. Lyla takut," ucapnya sembari memberi makan ikan.


"Iya. Nanti opa larang Om Wira ke sini lagi."


"Tadi Lyla juga lihat, Om Wila mau gigit bunda, Opa. Teyus Om Wila dolong bunda sampai jatuh," dengan gaya bicaranya yang menggemaskan, Lyla mengadukan temuannya tadi -- yang membuat raut wajah sang opa seketika berubah. Ia mulai memahami keadaan yang sebenarnya.


"Apa jangan-jangan ... Wira benar-benar keterlaluan," gumamnya menahan kesal. Namun, ada senyum kelegaan di sana saat ia mencoba menyimpulkan pengaduan sang cucu.


****


_


_


_


_


_


_


Sebuah pesawat komersil mengudara menuju sebuah kota yang jauh. Wira dan juga Ivan duduk bersama sembari mengobrol santai. Penerbangan selama tiga jam lebih rupanya sangat membosankan bagi kedua pria itu.


"Bagaimana hubunganmu dengan Via?" tanya Ivan.


"Baik-baik saja... Aku baru akan memulai segalanya dari awal dengannya. Kau benar, Van. Via memang wanita yang baik. Aku sudah melakukan kesalahan besar. Dan sekarang Lyla sedang menghukumku."


"Lyla?"


"Iya. Dia masih saja ketakutan saat bertemu denganku. Dia tidak mau aku dekat-dekat dengan bundanya."


Ivan tertawa kecil mendengar ucapan Wira. "Memang enak? Kau justru ditolak oleh anakmu sendiri." Ucapan Ivan pun membuat Wira berdecak kesal. Bukannya memberi solusi, Ivan malah menertawakannya.


Wira terdiam, pikirannya menerawang jauh. Ingin rasanya ia menghabiskan waktu dengan Lyla dan memberikan seluruh kasih sayang pada putri kecilnya itu. Namun, Lyla justru menolak kehadirannya. Tanpa terasa, kedua bola matanya mulai dipenuhi cairan bening. Akan tetapi Wira segera menepis perasaan sedihnya dengan mengalihkan perhatiannya.


"Van ..." panggil Wira.


"Hmm ..."


"Apa Aldi akan ada di lokasi proyek itu juga?"


"Seharusnya dia juga ada. Tapi aku dengar dari seseorang, katanya dia ada urusan penting dan membatalkan keberangkatannya begitu saja."


Wira melirik Ivan dengan ekor matanya. "Benarkah?"


"Iya. Dia sangat tidak bertanggungjawab pada pekerjaan."


"Tapi syukurlah! Setidaknya aku tidak akan bertemu dengannya selama berada di luar kota," ucap Wira bernapas lega.


"Ya. Aldi memang menyebalkan. Tapi hal penting apa yang membuatnya mengabaikan proyek besar ini?"


Sambil menyilangkan tangan di dada, Wira memejamkan mata sambil berkata, "Aku tidak peduli dengan urusannya!"