Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Ketika Kaktus Tertanam di Padang Pasir


Melepaskan ciuman, Wira mendorong pelan tubuh Via sehingga terbaring di tempat tidur. Ia menatap dari ujung rambut ke ujung kepala. Teringat kembali malam pertama kali ia merenggut mahkota sang istri. Saat itu Wira sangat syok mengetahui Via masih suci. Ia masih ingat bentuk tubuh Via yang baginya sangat sempurna.


Via yang menyadari keadaan berusaha bangkit. Tak ingin jika Wira kembali meminta hak sebagai suami dengan memaksa. Maka Ia akan memilih tidur di kamar Lyla saja. Namun, belum selangkah, Wira kembali meraih tubuhnya, dan mendorong hingga keduanya terjerembab ke tempat tidur empuk itu.


"Ma-Mas ..." panggil Via dengan tangan menahan dada suaminya itu. Namun Wira tak menyahut. Ia menyerang Via dengan kecupan-kecupan mesra.


Siapa suruh kau begitu dekat dengan laki-laki lain, sementara ada aku yang berstatus suamimu. Aku akan membuatmu sadar kau milik siapa. batin Wira.


Tangan kekarnya menahan tengkuk, dan tangan lainnya menjelajahi perkebunan rindang itu. Sentuhan lembutnya, kecupan sayang yang mendarat dimana-mana membuat Via mulai terbuai. Ia mulai menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan Wira padanya.


Wira kembali mengecup bibir yang baginya memiliki rasa lebih manis dari madu itu. Dengan tangannya yang mulai membuka kancing piyama dres yang digunakan Via satu persatu, dan melemparkannya ke sembarang arah.


Persetan dengan laki-laki bernama Evan. Via milikku dan tidak akan pernah kulepaskan. gerutu Wira dalam hati.


Gejolak dalam dirinya semakin menggebu saat menatap kain berbentuk kacamata berwarna hitam yang menutupi buah mengkudu milik Via. Tak sabar, Wira segera melepas benda itu dan kembali melempar ke sudut ruangan.


Lihat kan? Aku yang berhak sepenuhnya atas diri Via. Tubuh ini hanya milikku.


Sedangkan Via, tak ada yang bisa dilakukannya selain membiarkan Wira melakukan apapun sesukanya. Tangan laki-laki itu dengan bebasnya bermain di atas perkebunan kecil milik Via, sesekali menjatuhkan bibirnya di sana, dan memberi kecupan dimana-mana.


Satu desahan yang lolos begitu saja dari bibir wanita itu membuat Wira semakin menyala bagai api. Kini tatapan Wira terarah pada benda berbentuk piramid yang menutupi padang pasir gersang milik Via. Seolah tak sabar, Wira melepas benda itu dan kembali melempar ke sudut ruangan sehingga kini perkebunan dan Padang pasir tak tertutupi sehelai benang pun. Juga dengan Wira yang melepas handuk yang sejak tadi melilit pinggangnya.


Wajah Via pun merona merah, saat kini keduanya tak tertutupi sehelai benang pun. Ia segera menarik selimut untuk menutupi bagian tubuhnya, membuat Wira tersadar dari kegilaannya. Ia memeluk erat tubuh Via yang kini gemetar.


"Sayang, aku minta maaf. Aku gelap mata. Aku tidak tahan melihatmu dekat dengan laki-laki lain. Kau istriku, dan hanya milikku. Aku tidak mau ada laki-laki lain yang dekat denganmu," bisik Wira.


Mendengar ucapan Wira membuat Via menatap wajahnya. Meskipun bukan ungkapan cinta, namun perkataan Wira membuat perasaan Via menghangat.


"Aku juga tidak tahan melihat Mas Wira berdua dengan Mbak Shera," ujar Via malu-malu.


Wira tersenyum, ia kembali mengecup kening sang istri, membuat Via memejamkan mata. Ia meresapi hangatnya ciuman pertanda sayang itu.


"Mas ..." panggil Via dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca.


"Tidak apa, Sayang ... Kita bisa melanjutkannya kapan-kapan. Dalam keadaan yang lebih baik tanpa pemaksaan." Wira menarik selimut hingga batas leher sang istri, membuat Via gelagapan.


Tidak boleh! Mas Wira suamiku. Dia milikku. Tidak akan kuberikan pada siapapun. batin Via.


Wira hendak turun dari tempat tidur, namun Via segera menarik pergelangan tangannya, sehingga mereka kembali terbaring dengan posisi Wira di atas Via. Tangan Via membelai lembut wajah Wira, turun ke bagian leher dan dada. Ia memberanikan diri menarik tengkuk suaminya itu dan mengecup mesra bibirnya. Sesuatu yang belum pernah dilakukan Via sebelumnya.


Aku harus melayani suamiku dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya dalam keseharian, tapi juga di tempat tidur, kan?


Berselang beberapa saat, ciuman itu terlepas, Via dan Wira saling tatap yang dalam. Seakan tatapan itu menggambarkan betapa mereka ingin saling memiliki.


"Sentuh aku, Mas ..." bisik Via dengan mesra.


Tak ada lagi kata yang terucap di antara mereka berdua. Yang ada hanya bahasa tubuh yang saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Keduanya saling berbalas kecupan dan belaian lembut. Dengan semangat yang menyala bagai api di antara keduanya. Pun dengan Wira yang sedang menikmati hasil panen di kebun buahnya. Rasanya begitu manis memabukkan.


Wira memposisikan tubuhnya ke tempat yang seharusnya. Sementara Via memejamkan mata ketika merasakan sebatang kaktus beracun yang sedang berusaha menancap di padang pasirnya.


"Mas ..." ucapnya pelan. Ia merasakan setiap bagian dari kaktus milik Wira yang menerobos. Takut jika rasa sakitnya sama dengan saat pertama kali mereka melakukannya.


Wira yang mengerti maksud Via, segera memberi kecupan sayang di bibir, yang akhirnya membuat Via kehilangan fokus. Mereka seakan melayang di udara ketika kaktus telah tertanam di padang pasir.


Terdiam beberapa saat, Wira membiarkan Via melepaskan perasaan takutnya. Ia mengusap rambut sang istri, memberi tanda cinta di beberapa bagian. Seiring dimulainya gerakan kaktus milik Wira yang bercocok tanam di sadang pasir. Sungguh, sebuah rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


Lenguhan dan erangan lirih Via terdengar memecah kesunyian malam itu, dengan gerakannya yang menggeliat ketika tak dapat menahan sensasi yang ditimbulkan oleh perlakuan Wira padanya. Mereka pun saling menghujani kasih sayang.


Di bagian pertama, Wira mendominasi, namun pada bagian kedua, Via tak mau kalah. Ia membalas setiap serangan Wira dengan gayanya yang cantik dan seksi. Seakan ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih baik dari Shera dalam hal apapun, Via menanggalkan sisi polosnya. Ia melayani Wira dengan sebaik-baiknya, membuat Wira seperti melayang di udara. Tak pernah sebelumnya ia merasa dicintai seperti sekarang, dalam hubungan suami-istri saat masih bersama Shera. Namun, ia mendapatkan segalanya dari Via. Dahaga pada kasih sayang akhirnya terpenuhi.


Sepertinya keadaan semakin memanas, ditandai dengan tubuh keduanya yang telah basah oleh keringat. Wira kembali mendominasi dengan gerakan kaktus yang tak terkendali, membuat pemilik padang pasir tak berkutik.


"Oh, aku tidak tahan lagi," bisik Wira sembari mempercepat gerakannya.


Via memejamkan mata, dengan dada membusung, ketika merasakan kaktus memuntahkan getah beracunnya di dalam padang pasir.


*******


Komen rame baru lanjut 🤣