
"Sayang, maaf membuatmu menunggu lama," ucap Wira tiba-tiba datang dan menghentikan obrolan antara Evan dan Via. Dua orang itu menoleh pada sumber suara.
"Sudah selesai, ya Mas ?" tanya Via berdiri dari duduknya.
"Belum, Shera masih di dalam. Aku lihat ,Lyla sangat lelah hari ini. Jadi ayo kita pulang saja."
Wira kemudian menatap Evan dengan sorot mata yang tajam, lalu melirik Lyla, yang tertidur di pangkuan laki-laki itu.
Lyla bisa tidur begitu nyenyak di pangkuannya. Bahkan aku dan Lyla belum sedekat itu. ucap Wira dalam batin. Ia segera meraih tubuh Lyla dan menggendongnya.
"Maaf merepotkan!" ujar Wira.
"Tidak apa. Aku sangat menyukai Lyla," sahut Evan.
Menyadari tatapan Wira yang tak bersahabat, Evan pun segera berdiri dari duduknya. Berbeda dengan Wira yang menegang, Evan malah sangat santai tanpa beban.
"Mas, ini temanku sejak SMA. Evan, ini Mas Wira, suamiku." Via mencoba mencairkan suasana dengan memperkenalkan Wira dan Evan.
Dengan senyum ramahnya, Evan mengulurkan tangan pada Wira. Kedua lelaki itu kemudian saling menyapa dan berjabat tangan, namun dengan senyum seadanya. Evan pun menyadari tatapan Wira yang baginya sangat aneh.
Tak ingin berlama-lama melihat kedekatan Evan dan Via, Wira akhirnya memilih mengajak sang istri untuk pulang.
"Maaf, ini sudah malam. Kami harus segera pulang," ucap Wira.
"Baiklah, senang bertemu kalian." Meskipun gerah, Evan masih berusaha bersikap ramah pada Wira.
Sambil menggendong Lyla, Wira menggenggam tangan Via meninggalkan Evan yang masih membeku di tempatnya. Wira yang sedang terbakar cemburu itu seolah sengaja menunjukkan bahwa Via adalah miliknya seorang.
"Cih, posesif sekali dia. Cemburuan sekali," gerutu Evan menatap punggung Wira.
******
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian kota malam itu. Sepanjang jalan, terjadi aksi saling diam antara Wira dan Via. Wira hanya sesekali mencuri pandang pada makhluk cantik yang duduk di sisinya. Sementara Lyla tertidur di kursi belakang.
"Mas ..." panggil Via.
"Hemm..." Wira hanya menjawab dengan deheman yang membuat Via semakin dilanda rasa penasaran. Sebab sejak hubungan mereka membaik, tak pernah sekali pun Wira mendiamkannya.
"Mas kenapa?"
Kebisuan kembali terjadi di antara mereka selama beberapa menit, hingga akhirnya rasa penasaran seakan menggelitik Wira.
"Laki-laki tadi siapa?" tanyanya.
"Oh, itu teman semasa SMA, Mas. Dia sedang magang di ---"
"Aku tahu! Willy sudah bilang tadi." Wira buru-buru menyela.
"Hah?"
"Maksudku, tadi Willy bilang padaku kalau dia sedang magang di rumah sakit itu. Kalian kelihatannya sangat dekat, ya?" Pertanyaan bernada sindiran yang dilayangkan Wira membuat alis Via mengerut hingga kedua ujungnya saling bertemu.
"Biasa saja, Mas. Dari dulu seperti itu."
"Jadi dulu dia sering menemanimu menjaga Lyla begitu? Aku lihat dia cukup dekat dengan Lyla."
"Iya, Mas. Lyla memang sangat menyukai Evan. Evan sangat mudah dekat dengan anak-anak. Dia ramah dan..." Belum selesai Via berbicara, Wira sudah kembali memotongnya.
"Sudahlah! Kenapa kita terus membicarakan orang lain?" seru Wira tak terima.
"Apa? Kan Mas yang bertanya, jadi aku jawab," ucap Via bingung.
"Aku kan memintamu menjawab, bukan memujinya."
Via Terdiam. Ia tak dapat berkata-kata lagi dan hanya sesekali menatap bingung pada suaminya itu.
Hingga beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di rumah. Wira menggendong Lyla yang sudah tertidur menuju kamarnya sendiri yang berada di lantai atas. Ia membaringkan Lyla di kasur, lalu menepuk punggung gadis kecil itu agar dapat tertidur nyenyak.
"Mas kenapa Lyla tidak tidur di kamar sebelah saja?" tanya Via.
"Tidak apa sekali-sekali tidur sendiri, dia harus terbiasa," ujarnya, lalu menatap Via. "Tunggu aku di kamar, kita harus bicara!"
"Oh, iya." Via segera berbalik, dan kembali ke kamar yang berada satu dinding dengan kamar Lyla. Dalam benaknya ada sekelumit pertanyaan. Ia menjatuhkan tubuhnya di bibir tempat tidur dengan tatapan kosong.
Ada apa dengan Mas Wira? Kenapa dia jadi aneh begitu? Apa ada masalah?
****