Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
PELANGI SETELAH HUJAN


"Sayang, tenanglah. Semua akan baik-baik saja." Wira memeluk Via, mengusap rambut dan punggungnya. Wanita itu pun kembali menangis, menyembunyikan wajah di dada suaminya.


"Bagaimana aku bisa tenang, Mas? Lyla tidak sadarkan diri. Dia belum pernah seperti ini sebelumnya."


"Sabar, Sayang. Jangan seperti ini." Wira kembali berusaha menenangkan sang istri dari rasa khawatirnya. "Cobalah untuk tenang."


Dari kejauhan sana terlihat Tuan Gunawan berjalan dengan tergesa-gesa. Setelah mendapat telepon dari rumah yang mengabarkan apa yang terjadi pada cucunya, ia membatalkan rapat penting dan bergegas menuju rumah sakit.


"Apa yang terjadi pada Lyla?" tanyanya begitu berada di hadapan Wira. "Bukankah tadi pagi dia baik-baik saja?"


"Semalam Lyla memang agak demam, Ayah. Tapi paginya dia baik-baik saja. Dia masih bermain dengan Gael," jawab Wira. "Ibu bilang, tadi dia juga habis bermain di taman belakang, setelah itu mengeluh kelelahan. Jadi bibi membawanya ke kamar untuk istirahat."


Pria paruh baya itu mengusap wajahnya, lalu berjalan menuju jendela kaca. Menatap cucunya dari sana dengan perasaan sedih. "Lalu apa kata dokter?"


"Katanya perlu dilakukan transfusi darah karena trombositnya sangat menurun. Lyla kehilangan kesadarannya."


Mendengar jawaban itu, Tuan Gunawan memejamkan mata, menahan agar air mata tidak terjatuh. Ia berbalik menatap Via yang masih menangis di pelukan Wira. Sementara di sudut sana Shera pun masih menangis bersandar pada Surya.


Rasanya begitu sedih, baru saja mereka bahagia sebab ada harapan untuk kesembuhan Lyla, namun ujian kembali menerpa. Hanya doa dan harapan yang dapat terucap di hati masing-masing.


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵


Malam harinya ....


Lyla masih terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa peralatan medis yang melekat di tubuhnya. Di sisi kanannya ada Via yang tak beranjak sedikitpun dari sisinya. Wanita itu mengusap rambut Lyla, sambil membaca sebuah dongeng yang kerap kali ia ceritakan sebelum Lyla tertidur.


Setiap kata yang terucap diiringi air mata, berharap Lyla akan terbangun dan meminta susu seperti kebiasaannya selama ini.


"Lyla bisa dengar bunda, kan? Lyla harus kuat. Nanti kalau Lyla sembuh, bunda akan buat gaun prinses yang banyak untuk Lyla," bisiknya di telinga Lyla.


Wira mendekat, merangkul sang istri sesaat setelah Via selesai membacakan sebuah kisah.


"Sayang ..." Via tak menyahut. Tatapannya masih tertuju pada wajah pucat Lyla, sehingga Wira pun ikut duduk di sisinya. "Pulanglah dan istirahat. Aku yang akan menjaga Lyla di sini."


Via menggeleng, lalu mengusap air matanya. "Tidak, Mas. Aku tidak mau meninggalkannya. Lyla akan mencariku saat terbangun nanti."


"Tapi kau butuh istirahat. Ingat, kita juga punya Gael di rumah. Dia juga butuh bundanya." Wira masih berusaha membujuk, namun Via kembali menggeleng.


"Tapi Lyla lebih membutuhkan aku." Tanpa mempedulikan ucapan Wira, Via merebahkan kepalanya di bantal yang sama dengan Lyla, lalu melingkarkan tangan ke tubuh mungil itu. "Izinkan aku tetap di sini, Mas. Tolong jangan minta aku meninggalkan Lyla."


"Baiklah," ucapnya sambil mengangguk. "Kalau begitu makan dulu, lalu istirahat. Lihat, wajahmu juga jadi pucat sekarang."


Via hanya menyahut dengan gelengan kepala. Sebagai seorang ibu yang anaknya sedang sakit, jangankan untuk makan, bernapas pun rasanya sangat sesak.


Tak ingin menambah kesedihan sang istri, Wira pun terdiam. Ia kecup kening istri dan anaknya bergantian, lalu duduk di sisi Lyla dan menggenggam tangannya.


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵


Sementara itu, Shera dan Surya sedang berada di kantin rumah sakit.


"Shera ... aku mohon makanlah. Seharian ini kau belum makan sama sekali," ucap Surya saat melihat Shera hanya mengaduk makanan di depannya dengan sendok.


"Aku tidak lapar, Mas."


Laki-laki itu menggenggam tangan sang istri, lalu menatap wajahnya dalam. "Kau pikir dengan tidak makan itu akan membantumu? Kalau kau sakit, bagaimana bisa menjaga Lyla."


"Tapi makanannya terasa hambar, Mas. Aku mual melihatnya."


"Sayang, ayolah ... kau mual bukan karena makanannya tidak enak. Tapi karena selera makanmu sedang turun. Makanlah sedikit saja. Nanti kau bisa sakit."


Shera meraih kembali sendok makannya, lalu pelan-pelan menyuapkan sedikit makanan itu ke mulutnya. Namun, rasa makanan itu terasa menyiksa lidah dan kerongkongannya. Shera pun kembali merasa mual. Ia meletakkan sendok dengan kasar, lalu berlari menuju kamar mandi.


Surya pun segera menyusul, memijat tengkuk Shera yang sedang memuntahkan makanan yang baru masuk ke perutnya.


"Ini akibatnya kalau terlambat makan. Lihat kan, kalau sakit begini bagaimana bisa menjaga Lyla."


"Aku masih kuat, Mas."


Shera berjalan keluar dari kamar mandi setelah membasuh wajahnya dengan air. Berharap dinginnya air dapat membuatnya merasa segar kembali. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya pun ambruk. Beruntung Surya berada di belakangnya, sehingga segera menangkap tubuhnya.


Panik, Surya segera menggendong Shera dan membawanya ke IGD.


🌵🌵🌵🌵🌵🌵


Setiap ujian pasti ada hikmah di baliknya. Seperti datangnya pelangi setelah hujan, adalah janji alam bahwa setelah ada hujan, maka pelangi akan hadir membawa keindahan. Setiap hujan pasti punya pelangi, hanya mata manusia yang kadang tak mampu melihatnya.


Di balik kesedihan yang dirasakan Shera dan Surya, ada setitik kebahagiaan yang terselip di sana. Dokter baru saja memberitahu tentang kehamilan Shera.


Wanita itu masih belum dapat mempercayai bahwa dirinya tengah berbadan dua, setelah hasil pemeriksaan beberapa bulan lalu yang menyatakan dirinya akan sulit untuk memiliki seorang anak lagi. Ia menangis bahagia dalam pelukan sang suami.


"Kau lihat kan, mukjizat selalu ada kalau kita berusaha," bisik Surya di telinga Shera.


"Iya, Mas. Lyla pasti sangat senang kalau tahu akan punya dua adik. Gael dan sebentar lagi anak kita."


Surya hanya menyahut dengan anggukan, lalu kembali memeluk istrinya itu.


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵