
Jika kebahagiaan dan harapan baru sedang menyelimuti keluarga Sudarmadi, maka di sisi lain ada Shera yang sedang meratapi kesalahannya.
Dengan berderai air mata, wanita itu sedang mengemasi barang-barangnya. Setelah kejadian tadi sore, ia memutuskan untuk tidak lagi ada di dalam kehidupan Wira. Baginya sudah cukup pembuktian Via dalam melindungi Lyla. Ia tak ingin menjadi penghalang kebahagiaan orang lain, terutama Lyla yang belum mampu menerima dirinya sebagai seorang ibu.
Lyla sudah mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang sempurna dari Via. Dia sama sekali tidak membutuhkan seorang ibu yang jahat sepertiku. Gumam Shera dalam batin.
Ia meraih sebuah foto yang berada di atas meja nakas. Senyum cerah seorang gadis kecil begitu memukau dengan semangatnya yang menyala-nyala.
"Ya, benar! Aku tidak perlu meragukan Via lagi. Dia seorang ibu yang sempurna. Tanpa memikirkan anak yang ada di dalam kandungannya, dia menyelamatkan Lyla."
Memasukkan foto berbingkai itu ke dalam koper, Shera mengusap air mata setelahnya. Dengan seulas senyum yang hadir di sana.
Ya, aku akan memulai hidupku yang baru di tempat yang baru. Di sini hanya ada luka. Dan aku sudah lelah dengan semua ini. ucap Shera dalam batin.
Di kamar temaram itu, Shera merenungi segala kesalahannya. Tentang dendamnya pada Wira yang pada akhirnya menghancurkannya.
*****
_
_
_
_
_
_
Pagi yang cerah, dimana kehidupan dimulai kembali. Ada jutaan harapan, bahwa semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Dengan menyeret sebuah koper, Shera keluar dari apartemen. Pagi itu ia akan bertolak ke kota asalnya yang cukup jauh dari ibu kota, untuk memulai hidup baru dan melepaskan segala kenangan lama.
"Berikan kunci apartemen dan juga kartu ini pada Tuan Gunawan atau pada asistennya jika kemari," ucap Shera pada seorang wanita seraya menyodorkan sebuah kunci dan juga kartu yang pernah diberikan untuknya.
"Baik," jawab Wanita berusia empat puluh tahunan itu.
"Terima kasih sudah melayaniku dengan baik selama aku di sini. Kau boleh kembali bekerja di rumah Tuan Gunawan setelah ini."
Setelah berpamitan pada wanita itu, Shera kembali menyeret kopernya menuju lift yang akan membawanya ke lobby. Walau pun berat harus meninggalkan segalanya, namun ia telah mengambil keputusan untuk menjalani hidup lebih baik, setelah semua hal buruk yang terjadi.
Setibanya di lantai bawah, ia memilih duduk sebentar di sebuah sofa sambil memainkan ponselnya. Diliriknya arah jarum jam di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Terdiam beberapa saat, Shera teringat pembicaraannya dengan Via melalui telepon. Semalam, ia sempat berpamitan pada wanita itu dan menitipkan Lyla. Diusapnya setetes air mata yang jatuh membasahi wajahnya. Setelah memastikan tak ada lagi sesuatu yang tertinggal, ia berdiri dari duduknya, dan melangkah menuju lobby untuk menunggu taksi online yang baru saja dipesannya.
"Bundaa ..." Terdengar suara anak kecil memanggil, membuat Shera terpaku. Dalam hitungan detik, kedua bola matanya telah dipenuhi cairan bening. Ia menoleh pada sumber suara. Tak jauh darinya, seorang gadis kecil berdiri sambil memegangi sebuah boneka, menatap padanya.
"Lyla?"
Dengan ditemani Via, Lyla mendekat pada ibu kandungnya itu, dan untuk pertama kalinya, ia menunjukkan senyum pada Shera.
"Bunda mau kemana?" tanya Lyla begitu telah berada di hadapan sang bunda. Shera pun berjongkok di hadapan gadis itu, dengan derai air mata yang mengalir deras.
Dibelainya wajah Lyla dan mengecup keningnya dengan sayang. Sesaat kemudian, ia memeluk erat tubuh mungil itu.
"Jangan pelgi, Bunda. Nanti Lyla mau syeling ketemu Bunda."
Tak dapat menahan rasa bahagianya, Shera kembali memeluk Lyla. Kali ini agak lama. Seakan pelukan itu menjadi sebuah tanda perpisahan.
"Bunda harus pergi, Sayang. Lyla harus jadi anak baik. Berbakti sama ayah dan Bunda Via. Lyla kan sebentar lagi punya adik. Nanti Lyla ada temannya. Jadi kakak yang baik, ya ..." Lyla menyahut dengan anggukan, membuat Shera mengecup kening dan bagian wajah lainnya.
Sebisa mungkin, Shera memaksakan diri tersenyum, walau hatinya sangat terluka. Pun dengan perasaannya yang berat meninggalkan sang buah hati yang kini sedang berjuang melawan sakitnya. Namun, tak ingin kehadirannya menjadi pengganggu, ia memilih pergi.
"Bunda sayang Lyla," ucapnya.
"Lyla juga sayang Bunda. Pelginya jangan lama-lama ya Bunda. Nanti kalau Lyla syembuh, Lyla mau ajak bunda ke kebun binatang. Sama ayah dan Bunda Via. Bunda bilang, kalau Lyla teyuss beldoa, nanti Allah kabulin doa Lyla."
"Iya, Sayang."
Shera menyeka air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya, lalu bangkit dari posisi berjongkoknya. "Via, terima kasih untuk semua cinta yang kau beri untuk Lyla. Walaupun aku adalah ibu kandungnya, tapi aku tidak akan bisa memberinya cinta seperti yang kau beri untuknya. Sekarang aku harus pergi. Semoga kalian selalu bahagia."
Via mengusap wajahnya dimana buliran air mata menetes. "Hati-hati, di jalan, Mbak Shera."
Tak lama setelahnya, seorang pria yang merupakan pengemudi taksi online menghampiri mereka. Shera pun segera berpamitan.
*****
_
_
_
_
_
_
_
_
Tiba di bandara, Shera bergegas menuju loket penjualan tiket. Ia memilih tiket penerbangan siang menuju sebuah kota yang dituju.
Selepas mengurus segalanya, ia hendak masuk ke dalam untuk melakukan check in. Namun tiba-tiba ...
"Shera!!" terdengar suara seorang pria memanggil namanya. Wanita cantik itu pun menoleh pada sumber suara. Alangkah terkejutnya saat ia melihat siapa yang ada di sana. Surya, asisten setia Tuan Gunawan sedang berjalan ke arahnya.
"Kau akan pergi?" tanya Surya.
Wanita itu menundukkan kepala, menahan agar air matanya tak jatuh lagi. Sebisa mungkin ia menguatkan diri di hadapan laki-laki yang pernah hadir di hidupnya itu.
****
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat Muslim 🙏🙏🙏🙏🙏