Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Panik!!!


"Bukan begitu, Sayang. Kau boleh minta apapun dariku. Maaf, aku salah, tidak seharusnya aku berkata begitu. Baiklah, besok kita akan ke Singapura untuk membeli es krim itu," bujuknya tanpa melepas pelukan.


"Aku sudah tidak mau es krim nya."


Wira melepas pelukan, lalu menghapus air mata Via dengan jarinya. "Katanya tadi mau es krim itu..."


"Tidak lagi, Mas," jawabnya sambil menggeleng kan kepala, juga Isak tangis yang tertahan.


"Ayolah, Sayang. Aku tidak sengaja membuatmu sedih dengan menolak permintaanmu membeli es krim itu. Aku salah, aku minta maaf."


"Aku sedih bukan karena es krim nya," ucap Via mengusap lagi air matanya.


"Lalu?"


Via memberanikan diri menatap wajah suaminya itu. "Ini pertama kali nya aku meminta sesuatu pada Mas Wira, dan aku tidak tahu kalau permintaan itu berlebihan. Dulu kalau Mbak Shera menginginkan sesuatu, Mas Wira memenuhi semuanya tanpa bertanya. Aku bukannya iri dan meminta Mas Wira memperlakukan aku seperti Mbak Shera. Hanya saja aku merasa posisiku tidak berarti di mata suamiku sendiri. Aku tahu dan sadar, aku hanya seorang gadis panti asuhan, yang tidak jelas asal usulnya. Sampai hari ini, aku tidak tahu siapa orang tuaku dan kenapa mereka membuangku. Dan rasanya aku seperti bermimpi bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Dan memang benar, terlalu berlebihan kalau aku meminta sesuatu lagi."


Setiap kata yang terucap dari bibir Via bagaikan menorehkan luka bagi Wira. Ia kembali memeluk. "Jangan berpikir begitu. Kau sangat berarti bagiku."


Via tidak menyahut lagi. Sekali pun ia berusaha meyakinkan diri bahwa merupakan hal wajar jika Wira tidak menganggap dirinya penting, namun naluri kemanjaan sebagai seorang wanita yang tengah berbadan dua tetap mendominasi.


******


Pagi hari dimulai dengan sarapan bersama di ruang makan. Namun, pagi itu suasana tampak berbeda dengan tidak adanya sosok Via di antara mereka. Sebuah kursi dimana wanita itu biasanya duduk tampak kosong.


"Via tidak turun sarapan?" tanya Tuan Gunawan pada Bibi Arum yang sedang menghidangkan beberapa menu.


"Tidak, Tuan. Katanya sedang tidak enak badan. Tadi dia hanya minta dibawakan jus dan buah ke kamar," jawab wanita paruh baya itu.


"Bundanya lagi sakit, Opa," Lyla menyela di tengah-tengah pembicaraan itu.


Wira yang sedang menjadi tersangka utama pun mendapat hadiah tatapan sinis dari sang ayah. Namun, laki-laki itu hanya merespon dengan senyum getir, menyadari dirinya lah yang bersalah.


Selepas sarapan Bibi Arum beranjak menuju lantai atas dengan membawa sebuah nampan berisi jus dan buah yang diminta Via. Buru-buru, Wira menawarkan diri.


"Bibi, biar aku saja yang bawakan ke kamar," tawarnya.


"Baiklah." Wanita itu pun menyerahkan nampan tersebut ke tangan Wira, dan dengan segera Wira menuju lantai atas dimana kamar Lyla berada.


****


Via duduk bersandar di tempat tidur sambil menonton acara tv ketika Wira masuk dengan membawa menu sarapannya.


"Selamat pagi, Sayang," ucapnya penuh semangat, dengan senyum tipis. "Aku bawakan sarapan untukmu." Wira meletakkan kotak berisi potongan buah dan juga segelas jus di meja nakas.


"Mas ... Kenapa repot-repot? Aku tadi minta tolong Bibi yang bawakan."


"Tidak apa... Bibi bilang kau tidak enak badan." Wira menyentuh kening sang istri dengan punggung tangannya. "Memang agak hangat, wajahmu juga sangat pucat. Mau ke dokter?" tanyanya diikuti gelengan oleh Via.


"Tidak usah, Mas. Aku tidak apa-apa."


"Mau aku suapi sarapannya?" tawarnya.


"Aku bisa sendiri, Mas. Mas kan harus siap-siap ke kantor." Via meraih kotak itu dari tangan Wira, begitu pun dengan garpu yang sudah Wira arahkan ke mulut sang istri.


Dengan gerakan yang terlihat lesu, Via menyuapkan potongan demi potongan buah ke mulutnya. Menyadari sikap istrinya yang tidak biasa, Wira hanya mampu tersenyum pelik.


"Kau masih marah?" tanyanya seraya membelai rambut dan juga wajah sang istri.


"Marah kenapa, Mas?"


"Soal semalam."


"Tidak," jawabnya sambil mengunyah potongan buah. "kenapa aku harus marah?"


"Aku tahu aku sudah keterlaluan. Dan aku minta maaf untuk itu."


"Aku tidak apa-apa, Mas. Lupakan saja."


"Kalau begitu, sini aku suapi!"


"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkan Mas Wira." Ia meletakkan kembali kotak ke atas meja. "Oh iya, pakaian kantor sudah aku siapkan di kamar."


Wira tersenyum, walau pun gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Ia kecup kening sang istri dengan penuh kasih sayang. Walaupun Via dalam keadaan sakit dan marah, namun tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Dan hal itu membuat rasa bersalah dalam dirinya semakin besar.


"Baiklah, istirahatlah."


*****


Hari itu dilalui Wira dengan suasana hati yang buruk dan dalam keadaan tak bersemangat. Bahkan saat rapat pun ia hanya melamun memikirkan perbuatannya pada sang istri.


Senja pun tiba. Wira duduk di sebuah kursi sambil memandangi ramainya jalanan ibu kota ketika terdengar suara deringan ponsel. Di sana tertera nama Bima.


"Ada apa Bos? Maaf, tadi aku sedang sibuk," ucap Bima sesaat setelah panggilan itu terhubung.


"Tolong siapkan keberangkatan ku ke Singapura dalam waktu dekat!" pintanya.


"Singapura?"


"Ya. Aku dan Via akan berangkat ke sana, sekalian untuk berobat Lyla. Tolong kau siapkan segalanya."


"Baiklah, Bos. Mau berangkat kapan?"


Wira terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab, "Minggu depan saja. Sekarang Via sedang tidak enak badan."


"Itu mudah. Akan aku siapkan segalanya."


"Baiklah, terima kasih."


Panggilan terputus, Wira kembali larut dalam lamunannya. Hingga beberapa saat berlalu, ia melirik arah jam di pergelangan tangannya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


"Ya ampun, sudah malam." Ia meraih jas yang menggantung di sudut ruangan, lalu menyambar ponsel dan kunci mobil di atas meja.


*****


"Ayah ..." Pangggilan penuh semangat Lyla menyambutnya saat memasuki rumah. Ia merentangkan satu tangan, membawa gadis kecil itu ke dalam gendongannya.


"Selamat malam, Sayang," ucapnya, lalu mengecup kening.


"Ayah kenapa pulangnya lama?"


"Ayah kan sibuk di kantor, Nak." Ia mendudukkan Lyla di sofa, lalu berjongkok di depannya sambil mengeluarkan kotak kecil yang sejak tadi disembunyikan di belakang punggung. "Lihat, ayah bawa apa untuk Lyla."


Seketika wajah Lyla berbinar, saat menatap benda yang berada di dalam kotak. "Wah, mahkota plinsyes. Ini buat Lyla ya, Ayah?"


"Iya, Sayang."


"Makasih, Ayah. Mahkotanya bagus, kayak mahkota bonekanya Lyla." Saking senangnya, ia mengecup pipi sang ayah beberapa kali. "Bunganya buat Lyla juga, ya?" tanyanya sambil menunjuk sebuket bunga di tangan ayahnya.


"Ini untuk bunda, Sayang. Bundanya mana?"


"Bunda bobo di kamal. Syoalnya bunda lagi sakit, Ayah. Tadi muntah-muntah teyus."


"Apa, sakit?" tanya Wira dan dijawab anggukan oleh Lyla. "Kalau begitu ayah mau lihat bunda dulu, ya ... Lyla mau ikut?"


"Mau main sama bibi duyu."


"Ya sudah. Ayah lihat Bunda dulu, ya?"


"Iya, Ayah."


Wira mempercepat langkahnya menapaki anak tangga satu persatu. Hingga tiba di depan pintu kamar. Ia mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk.


"Sayang ..." panggilnya, sembari melongokkan kepala ke dalam. Pembaringan tampak kosong, tak ada Via di sana. Dan, kedua matanya membulat sempurna saat mendapati Via yang sedang terbaring di lantai.


Wira segera meraih tubuh sang istri dan berusaha membangunkannya. "Via ..." panggilnya seraya menepuk wajah pucat Pasih itu. "Sayang, bangun!" Via tak bergeming, membuat Wira memeluk tubuhnya, pun dengan cairan bening yang jatuh membasahi wajahnya.


Kepanikan pun kembali terjadi, saat ia melihat noda darah di pakaian bagian belakang sang istri.


"Via ..." teriak Wira dengan paniknya.


*******