Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Aku juga bisa perhatian!


Selepas pertemuannya dengan Willy dan Ivan, Wira bergegas pulang ke rumah. Sebelum pulang, ia sempat mampir di sebuah restoran khas Turki untuk membeli kebab yang menjadi makanan kesukaan sang istri. Tak tanggung-tanggung, ia membeli dalam jumlah banyak dengan berbagai varian rasa.


Tak hanya itu, ia juga mampir di beberapa restoran lain untuk membeli makanan dengan cita rasa yang berbeda-beda, seolah ingin membuktikan pada seluruh dunia, bahwa dirinya bukan suami durjana.


"Sekarang, Via akan tahu suaminya perhatian dan penuh kasih sayang," gumam Wira sambil melirik banyak bungkusan makanan di kursi belakang. "Beli kebab tidak perlu ke Turki, pizza tidak perlu ke Italia dan beli sushi tidak perlu ke Jepang. Semua nya sudah ada di sini." Ia bergumam-gumam sendiri dan tersenyum dengan bangganya, seolah dirinya adalah suami paling perhatian di muka bumi.


Sambil melajukan mobil, ia melirik ke setiap sisi jalan, mencari restoran atau kedai makanan lagi. "Kalau perlu, jajanan apapun yang ada akan ku beli semua. Memang ayah saja yang bisa menuruti semua keinginan Via? Aku juga bisa."


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵


Via sedang merapikan pakaian di lemari ketika Wira baru pulang. Karena asyiknya membereskan pakaian suaminya, ia sampai tak menyadari Wira baru masuk ke dalam kamar dengan membawa banyak bungkusan makanan.


Menatap rambut panjang istrinya yang tergerai indah, Wira tersenyum, lalu mendekat dan memeluknya dari belakang.


"Sayang ..." Wira berbisik, hembusan napasnya yang hangat membuat bulu kuduk Via terasa merinding.


"Mas? Bikin kaget saja," ucapnya sambil mengusap dada.


"Sedang apa?" Wira menyodorkan sebuket mawar putih pada sang istri.


"Beres-beres, Mas. Isi lemari Mas berantakan. Ini kalau ambil baju makanya diangkat, bukan ditarik!" selorohnya sambil melirik isi lemari yang telah tertata rapi kembali.


"Ya Maaf. Aku kan buru-buru makanya tarik saja."


Via meraih bunga pemberian sang suami dengan senyum mengembang. Kini, Wira berubah menjadi seseorang yang sangat romantis. "makasih Mas." Dengan manjanya ia menyandarkan kepala di dada. Pun dengan Wira yang merengkuh tubuh istrinya itu. Menghirup aroma wangi dari rambut panjangnya.


"Aku juga bawa banyak makanan untukmu." Ia menunjuk sebuah meja di sudut kamar itu, membuat Via menganga tak percaya saat mendapati bungkusan makanan yang sangat banyak itu.


"Mas, kenapa belinya sebanyak itu? Siapa yang akan makan?"


"Kau kan sedang dalam masa ngidam. Jadi aku belikan saja makanan yang banyak."


Via mengulum bibir menahan tawa, saat menatap ekspresi wajah suaminya itu. Ia kembali melingkarkan tangan di pinggang Wira. "Terima kasih, Mas."


Beberapa saat kemudian, Wira Melepaskan pelukan, mengusap rambut dan wajah sang istri. Ia kecup kening wanitanya itu dengan penuh kelembutan. "Lihat kan, aku bukan suami durjana."


Wira kembali melingkarkan tangannya di pinggang Via, dan menariknya pelan sehingga tubuh mereka menempel. "Kau mau apa lagi? Akan kuberi semua," Seringai tipis penuh makna hadir di wajahnya, yang mana membuat wajah Via merona merah.


"Tidak mau apa-apa, Mas."


"Yakin?" bisik Wira menggoda. "Aku baik loh, suami idaman."


Via menahan dada Wira dengan tangannya. Jika Wira sudah menggoda seperti itu, Via harus waspada. Sebab akan ada maksud terselubung.


"Mas, Dokter Willy bilang belum boleh." Ia mencoba mengingatkan pesan Willy yang menyarankan agar tidak melakukan hubungan suami-istri selama beberapa minggu setelah pendarahan itu terjadi.


"Iya, aku tahu. Aku tidak akan macam-macam. Tapi mesra-mesraan saja boleh kan?"


Wira menjawab dengan mengedipkan mata, sehingga Via menatapnya curiga.


"Ayolah, Sayang." Wira mulai gemas dengan Via yang terus menahannya. "Dari pada aku benar-benar menjadi seorang suami durjana."


"Memang suami durjana itu seperti apa?"


"Ya kejam, suka marah-marah tidak jelas, suka memaksa, galak, jahat dan menyebalkan. Itu durjana namanya."


Tanpa sadar Wira menjawab spontan pertanyaan itu yang membuat Via tersenyum menantang. "Itu kan ciri-ciri Mas Wira di awal pernikahan kita. Hehe ..."


Seketika senyum yang menghiasi wajah Wira menghilang entah kemana. "Baiklah, aku jadi suami durjana saja."


Tanpa banyak basa-basi lagi, Wira menggendong Via menuju tempat tidur, membuat wanita itu gelagapan.


"Mas mau apa? Dokter kan bilang belum boleh."


Tersenyum penuh arti, Wira semakin membelenggu tubuh Via dengan pelukan. Ia mendekatkan wajahnya, hendak memberi ciuman. Namun tiba-tiba ...


Huekkk!


Via menutup mulutnya dengan tangan, sambil berusaha meredam rasa mualnya ketika aroma tubuh Wira terasa menyiksa penciumannya.


"Kenapa?" tanya Wira.


"Aku mual. Kenapa Mas Wira bau?" tanya nya spontan.


"Aku? Bau? Masa iya." Dengan alis mengerut ia mencoba mengendus aroma tubuhnya sendiri. "Ini kan bau parfum yang biasa aku pakai. Masa iya bau."


Via masih menutupi hidung dan mulutnya, " Tapi bau, Mas."


Wira mendengus kesal, mengumpati takdir yang seakan tak berpihak padanya. Bahkan untuk sekedar bercengkrama di tempat tidur saja begitu banyak gangguan.


"Sayang, jangan sekejam ini. Apa kau tega pada suamimu sendiri? Masa iya kau tiba-tiba merasa aku bau?"


"Memang Mas Wira bau. Aku benar-benar mual, Mas." Tak tahan dengan aroma tubuh Wira, Via akhirnya bangkit dan menuju kamar mandi.


Terdengar suara Via yang sedang muntah-muntah di kamar mandi, yang membuat Wira berdecak heran.


"Ya ampun. Kenapa aku kena julid dimana-mana? Ayah, ibu, Willy, dan sekarang anak yang belum lahir juga seperti itu. Apa dia sengaja membuat ibunya mual saat dekat denganku? Nasib macam apa ini?"


Akhirnya, ia segera menyusul Via ke kamar mandi sambil menggerutu heran.


*****