Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Apa kau Cemburu?


Hari yang ditunggu akhirnya tiba, dimana Shera akan melakukan tes pencocokan sumsum tulang belakang. Untuk sehari saja, wanita itu boleh berpuas diri, sebab permintaannya agar Wira menemaninya dalam serangkaian pemeriksaan disetujui oleh Wira atas izin Via dan Tuan Gunawan.


Duduk di sebuah ruangan, Wira dan Shera -- ditemani Dokter Willy dan juga Dokter Marchel yang merupakan sahabat Wira. Mereka sedang mendengarkan penjelasan beberapa dokter tentang kemungkinan kecocokan sumsum tulang belakang Shera dengan Lyla. Sementara di luar sana ada Via dan Lyla yang sejak tadi menunggu dengan sabar. Tak henti-hentinya Via berdoa dalam hati agar hasil pemeriksaan menunjukkan hasil positif, sehingga Lyla memiliki kemungkinan untuk sembuh.


"Bunda, Lyla mau pulang," ucap Lyla ketika sudah mulai bosan.


"Iya, sayang. Tunggu ayah sebentar lagi, ya."


Tidak lama kemudian ....


"Via ..." terdengar panggilan seorang pria membuat Via menoleh ke sumber suara. Ia mendongakkan kepala, menatap seorang pria yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan senyum merekah.


"Evan?" Walau pun terkejut, namun Via tetap tersenyum ramah. Begitu pun dengan Lyla. Senyum bahagia mengembang di wajah mungilnya saat menyadari siapa yang ada di sana.


"Om Evan ..." panggil Lyla membuat Evan segera berjongkok di depannya.


"Halo peri kecilku ... Lama tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu," ucapnya sembari mengulurkan tangan. Dengan penuh semangat, Lyla kecil segera memeluk seorang pria yang dulu kerap menemaninya saat menjalani perawatan di rumah sakit.


Ervand Maliq Azkara, seorang calon dokter kira-kira seusia Via. Memiliki wajah setengah bule dengan ketampanan nyaris sempurna di mata para wanita.


Melepaskan pelukan rindu, Evan menatap Lyla sembari membelai wajah yang baginya sangat menggemaskan itu. "Lyla apa kabar, Sayang?"


"Baik, Om. Lyla kangen Om Evan," jawab Lyla.


"Sama! Om juga." Evan bangkit dari posisi berjongkoknya dan duduk di sofa itu. Ia membawa Lyla ke pangkuannya, kemudian menatap Via yang kini berdiri di hadapannya. "Kalian baik-baik saja, kan?"


Via menjawab dengan anggukan diiringi senyum tipis, kemudian duduk di sofa lain, tidak jauh dari Evan dan Lyla duduk. "Akhir-akhir ini kondisi Lyla membaik."


"Syukurlah," ucapnya. "Aku senang bertemu kalian di sini. Aku pikir peri kecilku ini sedang sakit." Sambil memeluk, pria ramah itu mengecup wajah Lyla beberapa kali.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Via.


"Magang!" Evan menjawab singkat, dengan nada kesal.


Via yang telah berteman dengan Evan sejak SMA itu pun merespon dengan alis mengerut. Ia dapat melihat raut kekesalan di wajah Evan. "Magang? Bukankah kau magang di rumah sakit KIA?"


"Tadinya ... tapi kakakku yang menyebalkan itu mengirimku kemari."


Via tertawa kecil. Ia ingat seorang kakak laki-laki Evan yang sangat suka memberi perintah seenaknya. "Maksudmu Kak Zian mengirimmu kemari? Untuk apa?"


"Untuk mengawasi seseorang."


Via semakin tak mengerti dengan ucapan sahabatnya itu. "Mengawasi siapa?"


Sambil berdecak, Evan menjelaskan. "Apa kau tahu, kepala rumah sakit ini adalah pacar adik kembarku, Elsa. Kami tidak setuju dengan hubungan mereka. Dokter Willy itu playboy dan suka mempermainkan wanita. Karena itulah aku kemari untuk mengawasi dokter itu, atas perintah Kak Zian."


"Ah, jadi begitu."


"Hu-um," jawabnya sambil mengangguk. "Ngomong-ngomong kalian sedang apa di sini?" tanya Evan.


Via pun menceritakan pada Evan tentang Lyla yang sudah menemukan orang tua kandungnya, dan juga tentang pernikahannya dengan ayah dari Lyla. Berikut, tentang Shera yang sedang melakukan pemeriksaan untuk bisa menjadi pendonor bagi Lyla.


Walau pun terlihat terkejut mengetahui tentang status Via yang kini telah menjadi istri orang, namun Evan berusaha tetap santai.


*****


_


_


_


_


_


"Aku paham kau sangat mencintai Lyla lebih dari apapun."


"Menurutmu seberapa besar kemungkinan kecocokannya?" tanya Via.


Sejenak, Evan mengalihkan pandangannya. Walaupun ragu untuk menjawab, namun ia tetap menjelaskan. "Untuk sumsum tulang belakang, sebenarnya yang memiliki kemungkinan paling besar adalah saudara kandung. Dalam artian seayah-seibu. Dan Lyla tidak memilikinya. Kalau dari ayah dan ibu kandung saja, kemungkinan tidak begitu besar. Maaf, bukan aku mau menakutimu. Tapi semoga saja ibu kandung Lyla bisa menjadi pendonor."


"Maksudmu, kalau aku punya anak dengan suamiku, apa kemungkinan cocoknya tidak begitu besar?"


Evan menjawab dengan anggukan. "Meskipun begitu, tetap ada kemungkinan. Tapi tidak sebesar saudara kandung. Saudara kandung memiliki DNA yang paling kuat. Karena mereka berasal dari gen ayah dan ibu yang sama. Kira-kira seperti itu penjelasannya."


"Ya, aku mengerti."


Kalau Mbak Shera tidak cocok, apakah jalan satu-satunya adalah membiarkan Mbak Shera kembali pada Mas Wira. Supaya Lyla punya seorang adik kandung? Tidak! Apa yang ku pikirkan?


******


Keakraban kembali hadir di antara mereka dengan Lyla yang bersikap sangat manja pada Evan. Tanpa mereka sadari, di sudut sana, sepasang mata sedang menatap tajam pada mereka. Wira Sejak tadi memperhatikan keakraban antara Via, Evan dan juga Lyla.


"Siapa dia?" tanya Wira pada dua dokter yang berdiri di belakangnya.


"Dia adalah Evan, seorang calon dokter yang sedang magang di sini. Bukankah dia sangat dekat dengan Via dan Lyla?" ucap Dokter Willy.


Wira tak menyahut. Tatapannya tajam, seakan melalui kedua bola matanya terpancar api yang mampu membakar tubuh Evan hingga menjadi debu. "Hanya anak magang?"


"Dia bukan sembarang anak magang. Kalau kau dengar namanya, kau bisa syok. Dia adalah Ervand Maliq Azkara."


Seketika raut wajah Wira berubah mendengar nama itu. Ia ingat betul nama yang baru saja disebutkan oleh Willy. "Ervand Azkara? Pemilik The Keong Cafe?"


"Ya, seorang calon dokter dan juga pengusaha muda yang kaya raya. The Keong Cafe sudah memiliki cabang di hampir seluruh kota di negara ini. Coba lihat dirimu! Kau siapa? Walaupun kau adalah anak tunggal Tuan Gunawan yang kaya raya, tapi kau hanya bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan Ivan. Kau kalah jauh dari laki-laki itu," Willy berbisik, seolah ingin menyiram bensin di atas kobaran api.


Willy melirik Marchel, seolah meminta untuk segera menyahut.


"Itu benar, Wira. Kau terlalu kaku selama ini. Kau lamban seperti kura-kura. Kau bahkan mengaku tidak mencintai istrimu. kalau dia diambil laki-laki lain, tahu rasa kau!" ujar Marchel.


"Lihat, betapa dia sangat intens mendekati Via. Aku rasa dia sudah lama menyukai Via. Dulu aku sering melihat mereka menjaga Lyla bersama. Sebelum kau hadir dalam hidup mereka."


Tak tahan, Wira melirik tajam dua sahabatnya. Membuat Dokter Willy dan juga Dokter Marchel meraba tengkuknya.


"Kau bilang apa? Menjaga Lyla bersama?" tanya Wira disambut anggukan mantap oleh dua dokter itu.


"Haha, apa kau cemburu?"tanya Willy.


"Aku tidak cemburu. Aku hanya ---"


"Baguslah kalau kau tidak cemburu. Sekarang, Evan sedang magang di sini. Dia akan sering bertemu dengan istri dan anakmu," ujar Dokter Willy. "Apa jangan-jangan dia magang di sini agar bisa sering bertemu Via?" tuduh Willy dengan seringai misterius.


"Pecat dia sekarang juga!" seru Wira menatap tajam Dokter Willy, membuat Marchel menepuk bahu Wira.


"Oh, tidak bisa! Willy tidak akan berani memecatnya, karena dia adalah kakak dari kekasihnya." Marchel segera menyela.


Rasanya, api yang membakar tubuh Wira semakin berkobar, hanya dengan mendengar hasutan dari dua dokter itu.


"Aku tidak mau tahu! Pecat dia!"


*****


Ada yang kenal Evan???


Makasih novel Penjara Cinta Sang Mafia udah minjemin Evan buat akooh.