Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Keajaiban Untuk Lyla


Kehadiran seorang anak dalam rumah adalah suatu anugrah bagi setiap keluarga. Tak terkecuali keluarga Tuan Gunawan Sudarmadi.


Setelah segala ujian berat yang mereka alami, akhirnya keluarga itu menjadi sebuah keluarga yang sangat sempurna. Hadirnya sosok Via dan kembalinya Lyla ke tengah - tengah mereka, kini kebahagiaan semakin lengkap dengan hadirnya anak kedua, Gael Damarlangit. Begitulah nama yang disematkan Wira dan Via untuk anak kedua mereka.


Pagi hari akan diwarnai dengan tangis bayi kecil itu, membuat seisi rumah segera berhamburan menghampirinya. Terutama sepasang suami istri paruh baya yang sangat berlebihan dalam menjaga kedua cucunya.


Begitu pun setelah makan malam. Mereka akan berkumpul di ruang keluarga sambil bersenda gurau. Menjadikan Gael sebagai penghibur hati. Jika ia menangis, mereka pun saling berebut ingin menggendongnya. Sedangkan untuk Lyla, walaupun telah memiliki seorang adik, ia tetap menjadi kesayangan dan prioritas sang bunda.


Sejak kehadiran Gael, Tuan Gunawan yang dulunya pekerja keras, mulai mengurangi aktivitasnya di luar rumah. Ia mulai menghabiskan banyak waktu di rumah dan hanya ke kantor jika diperlukan.


Tiga minggu sudah usia Gael. Pagi itu bermula dari keceriaan yang sama di pagi hari. Selepas sarapan pagi bersama, Tuan Gunawan akan bermain dengan kedua cucunya di ruang keluarga.


Tampak Wira dan Via menuruni tangga dengan terburu-buru, membuat sang ayah bertanya-tanya.


"Ada apa? Kenapa kalian seperti sangat terburu-buru?" tanya nya menatap Via dan Wira bergantian.


"Kami harus ke rumah sakit, Ayah. Pihak rumah sakit baru saja memberi kabar, hasil uji tali pusat Gael sudah keluar," jawab Wira.


Senyum pun mengembang di wajah pria paruh baya itu. Ia mengusap puncak kepala Lyla. Dalam hati penuh pengharapan bahwa hasil tes akan menunjukkan hasil positif. Sehingga Lyla akan segera sembuh. "Baiklah. Semoga hasilnya positif."


"Iya, Ayah."


Jika Tuan Gunawan dan Wira sangat senang mendengar kabar itu, maka berbeda dengan Via. Tak ingin merasakan kekecewaan yang sama dan kehilangan harapan seperti saat Shera melakukan tes, namun hasilnya negatif. Wanita itu pun harap-harap cemas. Dan gurat kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.


"Sayang ..." panggil Wira membuyarkan lamunan wanita itu. Ia baru menoleh pada suaminya itu.


"Iya, Mas?"


"Dari tadi melamun saja. Kenapa?" tanya Wira sembari memperhatikan jalan di depannya.


Wanita itu menarik napas dalam dan menghembuskan pelan-pelan. "Aku takut, Mas," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Tangan Wira terulur meraih tangan sang istri dan menggenggamnya. Ia mencoba menumbuhkan harapan di hati wanitanya itu. "Kita tidak boleh kehilangan harapan. Semoga saja hasil tesnya cocok."


Via menganggukkan kepala, lalu menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.


"Kau sudah hubungi Shera, kan?"


"Sudah, Mas. Mbak Shera juga sedang di jalan menuju rumah sakit."


Berselang sepuluh menit kemudian, mereka telah di rumah sakit. Tampak Shera dan Surya telah tiba lebih dulu dan menunggu di lobby.


🌡🌡🌡🌡🌡🌡🌡


Wira dan Surya pun tampak sama tegangnya, meski mereka pandai menyembunyikannya.


Dokter Willy dan juga beberapa dokter ahli lainnya yang selama ini menangani Lyla tampak hadir di ruangan itu.


"Baiklah ... Ini adalah hasil uji pencocokan plasenta Gael. Aku akan membacakannya," ucap Dokter Willy seraya memperlihatkan sebuah amplop berwarna putih. Pelan-pelan ia membuka segel dan mengeluarkan secarik kertas dari sana.


Raut wajahnya pun terlihat sangat serius membaca kata demi kata yang tertulis di dalam kertas itu. Tak ada senyum atau ekspresi apapun terlihat di sana, selain wajah mendatar. Dan hal itu membuat Via kembali dihinggapi perasaan takut. Ia menggenggam tangan Shera dengan erat, bahkan sudah gemetar.


Menyadari ketegangan Via, Shera berusaha menenangkannya dengan mengusap punggung tangannya. "Tenanglah Via ..."


Via mengusap air mata, dengan kepalanya yang sejak tadi menunduk. Ia tak memiliki keberanian lagi untuk menatap Dokter Willy.


"Bagaimana, Wil?" tanya Wira tak sabar.


"Kalian tegang sekali, santailah sedikit!" ucap Dokter Willy membuat Wira dan Surya saling melirik. Ketegangan semakin terlihat jelas di wajah mereka.


"Bagaimana hasilnya?" Sekali lagi Wira dan Surya bertanya.


Seulas senyum pun hadir di wajah sang dokter. Ia menatap empat orang di hadapannya bergantian. "Selamat, hasil tes menunjukkan tingkat kecocokannya 90 persen. Stem cell Gael memiliki antigen yang cocok dengan Lyla. Sehingga bisa menjadi pendonor."


Via dan Shera membeku, hanya air mata yang mengalir di wajah masing-masing, begitu pun dengan Wira dan Surya. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan kebahagiaan mereka sekarang ini. Harapan kesembuhan Lyla pun semakin besar.


"Apa artinya pencangkokan bisa segera dilakukan?" tanya Via dengan gurat kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.


"Tentu saja, tapi tetap harus melalui beberapa prosedur. Yang paling penting adalah tetap menjaga kondisi Lyla tetap stabil sebelum dilakukan metode ini."


Via dan Shera tak dapat lagi menyembunyikan kebahagiaannya. Mereka berdiri dan saling memeluk satu sama lain.


"Terima kasih, Via ... Kau sudah membawa mukjizat untuk Lyla melalui Gael," ucap Shera. Ia mengusap wajah wanita muda yang telah dianggapnya bagai adik itu. "aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih." Setelahnya ia kembali memeluk dengan erat. Begitu pun dengan Wira dan Surya yang saling memberi selamat dengan pelukan singkat.


🌡🌡🌡🌡🌡🌡🌡🌡🌡


untuk yang penasaran dengan Om Gun



kalau ini anaknya om gugun yang sableng dan nyebelinπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡