
Jika Shera sedang meratapi penyesalannya yang dalam, maka Via sedang dilanda dilema besar. Duduk di bibir tempat tidur, wanita itu mengusap air matanya yang berguguran. Mengingat permintaan Shera yang baginya sudah sangat keterlaluan. Setuju untuk menjadi pendonor Lyla, namun menuntut sebuah syarat yang berat.
Ia melirik Lyla yang berada di sudut ruangan itu, yang kini sedang bermain dengan beberapa boneka kesukaannya. Dalam hati ia bertanya, mengapa Lyla tidak terlahir dari rahimnya. Mengapa harus dari seorang ibu seperti Shera.
Tepukan lembut mendarat di bahu, yang akhirnya membuyarkan lamunan wanita itu.
"Sayang ..." Wira duduk di sisinya. Tangan laki-laki itu terulur menghapus cairan bening yang membasahi wajah istrinya, dengan senyum yang kini selalu terlihat di wajah tampannya.
"Mas, apa aku egois kalau aku menolak permintaan Mbak Shera?" lirihnya. "aku tahu dia ibu kandung Lyla. Dan aku tidak berhak menjauhkannya. Tapi aku yang membesarkan Lyla. Dia tahu apa tentang Lyla selain melahirkannya."
Wira menggelengkan kepala pelan. "Tidak, Sayang ... kau berhak untuk keberatan. Karena Lyla anakmu."
"Dia menginginkan Mas Wira kembali sebagai syarat untuk menjadi pendonor Lyla. Apa Mas Wira akan memenuhi keinginannya?" Ragu-ragu Via bertanya. Walau bagaimana pun sebagai istri, ia tetap memiliki ketakutan jika Wira atau pun ayah mertuanya akan menuruti keinginan Shera.
Mendengar pertanyaan itu, Wira segera merangkul Via dan menyandarkan di bahunya. Ia kecup ubun-ubun wanitanya itu dengan sayang. "Tidak akan. Tidak apa-apa kalau Shera tidak mau menjadi pendonor Lyla. Bukankah kita masih punya cara lain?"
Via mendongakkan kepala, menatap suaminya itu. "cara lain?"
"Iya. Masih ada jalan lain. Dokter Willy pernah bilang, ada banyak cara yang bisa ditempuh. Bisa juga melalui plasenta adiknya Lyla."
"Plasenta?" tanya Via dengan alis mengerut. Namun, pikirannya yang kalut membuatnya salah mengartikan ucapan suaminya itu, sehingga air matanya jatuh berderai kembali. "Apa artinya Mas Wira harus punya anak lagi dengan Mbak Shera, begitu?"
Wira menganga tak percaya mendengar ucapan Via yang baginya tidak masuk akal. Mana mungkin dirinya mau kembali pada Shera setelah semua yang terjadi. Wira pun terkekeh pelan menyadari kepolosan sang istri.
"Bukan dengan Shera, Sayang ... Tapi denganmu!"
"Aku?"
Tangan Wira kembali melingkar di tubuh sang istri. Ia melirik Lyla yang berada tak begitu jauh dari mereka, seperti hendak memastikan bahwa gadis kecil itu tidak mendengar pembicaraan mereka. "Ya, kau! Kita bisa punya anak lagi, kan?"
"Tapi Evan bilang padaku, akan lebih kuat kalau pendonor saudara kandung?"
Wira memutar bola mata pertanda kesal, ketika mendengar nama orang yang semalam membuatnya terbakar api cemburu.
"Memangnya si Evan itu siapa?" gerutu Wira. "Sayang, kita tidak boleh kehilangan harapan. Semoga saja anak kita nanti bisa menjadi pendonor Lyla."
Mengusap air mata, Via lantas menatap dalam mata Wira. "Mas Wira yakin mau mencobanya?"
"Kenapa tidak? Jadi mulai malam ini, kau harus bisa membujuk Lyla supaya mau tidur sendiri. Jadi kita bisa lebih giat mengusahakan seorang adik untuknya," ucap Wira dengan seringai misterius, yang akhirnya membuat wajah Via merona merah.
Teringat kegiatan panas semalam yang membuatnya harus begadang hingga hampir pagi, sebab Wira bagaikan singa yang sedang kelaparan. Memberi jeda beberapa jam, namun menyerang lagi membabi buta. Pun dengan Via yang membalas dengan cantik, dan akhirnya membuat tenaganya terkuras habis.
Tanpa disadari oleh Via, bahwa permintaan Wira untuk mengajari Lyla terbiasa tidur sendiri hanyalah sebuah kamuflase. Yang sebenarnya, laki-laki itu sedang ketagihan dengan pelayanan Via yang baginya sangat menggairahkan.
Wira melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, yang berarti ia sudah terlambat ke kantor.
"Sayang, aku harus ke kantor. Aku tidak mau dipecat karena terlambat," ucapnya dengan tawa kecil setelahnya. Ia kembali melirik Lyla yang masih asyik bermain dengan posisi membelakang. Segera ia mencuri satu ciuman singkat di bibir, membuat Via gelagapan mendorongnya.
"Mas, ada Lyla di sini!"
"Memangnya kenapa? Dia juga tidak melihat."
"Kalau dia melihat, dia akan mengadu pada ayah. Itu kan memalukan." Via mengusap wajahnya yang memerah.
"Iya, iya ...."
*****
Dengan tangan melingkar di pinggang Via, mereka menapaki anak tangga satu persatu. Layaknya seorang istri yang baik, Via mengantar suaminya hingga ke depan pintu. Ia mencium punggung tangan suaminya itu, lalu dibalas Wira dengan kecupan sayang di kening.
Tanpa mereka sadari, Shera yang masih berada di rumah itu memperhatikan mereka sejak tadi. Wanita itu pun teringat masa lalu, ketika dirinya masih berstatus sebagai istri Wira. Bahkan ia tidak pernah memperlakukan Wira seperti Via memperlakukannya sekarang.
Jangankan mencium punggung tangan Wira saat akan berangkat kerja, Shera yang pemalas, malah masih tertidur pulas saat Wira telah berangkat ke kantor. Melihat semua itu, semakin dalam rasa sesalnya.
Kenapa dulu aku tidak melakukan itu? Sekarang Via sudah merebut segalanya dariku. Wira, Lyla, dan keluarga ini. dalam batin Shera.
Via hendak masuk kembali ke dalam rumah, namun langkahnya terhenti saat menyadari Shera ada di sana. Senyum yang menghiasi wajahnya pun perlahan menghilang.
"Selamat! Kau berhasil merebut semuanya dariku. Wira, anakku, dan seisi rumah ini," ujar Shera dengan tatapannya yang tak bersahabat.
Via menghela napas panjang, lalu melirik Shera dengan seulas senyum yang cukup menantang. "Kau salah! Aku tidak pernah merebut apapun darimu. Kau sendiri yang telah membuang keberuntungan mu. Kalau saja kau lebih bersyukur dengan apa yang kau miliki, semua ini tidak akan terjadi."
Tanpa banyak bicara lagi, Via melangkah pergi meninggalkan Shera.
Wanita itu pun segera melangkah keluar menuju mobilnya yang terparkir di depan. Ia duduk di dalam mobil dengan deraian air mata. Bayang-bayang ucapan Tuan Gunawan terngiang kembali.
Apa kurangnya Wira bagimu, Shera? Dia menutup mata untuk semua kesalahanmu. Kau tidak pernah menghormatinya sebagai suamimu. Kau berselingkuh di belakangnya, kau berkeliaran tanpa meminta izinnya, kau berbuat sesuka hatimu. Dan untuk semua itu, Wira menerima sebagai penebus rasa bersalahnya. Sekarang lupakan Wira. Dia sudah menemukan seorang istri yang benar-benar menghormatinya sebagai seorang suami.
******
Hampir larut malam, ketika Shera masih berkeliling dengan mengendarai mobil miliknya. Ia tak tahu harus kemana untuk menghilangkan bayang-bayang kemesraan Wira dan juga Via.
Satu-satunya tempat yang ia ingat hanyalah sebuah tempat hiburan milik teman lamanya, Marco. Namun, saat tiba di sana, ia terbelalak, saat mendapati tempat hiburan itu benar-benar telah rata dengan tanah. Ternyata, ancaman seorang Tuan Gunawan tidaklah main-main.
Hanya karena Marco menghina dan mengatakan bahwa Via adalah seorang wanita malam, ayah benar-benar meratakan tempat ini? Aku tidak percaya ini. Sepenting itu kah posisi Via di keluarga itu? gumam Shera dalam hati.
*****