
Keesokan harinya ....
Di sebuah gedung perkantoran tinggi menjulang, Wira sedang disibukkan oleh padatnya pekerjaan. Menepis kepenatan, ia melirik sebuah foto yang bertengger di meja kerja. Senyum bahagia Via dan Lyla telah menjadi semangatnya. Laki-laki itu tersenyum tipis, meraih bingkai kecil itu dan menatapnya.
Tak lama berselang, terdengarlah decitan pintu yang terbuka dan membuat lamunannya sirna. Wira menoleh ke depan sana, untuk melihat siapa yang berani masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Seketika, senyum tipis yang sejak tadi menghiasi wajah tampannya menghilang, menyadari siapa yang sedang berdiri di ambang pintu. Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan kembali bingkai foto itu ke meja.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk kemari?" tanya Wira ketus.
Untuk pertama kalinya, Shera benar-benar merasakan tatapan tak bersahabat Wira padanya. Wanita itu segera mendekat dan berdiri di sisi kursi dimana mantan suaminya itu sedang duduk. "Wira, aku mau membicarakan sesuatu," ucap Shera melembutkan suaranya.
Wira memutar bola mata pertanda malas. Ia bahkan enggan menatap wanita yang pernah mengisi hatinya itu. "Aku tidak ada waktu untuk bicara denganmu. Jadi pergilah!"
Terkejut mendengar nada bicara Wira yang kembali ketus, Shera hanya mampu menahan air mata. Dulu, ia merasakan betul, betapa Wira sangat lembut memperlakukannya, walaupun cinta Wira tak pernah ia balas. Namun, Wira tetap menghujaninya dengan cinta.
Tangannya terulur, hendak menyentuh bahu laki-laki itu, namun dengan cepat Wira menepisnya. "Jangan sentuh aku!"
"Wira ... Aku tahu aku salah dan aku menyesal. Apa kau benar-benar sudah melupakanku? Aku sudah menyadari kesalahanku."
Bukannya menjawab, Wira malah melayangkan tatapan tajam pada mantan istrinya itu. "Jadi kau kemari hanya untuk membicarakan itu?"
"Wira, aku ..."
"Apa kau sudah lupa? Kau yang memutuskan untuk pergi. Kau bahkan tega membuang anakmu sendiri. Dan sekarang kau datang padaku meminta kesempatan? Apa kau sudah tidak waras?"
Wira berdiri dari duduknya dan hendak melangkah, namun dengan cepat, Shera menabrakkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada Wira. Sungguh di luar dugaan Shera, Wira tega mendorongnya hingga terjatuh ke sofa. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh wanita itu.
"Kau pikir siapa dirimu? Kau bukan siapa-siapa lagi bagiku."
Shera mengusap air matanya yang berjatuhan, Lalu berdiri dari duduknya. "Wira, aku mohon dengarkan aku dulu. Via tidak sebaik yang kau pikirkan. Dia hanya seorang ..."
"Jangan coba-coba menjelekkan istriku di hadapanku!" bentaknya membuat Shera menunduk. "Sekarang keluar, atau aku akan minta petugas keamanan menyeretmu!" Ancaman Wira benar-benar membuat Shera tidak berkutik. Tidak ingin semakin malu, Wanita itu akhirnya memilih keluar dari ruangan Wira, bersamaan dengan Ivan yang juga baru datang.
Ivan bahkan tidak percaya jika wanita yang baru saja keluar dari ruangan Wira adalah Shera.
"Wira, bukankah itu Shera?" tanya nya.
"Iya. Itu memang Shera."
"Dia datang menemui mu? Ajaib sekali ..." Ivan duduk di kursi berhadapan dengan Wira. "Tapi darimana dia tahu kau bekerja di tempatku?"
"Aku tidak tahu," ucap Wira tak peduli.
******
_
_
_
_
_
Selepas meninggalkan perusahaan tempat Wira bekerja, Shera akhirnya memutuskan menemui Tuan Gunawan. Dalam hatinya masih ada keyakinan, jika mantan ayah mertuanya itu masih sangat menyayanginya.
Dan benar, Tuan Gunawan menyambutnya dengan sangat baik, di sela-sela kesibukannya, membuat kepercayaan diri wanita itu semakin meningkat.
"Ada apa Shera? Apa kau butuh sesuatu?" tanya tuan Gunawan dengan ramah.
"Ayah, kapan aku akan menjalani pemeriksaan? Aku ingin segera tahu hasilnya."
"Besok pagi kita akan ke rumah sakit dan melakukan tes," jawabnya.
Iya, Ayah."
"Ayah ..." panggilnya ragu-ragu.
"Ada apa?"
Shera melirik Surya yang berada di meja lain, di sudut ruangan, seolah menjelaskan pada ayah, bahwa ia tidak nyaman dengan Surya yang selalu menatap sinis padanya. Pria paruh baya itu pun memberi kode pada Surya agar keluar dari ruangan , meninggalkan mereka berdua.
"Sekarang katakan ada apa?" tanyanya begitu Surya telah keluar.
"Ayah, aku sudah tahu semuanya. Aku tahu siapa Via. Tapi kenapa Ayah malah membiarkan Wira menikah dengannya. Dia adalah seorang wanita malam."
Seketika raut wajah Tuan Gunawan berubah mendengar ucapan Shera. "Siapa yang mengatakan padamu bahwa menantuku adalah wanita seperti itu?"
Mendengar pertanyaan bernada ketus itu, Shera menunduk malu. "Marco. Dia bilang, Via pernah bekerja di tempat hiburan miliknya. Kenapa Ayah izinkan Wira menikah dengan wanita seperti itu?"
"Marco? Berani sekali dia!" Menghela napas panjang, pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya di kursi. " Dan kau sendiri, katakan apa maksudmu mengatakan semua ini padaku?"
"Ayah, aku ..."
"Kau mau bilang menantuku bukan wanita baik-baik?" Ia cepat-cepat memotong ucapan Shera. "Sebelum kau menilai Via, kenapa kau tidak berkaca pada dirimu?" Shera menundukkan kepala, ketika mendengar nada tak bersahabat itu menusuk ke hati.
Pertahanan yang susah payah dibangun oleh Shera akhirnya runtuh juga. Wanita itu menjatuhkan air matanya. "Aku tahu aku salah. Dan aku menyesal. Tapi aku ibu kandung Lyla bukan Via. Aku juga berhak memiliki Lyla."
"Cukup! Katakan terus terang apa yang kau inginkan!"
Shera mengusap air matanya, kemudian memberanikan diri menatap pria paruh baya di depannya. "Tidak bisakah Wira memberiku kesempatan?"
"Shera, aku memang mengatakan kau boleh meminta apapun dariku asal kau mau menolong Lyla. Tapi bukan hal seperti ini. Kau sendiri yang sudah meninggalkan suami dan membuang anakmu. Bagaimana kau berpikir masih ada kesempatan untukmu? Lihat, sekarang kau datang padaku membawa penilaianmu tentang moral Via? Apa ini?"
"Ayah, tolong ..."
"Aku tahu apa maksudmu datang kemari. Kalau kau tidak mau menjadi pendonor untuk Lyla tidak apa-apa. Itu hakmu. Tapi Wira tidak akan pernah meninggalkan Via."
Tidak ada lagi yang dapat Shera katakan. Wanita itu hanya dapat menunduk malu.
Sedangkan Tuan Gunawan, segera menghubungi seseorang melalui ponselnya.
****
_
_
_
_
_
_
"Tuan memanggil saya?" tanya Surya sesaat setelah memasuki ruangan tuannya. Ia melirik Shera sekilas dengan ekor matanya.
"Aku ingin kau ratakan tempat hiburan malam milik Marco. Berani sekali dia berkata yang bukan-bukan tentang menantuku," titah pria paruh baya itu membuat Shera memelototkan matanya.
"Baik, Tuan. Akan saya kerjakan secepatnya."
"Sekarang tolong antar Shera keluar."
"Baik, Tuan ..." Surya kemudian memberi kode pada Shera agar segera keluar dari ruangan itu.
Setibanya di depan sana, laki-laki itu menghadiahi Shera dengan tatapan tak bersahabat. "Sekarang Mbak Shera tahu seperti apa posisi istri Den Wira di mata tuan, kan? Karena itu, demi kenyamanan Mbak Shera, tolong jangan buat masalah lagi."
Shera terdiam. Wanita itu sama sekali tidak menyangka, bahwa hanya karena Via, Tuan Gunawan sampai meminta Surya meratakan tempat hiburan malam milik Marco.
****