
Via mengusap setitik air mata haru. Wira baru saja memberitahu tentang dirinya yang kemungkinan tengah berbadan dua. Ditatapnya wajah Wira yang kini berseri-seri. Ia dapat melihat kebahagiaan yang besar di sana.
"Apa itu artinya sekarang kita masih punya harapan untuk kesembuhan Lyla?" lirih Via masih menahan air matanya.
"Iya, Sayang."
Wira membelai wajah sang istri dengan sayang, lalu memeluknya erat. Ada kekaguman yang teramat besar pada sosok wanita muda yang menjadi istrinya itu. Tentang Via yang memiliki cinta begitu besar untuk seorang anak yang bukan terlahir dari rahimnya. Ia bahkan lebih dahulu memikirkan Lyla dan mengesampingkan kebahagiaan nya yang akan segera menjadi ibu yang sesungguhnya.
Mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, Via mencari sosok gadis kecil kesayangannya. Namun Lyla tak terlihat di ruangan itu.
"Mas, Lyla dimana?" tanya Via.
"Lyla sedang bersama ibu dan Shera. Sepertinya mereka pergi ke cafe rumah sakit ini," jawab Wira. Ia kecup kening sang istri dalam-dalam. "Oh, ya ... Evan bilang kita perlu ke poli kandungan untuk memastikan kecurigaannya. Aku sudah memberitahu Willy tadi. Katanya, kita bisa ke ruangannya saja begitu kau terbangun."
"Oh, baiklah."
"Tadi aku juga sempat memberitahu ibu dan Lyla tentang kemungkinan kehamilanmu. Dan mereka sangat senang."
Via mengangguk pelan. "Aku hanya berharap ada keajaiban untuk Lyla."
*********
_
_
_
_
_
_
Dengan senyum ramah, Dokter Willy memperhatikan layar monitor sembari menggeser alat di atas perut Via.
"Bagaimana, Wil? Apa Via benar-benar hamil?" tanya Wira menggebu-gebu.
"Sabar sedikit, kenapa?" gerutu Dokter Willy. Rasanya begitu gemas dengan kebiasaan Wira yang selalu tidak sabaran. "Kau sudah mau dua kali menjadi ayah, tapi kelakuanmu tidak berubah!"
"Mau dua kali, artinya Via benar-benar hamil, begitu?" Ia mencengkram kuat lengan Willy, seolah memaksa untuk segera dijawab.
Hal itu membuat Via menarik ujung kemeja suaminya, ketika merasa Wira sangat tidak sopan pada Dokter Willy. Jika bersama Willy dan Marchel, Wira menjadi seseorang yang berbeda. Tak seperti yang selama ini terlihat, dimana Wira adalah seseorang yang sangat dingin.
"Mas ..." panggil Via, namun tak ia gubris. Tatapannya masih tertuju pada layar monitor dimana tergambar jelas sosok janin yang sedang tumbuh di rahim sang istri.
"Wil, aku masih tidak mengerti kenapa bentuk janin berusia di bawah lima bulan itu tidak jelas."
"Apa maksudmu tidak jelas?" tanya Willy dengan kerutan di alis.
"Kadang mereka seperti kacang, kadang seperti cicak dan kadang seperti kecebong."
Ingin rasanya Willy menepuk kepala temannya itu. Ia ingat beberapa tahun lalu, setiap memeriksakan Shera, Wira tidak ada komentar sama sekali selain raut kebahagiaannya yang akan menjadi seorang ayah. Namun bersama Via, Wira seakan menjadi dirinya sendiri. Kadang sedikit bodoh dan banyak bicara.
"Jadi begitu pikiranmu selama ini? Aku pikir kau diam karena kau mengerti."
"Aku mau bertanya, tapi kau kan tahu dulu keadaannya seperti apa."
"Ya, aku mengerti. Tapi walaupun begitu, aku tetap mengucapkan selamat, sekali lagi kalian akan menjadi orang tua," ucap Willy menepuk pundak sahabatnya itu.
Tatapan Willy kembali terfokus pada layar monitor. Pelan-pelan ia mulai menjelaskan. "Saat ini janin sudah berusia enam minggu. Ini termasuk usia rawan dimana kalian benar-benar harus menjaga. Tidak boleh beraktivitas berlebihan yang membuat lelah, dan konsumsi makanan yang bergizi. Pilihlah susu hamil yang tinggi kalsium dan protein," jelas sang dokter.
"Baik," sahut Via.
"Kau ada keluhan apa selama beberapa minggu ini?" tanya Willy, sembari memberi kode pada seorang asistennya agar membantu Via terbangun dari pembaringan, saat pemeriksaan USG selesai.
"Tidak ada, Dokter. Hanya saja aku merasa sedikit lemas dan malas bangun di pagi hari."
"Itu normal di awal kehamilan, namanya morning sickness, biasanya dibarengi mual."
"Baik, aku mengerti."
Via dan juga Wira sudah duduk di sebuah kursi, mendengarkan dengan antusias beberapa penjelasan Dokter Willy seputar kehamilan di trimester pertama.
****
Selepas berkonsultasi dengan Dokter Willy, Via dan Wira keluar dari ruangan itu. Dari kejauhan terlihat ibu berjalan mendekat bersama Lyla dan Shera, juga seorang pengasuh Lyla yang sejak tadi mengekor di belakang mereka.
Via tersenyum lega, walaupun Lyla belum bisa menerima Shera sepenuhnya, setidaknya kini gadis kecil itu sudah tidak begitu takut pada ibu kandungnya itu.
"Bundaaa ..." sontak Lyla memanggil, saat melihat bunda kesayangannya keluar dari sebuah ruangan. Setengah berlari, ia menuju tempat dimana Via berada.
"Sayang, jangan lari. Nanti Lyla jatuh," ucap Via, mempercepat langkahnya dengan merentangkan tangan.
Dipeluknya dengan erat tubuh putri kecilnya itu. Mengusap rambut, punggung, dan memberi kecupan di wajah. Mendapati pemandangan itu, Shera hanya dapat menarik napas dalam, saat menyadari betapa besar kasih sayang Lyla pada ibu angkatnya itu.
"Bunda tadi kenapa?" tanya Lyla khawatir.
"Tidak apa-apa, Sayang ... Bunda cuma sedang lelah," jawabnya dengan seulas senyum, seakan ingin membuktikan pada Lyla bahwa ia baik-baik saja.
"Lyla sayang Bunda. Jangan sakit, ya Bunda."
"Tidak, Sayang." Via hendak menggendong Lyla, namun Wira menahannya.
"Willy bilang, jangan mengangkat beban berat. Biar aku yang menggendong Lyla."
"Tidak apa, Mas. Lyla tidak berat."
"Jangan ... Lyla sama ayah saja, ya?" tanyanya dan segera dijawab anggukan oleh Lyla.
Di sana, ibu mempercepat langkahnya. Senyum penuh harap terlihat di wajahnya. "Bagaimana hasil pemeriksaannya?"
"Positif, Bu ... Via sedang hamil," jawab Wira dengan senyuman bahagia. Seakan tak peduli pada Shera yang berdiri di belakang ibu.
Wanita paruh baya itu pun memeluk menantunya, sebagai bentuk rasa bahagia. "Syukurlah. Selamat, Nak, ibu ikut bahagia," ucapnya, lalu melepas pelukan setelah beberapa saat. Ia mengusap puncak kepala menantunya itu. "kau harus benar-benar menjaga kehamilanmu. Beritahu ibu kalau menginginkan sesuatu."
"Iya, Bu."
Kebahagiaan tak hanya dirasakan ibu, Lyla pun begitu antusias saat Wira berbisik di telinganya, bahwa ia akan segera memiliki seorang adik. Tak henti-hentinya Lyla mengecup wajah bundanya itu.
Melihat interaksi beberapa orang di depannya, Shera terdiam. Tak bisa dipungkiri bahwa dirinya pun sangat berharap Lyla mampu menerimanya seperti halnya Via.
Bayang-bayang perhatian Wira dan ibu saat dirinya mengandung Lyla beberapa tahun lalu terlintas kembali. Betapa mereka sangat menjaganya. Namun, semua telah berlalu dan tak akan pernah kembali.
Shera hanya berharap dalam hati, agar anak Via dan Wira bisa membawa kebaikan bagi Lyla. Dan semoga kasih sayang yang ditunjukkan Via pada Lyla tetap sama, meskipun telah memiliki anak sendiri.
Akhirnya, wanita itu memberanikan diri membuka suara, "Via, apa bisa kita bicara sebentar?" ucap Shera membuat obrolan antara Via dan sang mertua terhenti.