Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Lakukan Sesuatu Biar Bayinya Cepat Keluar!


"Mas, sakit!" bisik Via di telinga Wira.


"Iya, Sayang... Sabar!"ucap Wira memeluk tubuh istrinya.


Saat ini mereka sudah berada di dalam ruang persalinan bersama seorang dokter wanita dan beberapa perawat. Tak tahu harus bagaimana, Wira hanya dapat mengusap rambut dan punggung istrinya itu. Rasanya tidak tega melihat Via sejak tadi mengerang kesakitan.


"Tunggu di sini sebentar, ya. Aku mau menemui Willy."


"Jangan lama, Mas. Aku tidak mau sendirian di sini."


"Iya, tidak lama, Sayang. Aku hanya mau bicara sebentar dengannya."


Wira keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru. Saat tiba di depan, tampak Willy sedang berjalan ke arahnya.


Tanpa basa-basi, Wira langsung melayangkan pertanyaan begitu Willy sudah berada di hadapannya. "Wil, kenapa wanita yang mau melahirkan harus kesakitan sampai seperti itu? Dulu Shera tidak sampai kesakitan begitu, tapi kenapa Via sepertinya sangat kesakitan?"


Tampaknya sang dokter lumayan terkejut karena langsung diberondong pertanyaan itu. Namun ia tetap berusaha tenang.


"Shera kan menjalani operasi caesar, tentu saja tidak akan terasa saat persalinan. Sakitnya baru terasa setelahnya," jawabnya santai.


"Tapi aku tidak tega melihat Via kesakitan begitu! Aku tidak mau tahu, lakukan sesuatu untuk mengurasi rasa sakitnya."


Willy yang melihat kepanikan di wajah sahabatnya segera berusaha menenangkan dengan menepuk pundaknya. "Tenanglah, wanita yang menjalani persalinan normal memang harus kesakitan seperti itu dan itu normal. Via mengalami kontraksi karena terjatuh, tapi tenanglah, semua akan baik-baik saja."


"Kalau begitu cepat kau lakukan sesuatu supaya bayinya cepat keluar! Kau tidak lihat, Via kesakitan sejak tadi."


Willy menghela napas panjang mendengar ucapan Wira yang baginya lumayan bodoh. "Kau pikir bayi bisa langsung dikeluarkan begitu saja saat ibunya sakit perut?" ujar Willy kesal. "Kita harus menunggu sampai pembukaannya lengkap."


"Pembukaan apa lagi yang kau maksud?" tanya Wira tak mengerti. Ia bahkan sudah terlihat kesal pada Willy yang tak kunjung membantu Via untuk bersalin.


"Kau pernah belajar biologi tidak?"


"Biologi? Pernah, tapi tidak belajar tentang buka-bukaan yang kau maksud."


Sepertinya menjelaskan pada Wira akan butuh kesabaran lebih. Willy hanya dapat berdecak heran. "Pembukaan itu adalah proses membukanya leher rahim per sentimeter sebagai jalur lahirnya bayi. Dihitung dari pembukaan satu sampai sepuluh."


"Kenapa harus seperti itu?"


"Sekarang sudah terbuka berapa?"


Lagi-lagi pertanyaan Wira membuat Willy menahan kesal. Jika sudah berhadapan dengan Wira, maka dia akan kehilangan sisi bijaknya sebagai seorang dokter.


"Makanya jadi suami jangan cuma tahu bikinnya saja. Seharusnya kau sering mencari informasi seputar persalinan dan bagaimana cara menjadi suami siaga!" gerutu Willy.


Ia melirik seorang dokter wanita yang sedang menemani Via di dalam sana dan memberi kode, wanita itu pun menaikkan lima jarinya yang berarti sudah terjadi pembukaan ke lima.


"Sekarang baru bukaan ke lima. Persalinan pertama pada umumnya terjadi pembukaan setiap dua jam. Jadi perkiraan masih beberapa jam lagi. Paling tidak sekitar delapan sampai sepuluh jam lagi."


"Apa? Jadi Via akan kesakitan selama itu?" Wira bertanya dengan heran. "Kalau begitu operasi saja biar cepat!"


Melihat kepanikan Wira, Willy pun kembali berusaha menenangkan sahabatnya itu. "Tenanglah Wira. Itu hanya perkiraan, bisa saja akan lebih cepat dari itu. Proses persalinan normal memang seperti ini. Jangan khawatir, ini dialami oleh setiap wanita. Lebih baik kau temani istrimu di dalam."


Wira menarik napas dalam, menghembuskannya pelan-pelan. Ucapan Willy membuatnya sedikit tenang.


Diliriknya Bu Retno yang duduk di sebuah sofa, dengan Lyla yang tertidur di pangkuannya. Ia segera mendekat pada wanita itu. "Bu, maaf sudah merepotkan. Aku akan meminta sopir mengantar ibu dan Lyla pulang dulu."


"Tapi bagaimana dengan Via?"


"Tenang saja, Bu. Aku yang akan menemaninya."


"Baiklah, Nak Wira. Kalau ada apa-apa tolong kabari ibu, ya ...."


Wira menyahut dengan senyuman dan anggukan kepala. "Iya, Bu."


Setelahnya, Wira masuk kembali ke dalam ruangan tempat sang istri berada. Via masih duduk di atas pembaringan, terlihat sedang mendengarkan arahan dari seorang dokter wanita. Sesekali ia memejamkan mata sembari meringis, saat sakit di perut terasa tak tertahankan.


Wira pun mendekat, lalu mengusap puncak kepala sang istri. Via masih berusaha mengatur napas dengan arahan dari dokter. Melihat itu, Wira pun menyadari, bahwa perjuangan wanita untuk melahirkan seorang anak tidaklah mudah. Kesakitan dan bahkan kesulitan bernapas. Belum lagi, masa kehamilan dimana Via sulit mencari posisi tidur yang nyaman, sehingga kadang Wira harus terbangun tengah malam, hanya untuk mengusap perutnya.


Mengingat semua itu membuat bola matanya kembali dipenuhi cairan bening. Ia memeluk tubuh wanita nya itu sambil mengecupi ubun-ubunnya.


🌵🌵🌵🌵🌵