AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 95


Sangkin malunya Hery ia sampai menutupi wajahnya.


"Haruskah Yank..?" Hery sangat malu.


"Harus kamu sudah janji, katanya kalau kamu sudah janji gak akan ingkar dan selalu tepati. Mana?" Rena sudah tak sabar.


"Ya ampun Rena sayang.." Keluh Hery.


"Harus.. Harus.. Harus." Rena terus mengulangi ucapannya itu.


"Eeemm sayang aku mandi dulu ya..?" Tawar Hery.


"Gak.. Sekarang sayang.." goda Rena juga, kini ia menambah juga kata Sayang untuk Hery.


"Ya ampun.. Kita mandi dulu ya sayang.. Aku janji pokoknya gak ada yang aku tutup tutupi.. Oke sayang.. Ayo.. Oohh ya aku ada beliin baju yang kamu suka itu looo.." Hery berusaha terus mengajak Rena untuk melakukan hal lain.


"Eeemm oke.. Awas kamu.." Rena menunjuk Hery dendan jari lentiknya.


Rena pun mendahului Hery menuju kamar.


"Huuuhhh.. Selamat aku.. Tapi aku gak jamin abis ini, aku selamat atau gak.." Hery mengelus elus dadanya.


***


Debora kembali ke kamarnya. Ia melihar Roy kini sedang menghisap seputung rokoknya di balkon.


Roy biasanya melakukan itu kalau ia sedang frustasi.


"Roy.." Panggil Debora.


"Eemmm apa lagi?" Roy berbalik dan menatap Debora.


"Gak aku cuma mau santai santai sama kamu aja. Mencium aroma rokok kamu Roy.." Debora dengan santainya ia duduk di samping Roy dan menatap langit malam ini bersama.


Setelah sekian lama baru ini Roy dan Debora duduk bersama seperti ini.


"Debora.. Apa yang kalian rasa ketika hianati seseorang..?" Pastinya adalah pertanyaan yang bodoh yang timbul jadinya.


"Gak ada Roy... Mana ada rasanya..." Debora menjawab jujur saja.


"Cih.. Kalian memang keterlaluan. Dulu kamu sekarang Hery... Kayaknya kalian sangat suka menghianati ya..?!" Roy kini malah menyalahkan Hery.


"Roy yang Hery lakukan itu betul kok. Kamu kan gak bisa tanggung jawab ya dia yang tanggung jawab atas kehamilan Rena. Emangnya kamu mau cowok lain yang tanggung jawab..? Bagus kalau Hery mau kan.. Menurut aku ini baru pekerjaan yang patut di apresiasi. Apa pun kesalahan yang di buat bos di tangani asistennya." Yang Debora katakan memang ada benarnya, tapi jika itu di dunia kerja maka itu tak masalah, tapi ini masalahnya rumah tangga. Sam sekali tidak ada sangkutannya.


"Aku liat Debora.. Hery sangat cinta sama Rena.. Aku kenal Hery dari dulu. Banyak wanita yang mau dekat sama dia, bahkan ada yang tawarinya tidur semalam.. Dan wanita itu siap berikan malam pertamanya pada Hery. Tapi Hery tolak mentah mentah. Bukanya hanya masalah seperti itu yang Hery jauhi, untuk duduk sebangku, sekursi sama dia aja susah untuk para wanita... Tapi tadi.. Hery gak ragu pegang tangan Rena bahkan dia gengam dengan yakin. Makanya aku yakin Hery juga suka sama Rena. Tapi kenapa harus Rena..?" Roy jadinya mencurahkan isi hatinya pada Debora.


"Roy.. Wajarlah.. Hari hari Hery ketemu Rena, sama sama Rena apa gak kepincut juga... Kan aku pernah tanya ke kamu. Yang di kandung Rena itu anak kamu atau anaknya Hery. Siapa tahu kan mereka berdua pernah bercocok tanam tanpa sepengetahuan kamu Roy.. Makanya Hery bisa terima Rena semudah itu kan.." Mempropokasi.


"Mungkin aja.. Aku gak peduli..." Roy beranjak dari duduknya.


"Roy.." Debora menahannya.


"Apa..?" Hanya rela mengatakan itu saja.


"Aku mau minta maaf Roy.. Aku selama ini salah.. Aku hianati kamu.. Aku selingkuh sama John... Aku yang salah. Aku gak masalah anak aku keguguran kemarin Roy.. Tapi aku mohon kasih aku kesempatan sekali lagi untuk perbaiki semua kesalahan aku Roy. Kalau kamu mau aku di rumah aja tunggu kamu pulang kerja aku siap kok, kamu gak mau aku kerja ya oke aku berhenti.. Apa yang kamu minta aku turuti Roy.. Tapi jangan ceraikan aku.." Baru kali ini Debora mengatakan semuanya dengan sepenuh hati.


Debora sedih tapi ia merasa baik baik saja karna kini ia tinggal berusaha mengambil hati Roy lagi. Masalah Rena sudah selesai sampai di sini. Rena akan segera menikah dengan Hery dan itu sudah cukup bukti kalau Rena tidak akan kembali ke rumah tangganya dan Roy.


***


"Hery sayang..?!" Hery baru selesai mandi tapi Rena sudah menantinya dan memanggilnya berkali kali dengan manjanya.


"Ya sayang..?" Hery yang baru selesai mandi dengan seperti biasa, dada terbuka, hanya mengenakan handuk sepinggang, rambut hitam yang basah, aliran kecil kecil air dari lehernya hingga dadanya dan berakhir di handuknya.


"Kamu ganteng banget deh.." Rena tak ragu dan malu lagi memandangnya. Hery tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Entah sudah berapa kali Hery menggelengkan kepalanya. Tapi hanya itu yang bisa ia lakukan menjawab kenakalan calon istrinya ini.


"Cepat sayang..!!" Titah Rena tak sabaran. Ada janji yang harus Hery tepati pada Rena.


"Iya sayang bentar.. Masih cari baju ini..." Hery sengaja melambatkan geraknya dalam mencari pakaiannya.


"Iiss... Lambat... Sini aku bantu.." Rena pun ikut turun tangan. Rena hanya mengenakan jubah kimono, Rena sangat suka kainnya yang Hery pilihkan ini, sangat nyaman karna lembut di kulitnya.


Karna Rena yang mencarikannya baju mau tak mau ia menerima baju yang Rena berikan padanya. "Pakai dan cepat aku tunggu looo.." Rena mengancam lagi.


"Siap bosku.." Hery mencolek dagu Rena.


Hery mengenakan bajunya sambil melirik Rena di tempat tidur yang terus memperhatikan gerak geriknya.


"Cepat..!" Tegur Rena lagi.


"Iya ini tinggal masuk kok.." mau tak mau Hery menepati janjinya itu.


Sudah mengenakan baju, tak ada agi alasan yang bisa ia pakai untuk mengelak dari Rena. Hery pun naik ke tempat tidur bersama Rena yang sudah menunggunya.


"Sudah siapkah sayang..?" Tanya Hery dengan yakin pada Rena.


Rena menganggukan kepalanya dengan sangat yakin. Hery menutup wajahnya karna malu yang ia rasa.


Cup..


Hery mengecup Rena terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa malunya pada Rena.


"Ingat ini.. Aku mencintai kamu sayang.." bisiknya di telinga Rena.


Rena memeluk tubuh Hery yang sangat segar di matanya dan yang ia rasa. Aroma mint yang memenuhi penciuman Rena sangat menggoda. Tak ragu Rena juga menyandarkan kepalanya di bagian leher Hery. Karna sangat tergoda Rena pun mengecup leher Hery itu.


"Aahh.." Hery sangat terkejut dengan aksi Rena yang satu ini.


"Kamu bisa nakal juga ya...?" Hery menangkup wajah Rena dan men**um bibir Rena dengan rakusnya.


Rena dengan cepat melepaskan pengutan itu. "Hery cepat..! Aku tahu kamu itu cuma menghindar aja kan.. Biar gak cepat cepat. Hayo.. Udah janji looo..." Masih tetap pada apa yang ia inginkan juga.


Mau tak mau Hery menuruti apa yang Rena minta ini dan sudah ia janjikan sebelum berangkat ke rumah Roy tadi.


Hery..


Off dulu kawan.. Likenya donk..