
Semuanya kini sudah siap di ruang tengah, tinggal menunggu Olin dan Adel.
"Mana Olin..? Nanti telat lagi.." ucap Hery sambil berkacak pinggang.
"Adel juga.. Katanya jemput Olin.." Bisma juga ikut menimpali ucapan Hery.
"Sabar.. Mungkin ada yang Olin cari.." Rena menengahi.
"Kak..?" Olin turun dari anak tangga dengan ragu ragu.
Adel setia di belakangnya dengan membawa beberapa tasnya.
"O.. Olin..?" Bisma dan Hery bersamaan.
"Astaga.." Rena pun terkejut.
"Olin..." Lirih Bisma lagi.
"Apa aku.. Aku mirip Mama..?" Olin menundukkan kepalanya.
Hery maju ke arah Olin. Mengangkat wajah mungil itu. Matanya tak salah lihat. Llin benar benar mirip Mamanya.
"Lihat siapa ini..? Carolin Mariana. Anak dari Mama Marry. Atau.. Bayangan Mama Marry.." Hery mencubit hidung mancung Olin.
"Eemm kak Hery.." Dengus Olin.
"Kamu betul Her.. Dia.. Dia Mama.." Bisma tak bisa menyangkalnya.
"Gimana.? Betulkan yang aku bilang.." Adel duduk bersama Rena.
"Iya.. Jadi semirip itu aku..?" Olin menatap Hery dan Bisma bergantian mencari jawaban di mata kedua kakak Laki lakinya.
Bisma dan Hery tidak mampu berkata kata lagi karena Olin memang sangat mirip dengan Mama.
Mereka berdua hanya bisa mengangguk mengiyakan bahkan mata Bisma sudah mengeluarkan cairan beningnya.
Melihat kemiripan Olin dengan sang Mama membuat tekadnya semakin besar. Beluk lagi rasa rindu yang di rasakan Bisma keada sang Mama yang semakin manjadi jika melihat Olin.
***
Di salah satu rumah sakti di Jerman seorang wanita yang sudah tidak bisa di katakan muda sedang duduk dan memainkan ponselnya.
Marry tidaklah sakit parah, ia hanya kelelahan dan pingsan di kantornya. Saudara perempuanya ngotot agar Marry di rawat dan di istirahatkan sementara waktu.
Itulah mengapa Marry berada di rumah sakit. Ia tetap menghandle semua pekerjanya dari ponselnya.
"Haaahhh kenapa perasaan aku gak enak.. Jantung aku ini kenapa sih..?" Marry memegangi dadanya.
"Kayak... Aahhh gak ah.. Anak anak aku baik baik aja.." Gumamnya.
Tapi meski sudah menciba tennag tapi rasa itu tetap ada. Akhirnya Marry menghubungi Bisma.
"Aku harap anak ini gak buat ulah lagi.." Yang terpikir pertama adalah Bisma yang selalu membuat ulah.
"Halo.. Bisma.. Kamu di mana..?" Marry mendengar suara di sebrang telponnya.
"Iya Ma.. Ma.. Aku Ade, Hery dan Rena sekarang di bandara.. Kami mau ketemu Mama di sana.. Kenapa Ma..?"
Bisma menatap semua yang ada id hadapannya. Hery, Adel, Rena dan Olin.
"Eemmm ah Mama ini.. Kami mau ke situ.. Makanya Mama rasa begini.. Tenang ya Ma.." Hery menggaruk tengkuknya.
Beberapa saat kemudain Panggilan itu pun terputus.
"Insting Mama benar benar kuat ya sama anak anaknya.." Ucap Hery setelah Bisma menyimpan ponselnya di dalam saku.
"Hmmmmm itulah Mama.."
"Apa yang Mama bilang kak Bisma..?" Olin tentu paling penasaran.
"Mama cuma merasa beda.." Ucap Bisma gak tak di pahami Olin.
"Mama ngarasin kamu Olin.. Tapi dia gsk tahu, rasa yang sekarang di rasa itu dari siapa dan kenapa.. Kamu tenang aja ya.." Olin mengangguk paham dengan pernjelasan singkat Hery.
.
.
.
.
.
.
.
Debora masih kebingungan mencari kabar dari Dion. Sampai saat ini juga Dion belum mengabarinya.
Perasaan Debora juga makin tak karuan, Debora membayangkan yang tidak tidak tentang Dion.
"Jangan jangan dia lagi asik asik sama perempuan lain.. Jangan jangan sama sekretarisnya.. Kayak Roy.."
Banyangan penghianatan Roy yang di pikirkan oleh Debora. Rasa takut di khianati lagi membuatnya parno.
"Isshhh kalau iya.. Dion..." Air mata itu tak bisa di tahannya lagi.
Tiba tiba ponsel Debora berdering. Nama yang tidak ada nama yang tertera di layar ponsel Debora.
"Nomer siapa ini..?" Debora tetap menerima panggilan itu.
"Halo..."
Mata Debora membulat seketika.
"Rumah sakit!!!!!" Pekiknya lagi.
"Dion..? Tolong kirim alamat rumah sakitnya.."
Debora..