AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 328


Flashback On..


"Debora.." Panggil Dion sangat serius.


"Apa..?"


Dion mendekati Debora lagi. Semakin mendekat, semakin dekat.


Clok.


Suara itu membuat Debora terperanjak. Dion memasangkan seal belt Debora.


"Pakai sabuk pengaman.. Keselamatan itu yang terpenting.." Debora jadi salah tingkah. Apalagi bayangan yang ia khayalkan. Debora membayangkan kalau Dion memberinya ciuman panas lagi.


Debora menyelipkan rambut kecilnya di sela telinganya, membuang jauh rasa malunya.


Dion sebisa mungkin menyembunyikan ekspresi senangnya. Sejujurnya ia juga ingin melakukannya juga. Tapi Dion mendapat ide yang sangat bagus, lebih bagus dari pada hanya ciuman panas.


Mobil di jalankan. Kelap kelip malam di kota ini menjadi pandangan Debora. Ia masih ragu untuk menatap Dion. Ragu? Lebih tepatnya malu.


"Apa kamu gak sda yang mau di beli..?" Tanya Dion memecah keheninggan.


"Gak ada.. Kita langsung pulang aja.." Ajak Debora.


"Oke.. Ratuku.."


***


Mobil itu berhenti di pekarangan rumah. Lampu teras rumah itu menyala terang.


"Dion...Kenapa ke rumah kamu..? Kenapa kamu gak antar aku ke rumah Rena..?" Debora mulai menguyuri Dion dengan pertanyaannya.


"Bukankah ada barangmu yang tertinggal..?" Dion mengedipkan matanya.


"Yang tertinggal..? Oohh ponselku.. Ohya aku tadi cash di kamar kamu Dion.." Debora menepuk keningnya.


"Yups.. Ayo.." Ajak Dion.


"Ayo kemana lagi..? Kamu tinggal masuk dan cabut cashnya dan bawa sini ponsel aku.." Cicit Debora.


"Kamu harus ikut juga.. Ayo.. Berani aku tinggal di sini sendiri..? Di dalam mobil sendiri..?" Dion hendak menakut nakuti Debora.


"Eeemmmm" Debora berpikir dan sepertinya ia memang takut mendengar ucapan Dion.


"Iya udah deh.. Ayo.. Aku ikut kamu.." Debora dan Dion akhirnya turun dari Mobil.


Debora melepas sendalnya dan begitu pula Dion. Ia juga melepas sepatunya dan di letakkan di rak sepatu bersama sandal Debora.


"Mana Diana dan Dario..?" Debora melihat sekeliling.


Semua ruangan di padamkan lampunya hanya ada di dapur, dan di area tangga, dan tentu saja teras.


"Diana sift malam dan Dario dia.. Dia bocah bebas.. Dia biasanya ke platinum.. Main biliar.. Paling pulang subuh nanti.." Dion mendekati Debora dan menyemprotkan disinfectant spray.


"Oke..." Debora menganggukkan kepalanya.


"Ayo ke kamar.." Ajak Dion segera menarik tangan Debora.


Ada rasa aneh untuk Debora mendengar kata kamar di lontarkan Dion. Rasanya akan terjadi sesuatu.


Sesampainya di kamar, Dion menghidupkan lampu penerangan. Debora pun mengekori Dion dari belakang.


"Kamu gak mau cuci wajah atau cuci tangan gitu..?" tawar Dion.


"Eeemmm gak perlu nanti aja di rumah" Debora membuka ponselnya. Baterai ponselnya sudah penuh.


"Baguslah.." Lirih Debora, ia mencabut ponselnya dari kabel cashsan.


Tanpa menoleh ke arah Dion yang sudah menunggunya.


Debora terlalu fokus pada ponselnya hingga tak memperhatikan jalannya. Alhasil Debora menabrak dada bidang laki laki.


"Aahhh..?" Debora memegangi keningnya.


"Sakit kah..?" Dion mengusap usap kening Debora juga.


"Aku..." Debora malah terpana melihat kemolekkan tubuh Dion di depannya. Bahkan Debora tak mengalihkan padangannya dari Dion.


"Kenapa sayang..?" Dion mengalungkan kedua tangannya di leher Debora.


"Aku gak liat kamu tadi.. Jadi aku ketabrak.." Cicit Debora.


Matanya tak ingin kehilangan kesempatan langka ini. Menikmati keindahan tubuh laki laki tampan.


"Debora.." Panggil Dion lembut lagi.


"Eeemmm?"


"Aku... Aku.." Dion tak sempat berkata kata lagi. Ia langsung saja memangut bibir Debora dengan rakusnya.


"Eeemmm" Debora bersuara dari balik ciuman yang sempat ia bayangkan tadi. Bahkan tangan Debora meremas dan mencubit lengan Dion.


Tak sampai di sana, Dion mengangkat tubuh Debora dan perlahan ia membaringkan Debora di tempat tidurnya.


"Maaf.. Mungkin malam ini kamu gak akan pulang ke rumah Rena.. Kamu akan tetap bersama aku di ranjang ini.." Dion mengangkat dagu Debora. Memperlihatkan leher putih mulus milik Debora.


Meresapnya dan memberi tanda kepemilikkan.


Leguhan leguhan manis juga terdengar indah di telinga Dion.


"Aku menginginkan kamu sayang.." Bisik Dion lagi.


"Eeemmm" Debora menggigit bibirnya.


Tak ada perlawanan dari Debora. Wanita cantik itu hanya pasrah dan seakan sangat menikmati yang Dion lakukan padanya.


Melihat tak ada penolakkan dari wanita cantiknya, Dion melanjutkan aksinya. Melucu*i pakaian Debora satu persatu sambil terus melakuka pemanasan bersama.


Debora benar benar larut dalam kelembutan yang di buat Dion untuknya.


"Dion.." Panggil Debora setengah mendesah saat Dion mengambil alih seluruh tubuhnya dengan menjalankan lidahnya di bagian itu.


"Eeeemmmhhh..." Dion hanya menjawabnya dengan leguhan jua.


Debora berusaha menyadarkan dirinya, denhan berpikir yang sedang ia lakukan ini tidaklah benar. Tapi di sisi lain, kenikmatan yang di suguhkan Dion membelai tubuh Debora dari atas hingga bawah.


"Nikmati sayang.. Aku milikmu.." Bisik Dion meyakinkan Debora.


"Aaaaahhhh.." Debora kelepasan desa**an kerasnya.


"Gak apa apa sayang.. Gak akan ada yang bisa dengar.." Dion melanjutkan permainannya.


"Benar.. Aku sudah gak ada keterikatan dengan siapa pun sekarang.. Aku bisa.. Bisa..." Akhirnya Debora ikut khilaf dengan permainan Dion.


Debora menekan kepala Dion agar lebih dalam lagi. Rasa rindu akan sentuhan membuatnya menggebu gebu menerima resappan, decapan, dan kelembutan lidah nakal Dion.


Hanya dalam beberapa menit saja setelah Debora yakin, ia pun melepaskan sesuatu yang sudah lama ia tak lepaskan.


"Sayang..." Panggil Dion.


"Dion.. Uuhhh" Debora menarik Dion agar sejajar dengannya.


"Aku mencintai kamu Debora.." ucap Dion dengan yakin dan lantang.


"Ooohhh" Debora memeluk tubuh indah Dion.


Biarlah kamar dengan penerangan itu semakin panas dengan adanya kedua insan yang tengah memadu kasih dan menikmati surga dunia.


Suara suara misterius menemani keduanya. Seperti alunan musik indah di telinga keduanya.


Gerakkan gerakkan yang dirindukan Debora. Dion melayaninya dengan sangat baik. Bahkan Debora sudah unggul jauh dari Dion.


Debora memegangi pinggang kuat Dion yang tengah berpacu dengan keinginan dan hasrat.


"Aarrrggggghhhhhh" Desah panjang Dion merasakan kenikmatan.


"Uhh.. Sstt.. Deboraaaa.. Aaaahhh ssttt.." Dion memejamkan matanya menikmati surganya.


Debora bisa merasakan dengan jelas. Getaran getaran kecil di dalam. Tak terasa ia juga mendesa* seperti Dion.


"Aaahh.." Dion lemas.


"Dion.." panggil Debora.


"Apa sayang..?" Dion berusaha tetap kuat dan berbaring di samping Debora.


"Kamu nakal.." Setengah mendesa* seperti tadi Debora berucap pada Dion.


Dion malah terkekeh dan Debora masuk dalam peluk Dion.


"Kamu milik aku.." Dion mengecup kening Debora berkali kali.


"Makasih untuk malam ini.." Lirih Debora.


"Bukan cuma malam ini sayang.. Tapi malam malam yang akan datang juga akan seperti ini. Hangat dan berkeringat.." Dion terus mengecup Debora tanpa henti hentinya.


Debora pun terlelap dengan cepatdi pelukkan Dion. Hasrat yang menggebu gebu sudah lepas dan pergi entah kemana.


Dion menyelimuti seluruh tubuhnya dan tubuh Debora. Setelah itu ia mengambil gambar di mana ia menciumi ceruk leher Debora. Seolah sedang melakukan 'itu' lagi.


Setelah merasa gambar yang ia ambil cukup, Dion membuka selimut itu sedikit karena ia yakin Debora masih kepanasan akibat ulahnya tadi.


Flashback Off..