
Bisma menatap mata Rafa yang sepertinya penuh dengan kebahagiaan.
Bisma kira mungkin karena ia benar benar tak tersangkut badai dan hujan di luar sana.
"Baiklah.. Tidur yang nyenyak ya.." Rafa mengecup pipi dan kening Bisma seperti biasanya. Menyelimuti Bisma dengam selimut lembut dan hangat.
Setelah Rafa keluar dari kamar Bisma, Bisma tetap tak bisa tidur.. Bayang bayang Aiko menggangunya. Entah apa yang sedang Bisma rasakan. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya.
Ia hendak mencari Maidnya untuk membantunya. Bukannya menemukan sang maid, Bisma malah melewati kamar Aiko. Kamar itu terkunci rapat, tak ada yang tahu apa yang dilakukan gadis cantik itu.
Bingung karena tak menemukan Maidnya, Bisma beralih ke kamar sang Papa. Tapi ia juga tak menemukan sang Papa di kamarnya.
Otak kecil dan polosnya tak bisa membuat spekulasi di mana Papanya berada. Bisma kembali ke kamarnya dengan perasaan gundah dan resah.
***
Saat di tengah malamnya, Bisma merasa haus, ia mencari botol air minumnya tapi tidak ada.
Bisma mendengar dengan jelas kalau sudah tak ada hujan deras lagi di luar sana. Bisma bisa saja memanggil maidnya tapi kalau ia sudah lancar bicara nanti.
Dengan malasnya Bisma kecil bamgun dari tempat tidurnya, keluar dengan pelan, melewati kamar Papanya. Ia membukanya lagi, tetap tak ada sosok sang Papa.
Hati kecilnya memang selalu bertanya, tapi tak berani di ungkapkan dengan kata kata.
Rasa penasaran ada tapi tak berani bertindak.
Bisma tetap menuju tempat tujuan awalnya tadi ya itu dapur. Saat melewati kamar tamu, yang di tempati Aiko. Bisma seperti mendengar suara suara yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
Entah apa artinya karena semua bahasanya menggunakan bahasa negara lain.
"Apa artinya ya..?"
Erangan dan leguhan yang tak bisa di artikan benar oleh Bisma. Ia hanya berlalu menuju dapur dengan botolnya.
"Tu.. Tuan..?" Maidnya terkejut.
"Bisa aku bantu tuan..?" Maid itu terlihat ketakutan saat melihat Bisma kala ini.
"Oohhh ya.. Tunggu!" Maid itu melirik anak tangga.
Segera mengisi botol air minum Bisma dan memberikan segelas air untuk Bisma minum sekarang juga.
Keringat dingin meluncur di pipi Maid itu. Bisma hanya dengan polos dan santai menunggui maidnya.
"Tuan.. Balik ke kamar ya.." Pinta Maid itu lembut pada Bisma. Bisma kecil seperti biasa mengangguk dan pergi dari hadapan Maid itu.
Melewati kamar Tamu Aiko lagi. Bisma meliriknya. Terlihat dari sela bawah pintu, cahaya dari dalam kamar itu masih menyala sepantasnya.
"Mungkin gak bisa tidur kalau gelap." Pikir Bisma kecil.
Saat melewati kamar sang Papa lagi, Bisma membukanya. Tetap tak ada siapa pun di sana. Semuanya juga masih tertata rapi. Bisma hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Papa kerja terlaliu keras.." Cicit hati kecilnya.
Pagi tiba, Bisma bangun sedikit terlambat karena ia lama tak bisa memejamkan mata setelah pulang mengambil air minum.
Bisma menuruni tangga sambil mengucek matanya.
"Pagi.." Sapa Rafa semangat pada Bisma.
Bisma mencoba fokus pada sang Papa. Tapi ada yang menggangu matanya, Aiko duduk di samping Papanya dan menggunakan baju baru bukan baju semalam yang ia kenakan saat tiba di rumah ini. Bisma kira Aiko tak sesiap itu dengan pakaian ganti.
Tapi Bisma tak memikirkannya lama lama dan segera bergabung dengan Papanya dan Aiko.
"Kamu laki laki yang tampan.." Sapa Aiko padanya Bisma kecil.
Bisma hanya mengangguk lagi.
"Dia kan seperti aku.." Cicitt Rafa menyambung ucapan Aiko. Aiko tersenyum manis pada Rafa.
Bisma meneliti baju yang di kenakan Aiko, baju yang sangat terbuka untuk di pakai seorang sekretaris.
Tapi ia tak peduli karena jika di bandingkan dengan Amerika tempatnya, hal seperti itu sudah biasa.