
Adel membungkuk dan melihat kondisi Bisma. Bisma menganggukkan kepalanya.
"Aku gak apa apa Del.." Adel mengangguk juga.
Adel beralih laki laki yang tadi di tinju habis habisan oleh Stuart. Adel membantunya untuk duduk lagi. Setelah laki laki itu duduk baru Adel bisa mengenalinya.
Adel menoleh pada Stuart di belakangnya. "Kamu adiknya dia kan...?" Adel bertanya pada Laki laki yang bersama Bisma itu.
Ia mengangguk membenarkan. Laki laki ini adalah Albert adik Stuart. Pantas saja Stuart langsung menghajarnya habis habisan.
Adel mengangguk paham juga. Ia segera mencari kain untuk menutupi tubuh keduanya. Adel memberi satu handuk hotel itu pada Bisma dan satu lagi untuk Albert.
Bisma masih menahan sakitnya di dada. Albert melihatnya dengan jelas. Albert langsung meranngkul Bisma dalam peluknya, Bisma menangis dalam rangkulan Albert.
Adel hanya menjadi penontonnya saja sedangkan Stuart tak tahan melihatnya, ia ingin maju dan meninju keduanya lagi.
"Stu.." Adel melarangnya dengan menahan Stuart dengannya.
"Biarkan mereka.." Pinta Adel.
Stuart menatap tajam Adel seketika.
"Untuk kali ini aja.. Kalau kamu pukul pukul dan pukul mereka, mereka gak akan jera dan terus buat kesalahan yang sama. Coba bicarakan baik baik sama mereka.. Kenapa mereka berdua berbuat begini.." Adel berusaha memahamkan Stuart.
"Ya.. Kalau Bisma mu bisa.. Tapi Albert.. Dia sudah sering begini.. Katanya kemarin dia mau di rumah tamani Papa.. Tapi ternyata... Dia pergi diam diam dan bahkan tanpa sepengetahuan aku dia di sini.." Stuart sangat kesal.
"Ya kamu tanang dulu.. Nanti kita bicara baik baik dulu.. Tenang ya.." Pinti Adel lagi. Gadis manis ini membuat Stuart semakin kesal dan gemas pada Albert dan Bisma.
"Bisma.. Lihat ini.."
....
***
Setelah puas bermain barulah Roy membersihkan dirinya di kamar mandi. Tentu bersama Nur juga.
"Kamu suka kan sayang..?" Nur sangat menggoda dengan tubuh indahnya. Mungkin ini yang Roy inginkan, wanita cantik dan pintar dalam segela gerakan menggoda.
"Ya aku suka.." Bahkan kini Roy tak malu mengakuinya.
"Nah.. Gitu donk.. Kamu suka gaya yang mana..?" Tanya Nur lagi sambil memainkan senjata utama Roy.
"Kalau pargoynya yang mana..?" Nur semakin menjadi di dalam bathtube ini.
"Yang bisa aku ganggu pake jari.." Sahut Roy lagi.
"Musiknya..?"
"Yang mana aja.." Roy tersenyum nakal.
Mungkin ini yang di bilang 'senangnya dalam hati bila beristri dua..' Yang satu sedang halangan, yang satu siap.
"Pertahankan bentuk tubuh ini ya.. Aku suka yang begini..." Roy memainkan yang sejak tadi ia pandangi.
"Oohhh kalau yang kamu main ini makin besar boleh kah..?" Nur sengaja membawa tangan Roy yang satunya lagi kedalam air dan di dalam yang lembab lembab itu.
"Oouuhh.. Lebih besar.. Eeemm boleh juga.. Ini aja sudah besar kok.." Roy sanyat suka.
"Aku juga suka.."
***
"Sayang udah belum..?" Hery sangat tak sabaran.
"Ya sayang sebentar.." Ucap Rena dari dalam kamar mandi.
Rena sedang melakukan tes kehamilannya. Apakah ia hamil ataukah belum saja.
Hati Hery semakin menjadi, kakinya tak bisa diam, jari telunjuknya di gigitnya keras keras.
"Ayolah sayang.. Aku mau tahu hasilnya.." Ucap Hery lagi.
Tak ada jawaban dari Rena di dalam sana. Hery mulai mondar mandir tak tenang.
"Sayang kamu di toilet kan..?" Hery sangat berisik di luar kamar.
"Ya aku di toiletnya kenapa..?" akhirnya Rena menjawab panggilan Hery.
Braaakkk..