
Rena mamandangi Roy dengan air mukanya yang sedih, istrinya yang tersayang tak ingin berbicara padanya, padahal Roy sangat ingin membelai Rena dan mengelus perut Rena tempat sang buah hati tumbuh saat ini.
Hery pun sama memandang Roy dengan tatapan kasihan, Hery pun memilih pergi dari tempat itu dan membiarkan suami istri itu menyelesaikan masalah mereka.
Kini Rena duduk di brankarnya dan Roy duduk di kursi besuk. Roy tak berani mendekati Rena lebih. Tiba tiba Hery masuk lagi ke dalam ruangan Rena. Sontak Roy dan Rena menoleh ke arah Hery.
"Kenapa kamu balik lagi?" Ucap Roy melihat Hery masih di rumah sakit itu.
"Iya rencananya tadi aku pulang tapi di depan ada dokter Lina, aneh pastikan kalau aku pulang dan tinggalkan kalian berdua, Lina pasti curiga." Ucap Hery lagi. Tadi Hery sudah sampai di depan rumah sakit, tapi seperti yang Hery bilang ia bertemu dengan Lina, karna takut Lina tahu yang sebenarnya Hery masuk lagi ke dalam rumah sakit dan kembali ke ruangan Rena.
"Oohh begitu..." Ucap Rpy paham akan kondisi Hery, karna Roylah yang mengatakan Rena adalah pacar Hery dan tengah mengandung anaknya Hery.
"Lina? Siapa Lina?" Tanya Rena juga ingin tahu.
"Lina adalah dokter yang menanganimu, dia adalah teman aku dan Hery waktu di SMA." Ucap Roy dan Rena masih mau menndengarnya.
"Lalu.. Kenapa Hery tidak boleh pulang kalau Dokter Lina adalah teman kalian?" Rena masih tak paham.
"Begini sayang." Roy meraih tangan Rena dan menggenggamnya. "Tadi saat selesai menanganimu, Lina bertanya siapa nama pasien dan apa hubungan kami berdua. Aku asal menjawab dan mengatakan kamu adalah pacarnya Hery yang sedang mengandung anaknya. Aku tidak bisa langsung mengatakan kalau kamu adalah istriku sayang, makanya aku berbohong dulu, nanti jika semua yang aku persiapkan selesai, aku janji aku akan memperkenalkan kamu sebagai Nyonya Filip." Ucap Rpy masih mengenggam tangan Rena.
Rena mengalihkan pandangannya ke arah Hery yang masih berdiri di tempatnya dan Hery hanya mengangkat bahunya tak tahu karna memang Roylah yang berkata demikian.
Dengan sekuat tenaganya yang masih ada Rena menarik tangannya dari genggaman Roy dan memasukan tangannya itu ke dalam selimutnya. Roy lagi lagi tidak dapat menolak apa yang Rena lakukan karna tak ingin Rena kembali tak stabil, secepatnya Rena harus keluar dari rumah sakit ini agar Roy bisa leluasa menjaga Rena di apartemennya.
"Baiklah aku akan pulang ke rumah Hery saja besok." Ucap Rena tanpa memandang kedua laki laki di depannya.
"Hah?" Ucap Roy dan Hery bersamaan tak percaya apa yang Rena ucapkan.
"Gak dengar? Aku akan pulang ke rumah Hery sesuai permintaanmu Roy." Ucap Rena semakin sakit hati Roy masih takut membuka hubungannya di depan orang orang dekatnya padahal kini Rena sedang mengandung anak Roy. Seharusnya Roy tak melakukan itu.
"Rena apa yang kamu katakan?" Roy bangkit dan menangkup wajah Rena.
Rena dengan matanya yang sudah tak tahan menahan airmatanya pun tumpah membasahi pipi Rena. Roy juga langsung panik melihat Rena malah menangis dalam diam seperti ini.
"Kamu bilangkan aku pacarnya Hery berarti setelah ini aku akan pulang ke rumah Hery dan anak ini adalah anak.." Roy mencium bibir Rena dan menghentikan ucapan Rena yang tak ingin di dengar Roy, Roy tahu sekarang apa kesalahannya. Seharusnya Roy dengan segera menceraikan Debora dan menempuha hidup barunya dengan Rena.
"Sayang dengar, aku akan segera menceraikan Debora dan setelah itu barulah aku akan mengakui hubungan kita sayang, jangan berpikiran macam macam sekarang, cukup kamu pikirkan anak kita yang akan tumbuh sehat di sini." Roy menyentuh perut Rena dan meyakinkan Rena sebisanya.
Oke sekarang Rena mengerti. Yang Roy lakukan tidaklah salah, jika Roy mengatakan hubungannya pada Dokter itu maka dirinya akan di cap sebagai Pelakor di dalam hubungan Debora dan Roy. "Ya mungkin harus seperti ini dulu." Ucap Rena dalam hatinya dan menundukkan kepalanya.
Roy melihat Rena yang pasrah dengan apa yang baru saja Roy katakan dengan segera memeluk wanita yang sangat ia cintai ini.
"Secepatnya ya Rena sayang.. Sabar.. Aku hanya untukmu.. Dan anak ini akan tumbuh dengan sehat bersamamu." Roy terus mengelus elus perut Rena yang masih rata itu.
"Ya sayang aku tahu kamu gak salah... Maafin aku ya... Aku tadi marah marahin kamu.. Maaf.." Roy juga menangis sembil terus memeluk Rena dan keduanya secepat itu berbaikan.
Sementara itu Hery hanya menjadi penonton drama romantis di depannya dengan terus memijit keningnya.
"Tuhan.. Kalau Engaku tidak segera mendatangkan jodoh hamba maka keluarkanlah hamba dari ruangan ini."
Dari tadi Hery hanya menjadi saksi betapa kedua insan di depannya saling mencintai sedangkan dirinya masih tidak kelihatan hilalnya.
***
Kini Lina sedang memeriksa Kondisi Rena, Hery dengan setianya dari semalam bersama pasangan ini.
Roy dan Rena tidur di brankar bersama dan Hery tiduran di sofa layaknya tamu tak di undang.
"Nyonya kondisinya membaik, janinnya juga sehat sudah boleh pulang ya.." ucap Lina dan menghampiri Hery dan Roy yang berdiri jauh dari Rena dan Lina.
"Her.. Ini daftar susu susu yang bagus untuk pacarmu, dan ini vitamin yang harus kamu beli jangan sampai putus vitaminnya ya. Ingat jaga kondisinya jangan membuat pacarmu lelah dengan ranjangmu. Anakmu masih sangat rapuh." Lina langsung saja menaruh kertas itu di dada Hery dengan kecang sampai tubuh Hery mundur sedikit sementara Hery melamun tak berdaya mendegar ucapan Lina yang tak pernah ia lakukan. Karna sudah biasa seperti itu pada kedua temannya ini maka Lina merasa biasa saja melakukan itu pada Hery.
Hery hanya terdiam seperti orang bodoh dan memegangi kertas itu. Setelah Lina keluar dari ruangan itu maka Roy dengan cepat mengambil kertas dari tangan Hery.
Hery masih dengan tangannya yang seperti tengah memegangi kertas di tangannya pun keluar tak ingin berlama lama menonton film romatis itu lagi di lagi hari seperti ini. Kasihannya kamu Hery.
Roy menghampiri Rena yang kini tak ada lagi selang infus yang menempel dengan kulitnya beberapa jam yang lalu. Rena memegangi tangannya yang masih mengilu ketika perawat melepaskan selang infusnya.
"Sakitkah sayang.." Roy mengelus Tangan Rena juga.
"Iya dari dulu aku gak pernah yang namanya di rawat di rumah sakit apalagi di infus seperti ini, jadi rasanya sakit." Ucap Rena sambil memperhatikan tangannya sendiri.
Roy meraih tangan Rena keduanya dan mengecupnya dengan lembut. "Aku janji kamu gak akan merasakan sakit ini lagi" Roy mengecup juga kening Rena.
"Ayo kita pulang, pasti Hery sudah menunggu kita berdua di mobil, kasian dia." Ucap Roy sedikit menghibur Rena dengan menjual nama Hery.
"Heeemm.." Rena dan Roy meninggalkan kamar itu.
Sementara itu hari ini juga Debora mengecek apakah ia berhasil hamil. Debora dengan hati yang khawatir karna takut dirinya belum hamil hamil juga, padahal caranya dan John semala inu tidak ada yang kurang, bahkan John sampai menggunakan obat penyubur dan begitu pulan dengan Debora demi keberhasilan rencana mereka.
Debora mengambil tes pecknya dan pelan pelan membuka matanya dan tes pakcnya ternyata....
selow dulu ya.. jngan laju laju. Mampir juga ke cerita Zino dan Cessa di seblah ya.. Sekarang lagi banyak misteri yang belum terungkap, ikuti ceritanya dan like juga ya.. Kalau susah carinya ketik aja Nama Author, Yuresia ca, pasti keluar deh novel novel author dan ada juga novel baru author yang masih di acc sama Editor, baca juga ya judulnya Mengubah takdir: Dendam 100 kilogram. Mampir dan baca ya..
maaf ya udah panjang, sisain buat besok lagi... hahahaa