
Roy menundukan kepalanya. Sebenarnya ia tak ingin semua ini terjadi tapi ia pikir pikir Mungkin ini jalan terbaik yang bisa ia tempuh.
"Terus Her.. Pacarmu itu ada di mana sekarang.. Di rumahmu kah...?" Eyanga makin semangat mencari tahu.
"Gak Eyang dia apartemen... Hery gak bisa bawa dia ke rumah." Hery tak habis habisnya menjulidti Roy dalam hatinya Dan tatapannya tak lepas Dari Roy.
"Ooohh.. Secepatnya kamu bawa dia ke rumahmu ya... Kasian dia tinggal sendiri.. Apalagi dia lagi hamil, mungkin aja kan tiba tiba dia perlu kamu..." Eyang sangat khawatir.
"Iya Eyang secepatnya Hery bawa..." Roy mengangguk anggukkan kepalanya membiarkan Hery menjawab semua pertanyaan Eyangnya.
"Berapa umur kandungannya Hery...?"
"4 bulan, 2 minggu.." Kini Hery melotot pada Roy.
"Oohh berarti tua sedikit dari kandungan Debora.." Eyang tampak senang.
"Oohh ya Eyang betul itu.. Mereka beda dikit aja. Eeemm Eyang nanti kalau Hery dan pacarnya sudah nikah, mereka harus tinggal di rumah ini juga ya, jadi yang Eyang jaga banyak.. Ada Debora dan kandungannya ada lagi tambahan istri Hery dan kandungannya. Nantikan banyak deh cicit cicitnya eyang..." Roy tak kurang akal juga.
"Wah betul itu.. Hery mau ya..." Bujuk Eyang lagi pada Hery yang pasti ujung ujungnya Hery lagi yang akan kerepotan.
"Hahahaha.. Nanti Hery tanya dulu sama dia, apa dia mau. Takutnya dia gak mau, dia juga pasti gak terbiasa kan Eyang.. Kan lagu hamil tuh... Perlu nyaman dan tenang..." Jawab Hery asal saja dan tentu saja terdengar Aneh.
"Ya Her... Kamu dulu juga gk terbiasa sama Eyang.. Tapi sekarang kamu sudah kayak cucu Eyang juga kan.. Ya gitu juga istri kamu nanti.. Eyang yakin dia pasti mau.. Kan ada Debora juga calon mama muda di rumah ini... Wah pasti Serh Her.. Bujuk dia ya nanti.. Untuk acaranya kamu serahkan saja sama Roy.. Semuanya akan di tanggung Roy. Percayakan sama dia ya.." Hery ingin tertawa mendengarnya dan hanya bisa menahannya.
Sejarah baru sepertinya jika seorang suami menikahkan istrinya lagi dengan asistennya sendiri dan di semua biayannya ia yang tanggung.
"Iya Eyang... Jangan lupa hadiah pernikahan Hery ya.." Hery mengedipkan matanya. Padahal kedipan mata itu untuk Roy.
"Hahahaha... Hery.. Tentu saja ada donk.. Masa untuk cucu yang ini gak ada hadiahnya.. Oohhh siapa nama calom istrimu itu.. Boleh Eyang tahu...?" Hery melihat Roy yang menganggukan lagi kelapanya maka yakinlah Hery menjawab.
"Rena.. Namanya Rena Giren.." Hery tersenyum puas.
"Wah nama yang cantik.. Apa dia juga cantik..? Bagaimana keluarganya Hery...?" Kecerewetan Seorang Eyang telah muncul.
"Eemm Rena yatim piatu Eyang.. Dia gadis yang cantik, baik, dan pintar masak juga, aku sering di masakan makanan yang Enak sama Rena. Kalau aku mau berangkat kerja dia setiap pagi juga masakan aku sarapan kata dia biar aku semangat kerjanya. Dan masakannya itu enak banget Eyang..." Roy membelalak matanya tak percaya Hery tahu sebanyak itu tentang Rena. Karna itulah yang biasanya Roy dan Rena lakukan.
Rena selalu memasakan Roy sarapan di pagi hari dan masakan Rena itu sangatlah enak.
"Apa Hery dan Rena juga melakukan itu di ponselnya belakang aku.. Atau Hery hanya menceritakan apa yang aku ceritakan padanya...?" Roy mulai menduga duga.
"Wah... Beruntung sekali kamu Hery.. Ya Eyang doakan kalian cepat bersatu dalam ikatan pernikahan. Roy.. Cepat kamu siapkan pernikahan Hery ya.. Eyang gak mau tahu. Pernikahan Hery harus semegah pernikahan kamu sama Debora ya... Kelihatannya Hery sudah gak sabar..." Goda Eyang pada Hery yang menahan tawanya seakan sudah tak sabaran.
"Eh iya Eyang Roy akan siapkan yang terbaik untuk mereka.." Roy menjawab dengan Lesu.
***
Perbincangan panjang di antara ketiganya, jika Roy tidak mengatakan jika ini sudah hampir malam maka Eyang akan lupa kalau mereka bahkan belum makan malam.
Setelah makan malam, Hery pun pamit pulang. Roy beralasan ingin mengantar Hery hingga depan rumah padahal Ada yang ingin ia katakan dan tanyakan pada Hery.
"Roy coba bicara yang jelas. Melakukan apa memangnya..?" Hery mengangkat tangannya.
"Apa selama ini kamu juga di masakn sarapan sama Rena di pagi hari saat aku tidak ada...?" Roy mulai curiga rupanya.
"Roy bukankah itu yang pernah kami ceritakan padaku.. Ya aku ceritain balik pada Eyang.. Aku Mungkin pernah juga sarapan dengan Rena mungkin sekali atau dua kali. Tapi itu aku yang memasakan Rena sarapan karna saat itu Rena sedang sakit hati karna kamu... Kami juga pernah makan malam bersama tapi di restoran.." Ungkap Hery untuk menghilangkan kecurigaan Roy padanya.
"Haahh.. Hery.. Ada yang lainnya yang mau aku katakan sama kamu.. Kita bicara di dekat mobilmu aja..." Roy berjalan duluan dan Hery menyusul.
***
Rena mengaduk susunya dengan perlahan. Tatapannya kosong ke dapan, entah sudah berapa lama Rena mengaduk susunya itu, bahkan sekarang susu itu tidak hangat lagi.
Ting tong..
Bunyi bell itu menyadarkan Rena. Rena menoleh dan tak lama kemudian Hery masuk. Rena yakin Hery di minta untuk melihat kondisinya.
Hery datang menghampiri Rena di dapur, Hery melihat dengan jelas ada bungkusan paket yang tadi di pesankan Roy untuk makan siang Rena.
"Rena pasti tidak memakannya. Apa dia tidak kelaparan..?"
"Rena.. Kamu sedang apa..?" Ragu sebenarnya untuk bertanya pada Rena yang terlihat sedang sedih ini.
Rena berbalik dan memegangi susu yang ia aduk aduk tadi.
"Hanya sedang membuat susu..." Ucapnya lirih.
"Apa kamu sudah makan malam..?" Sebenarnya Hery sudah tahu jawabnya pasti belum.
Rena tidak menjawabnya hanya diam dn mengaduk lagi susunya. Matanya memandang lantai dengan tatapan kosong.
Hery menarik nafasnya kasihan. Maka ia maju dan langsung saja mengelus perut Rena.
"Sayang gak laparkah..?" Hery mulai jongkok dan menatapi perut itu.
"Mau makan sama uncle kah.. Uncle pintar masak looo..." terus mengelus berbicara.
Tiba tiba ada tetesan air mengenai Hery. Ia pun mendongak melihat Rena menangis sambil menatapnya yang sedang mengajak kandungan Rena berintraksi.
"Rena..." Hery bangkit lalu mengambil gelas susu dari tangan Rena dan langsung saja memeluk Rena dengan erat.
"Hery... Hiks hiks... Aaaaaaa.." Rena berteriak sesukanya agar rasa sesak di dadanya sirna.
"Aku disini.. Aku disini.. Nangislah.. Aku peluk kok.." Hery mengelus elus punggung Rena dengan lembut dan menghanyutkan.
"Mulai sekarang... Kamu dan anakmu milikku Rena.. Maaf jika aku tidak sungkan lagi padamu..."
Oooo'hhhooooo... Off say... Likenya donk.. Sepi banget..