
Malam dingin ini menemani Rena, Rena melihat ponselnya, sudah menunjukan pukul 10 malam. Jam yang cukup larut. Rena biasanya tidur sebelum jam 10 tapi kali ini sudah lewat jam 10.
Meski matanya tidak mau terpejam atau tanda tanda mengantuk Rena tetap masuk dalam kamarnya dan berbaring. Setelah lama berbaring Rena masih tidak mau tidur.
Ucapan ucapan Hery masih terngiang di telinganya "Eyang ingin aku menikahi kamu yang ia tahu adalah pacar aku..."
"Eyang menderita penyakit jantung, dan bisa kapan saja kambuh, Roy tidak ingin membuat Eyangnya sedih di hari tuannya ini..."
"Jika Eyang terkejut sekali aja maka mungkin itu hari terakhirnya melihat matahari..."
Beberapa kalimat Hery masih menghantui Rena. Rena memejamkan matanya beberapa detik kemudian ia membuka matanya. Tiba tiba semuanya gelap gulita. Rena tidak bisa melihat apa pun di depannya.
"Ah.. Apa ini..? Kenapa gelap semua...? Apa yang terjadi...?" Rena mulai panik.
"Ponsel.. Mana ponsel.." Rena meraba samping bantalnya, seingat Rena ia meletakan ponselnya di sana.
Untung saja ponselnya memang ada di sana, lega melihat cahaya dari ponselnya. Tapi rasa takut akan kegelapan terus melandanya.
"Hery.. Aku harus hubungi Hery.." Rena mencari nomer ponsel Hery di ponselnya, dengan jari jari yang gemetar Rena akhirnya menemukannya juga.
"Aku mohon Hery.. Kamu aja harapan aku." Rena menghubungi Hery, tersambung tapi tidak di terima.
"Ooohhh Hery.. Aku perlu kamu.."
***
Hery baru saja habis mandi dan keluar dengan handuk di pinggangnya.
"Aaahh segarnya.." Hery mengusap rambutnya yang basah.
"Eeehh..." Hery melihat Ponselnya menyala sendiri.
"Rena..!" Hery ingin menerima panggilan itu tapi keburu mati dan Hery menghubungi kembali Rena Secepatnya.
"Hery.. Tolong aku.. Gelap Her..." Belum menyampaikan apa apa Hery langsung keluar dari kamarnya. Tapi saat di ruang tengah, Hery baru sadar kalau dia masih mengenakan handuk bahkan handuknya hampir lepas dari pinggang.
"Astaga..." Hery kembali dam mengenakan celana pendek dan kaos hitam polos.
Sangat aneh mungkin tapi ini keadaan genting maka mau tak mau Hery mencari pakaian yang mudah ia kenakan dan tak memakan waktu lama.
"Halo Rena.. Aku dalam perjalan.. Tunggu di kamar ya.. Jangan nangis oke.." Hery menghubungi Rena dengan telpon yang tersambung dengan mobilnya.
"Aku gak nangis kok.. Tapi kamu cepat ya.." Rena dengan suara sedihnya penuh harapan kedatangan Hery.
***
Roy masuk ke dalam kamarnya dan Debora ia melihat Debora sedang mengenakan skincarenya di depan cermin dan meja riasnya.
"Ahh.." Roy merebahkan tubuhnya dengan kasar ke tempat tidur.
Debora melirik Roy sekejap. Suasana hati Debora juga sedang tidak baik. Sejak perhiasan pilihanya di ambil Eyang dan di nyatakan akan di berikan pada Rena dan Hery, Debora sangat marah dan tak memperdulikan Eyang yang sore tadi sempat mencarinya.
"Senang kamu, rencana kamu berhasil.. Rena dan Hery akan menikah minggu depan. Gak ada lagi yang ganggu kamu kan..?!"
"Apanya.. Roy tadi itu perhiasan aku tapi malah..?!" Debora mengatakan isi hatinya.
"Oohh kamu kesal itu.. Kan itu bisa di bilang rencana kamu juga... Rena dan Hery akan menikah dan mereka pantas mendapat hadiah yang bagus seperti itu.. Roy terus bercicit pada Debora tapi pandangannya tetap pada langit langit kamarnya.
"Roy.. Kamu..!?" Debora semakin kesal.
"Perhiasan itu punya aku, aku yang memilihnya... Ck Eyangmu Roy...!!" Roy tersenyum puas.
"Kalau gitu kamu nanti beli dan pilih barang barang bagis di Mall, terus nanti Eyang ambil deh barangnya.. Ahaha.." Roy lucu sendiri.
Roy mengelengkan kepalanya sambil terus senyum sendu.
***
"Rena.." Hery membuka pintu kamar Rena dan melihat Rena hanya duduk di tengah ranjangnya.
"Hery.." Rena memegangi dadanya.
"Kamu baik baik aja kan..?" Hery menghampiri Rena dan mengelus puncak kepala Rena, dan tak lupa Hery juga mengecup perut Rena.
Hery duduk di tepi ranjang Rena juga dan mengusap wajah Rena yang penuh dengan peluh.
"Aku sudah di sini.. Semua akan baik baik saja." Hery menarik Rena dalam pelukannya, tidak ada penolakan dari Rena dan langsung bersandar pada Hery.
"Kita tidur ya.. Ayo.." Hery mAku embawa tubuh Rena bebaring bersama dalam kondisi masih berpelukan.
Rena sangat erat memeluk Hery. Hery tak masalah dengan hal itu dan malah ia merasa nyaman seperti itu. Tak perlu waktu lama Rena pun tertidur di dalam pelukan Hery.
Dengan penuh kasih sayang Hery mengelus, mencium, menunggu sampai Rena benar benar terlelap.
"Aku ingin setiap malam seperti ini Rena...." Hery ikut memejamkan matanya dan menunggu pagi menyapa.
***
Roy membuka matanya. Silau mentari menganggunya. Tubuhnya terasa begitu hangat, baru Roy sadar kalau ada yang memeluknya.
Debora memeluknya, Roy melepaskan pelukkannya dan duduk dulu di tepi ranjangnya.
"Sampai kapan aku akan seperti ini. Hery... Aku harus minta tolong Hery lagi sepertinya. Aku sadar dari ucapan Debora semalam. Harta.. Semua ini karna harta... Dan yang bisa menolong aku hanya Hery... Dia adalah kuncinya..." Roy turun dari tempat tidur dan membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Ia berencana akan ke rumah Hery dan meminta pendapat Hery tentang rencananya tadi.
***
Rena juga baru membuka matanya dan di sambut dengan dada hangat berkulit putih.
Rena menggadahkan kepala ke atas dan mendapati pemandangan rahang yang tegas dan gagah milik Hery. Rena menjauhkan wajahnya dari bawah dagu tegas itu.
Ia malah melihat bibir indah Hery dan Rena begitu tertarik pada tahi lalat yang menambah manisnya Hery di mata Rena. Selain itu semua, ada yang lebih menarik untuk Rena. Wangi, wangi tubuh Hery adalah yang paling menarik untuk Rena, entah mengapa wangi tubuh Hery bisa membuat Rena tenang, dan nyaman.
Rena tidak ingin banyak bergerak dan membangunkan Hery dari tidurnya mengingat Hery semalam berangkat dari rumahnya di jam larut, pasti Hery membutuhkan istirahat yang cukup.
Rena pun hanya duduk di ranjang dan bersandar di headboar tempat tidurnya. Hery masih telelap bahkan Rena tak malu untuk memandangi wajah manis Hery saat sedang tidur ini.
"Eeeuugghhhhh.." Hery meleguh dan bergerak dari posisinya.
Bukanya memeluk bantal guling atau apa pun di dekatnya, Hery malah memeluk Rena dari perut hingga kakinya. Bukan hanya memeluk Hery bahkan mengecup dari dalam tidurnya. Kecupan itu tepat di perut Rena.
Kehidupan kecik itupun bergerak dari tempatnya. "Eh..?" Sang ibu sendiri terkejut.
"Eeemmhhh.." Hery membuka matanya dan melihat Rena sudah bangun dan duduk.
"Kamu sudah bangun.." Hery juga bangkit dan duduk dengan Rena.
"Maaf ya aku berisik, kamu pasti lelah jaga aku semalaman tadi..." Rena menatap Hery yang masih mengucek ngucek matanya.
"Ah gak kok aku malah senang bisa di andalkan kalian berdua. Hei selamat pagi.. Siapa tadi yang bangunkan Uncle..?" Rena tersenyum melihat kedekatan Hery dengan anaknya meski masih di dalam kandungannya.
"Aku kaget tadi, ada yang bergerak di tangan aku, rupanya,.. dia.. Cup.." Ucap Hery dan langsung mengecupnya.
"I Love You.." tambahnya lagi.
Off dulu say... Like donk.. Makin seru loooo setelah ini...